Elviandri

Di Batas Cakrawala; Punaga-Mahakam


Mengapa di Batas Cakrawala?


Selalu ada makna dibalik sebuah nama, ya begitupun dengan buku ini. Dibatas Cakrawala, yang berkisah tentang sebuah perjuangan dalam perjalanan hidup yang tidak hanya bercerita tentang masa lalu namun juga segala pengharapan untuk masa depan nanti. Saya merasa bahwa saat ini adalah saat-saat saya berada di garis batas hidup setelah dua puluh tahun lamanya mencicipi bumi Allah yang nikmat ini. Dan sudah saatnya saya harus memperbaiki diri kembali dan bersiap melangkah lebih jauh lagi untuk masa depan nanti.


Bertahun-tahun menggeluti dunia literasi dan tulis menulis, maka saya pun tersadar bahwasanya menulis “Novel” adalah sebuah pekerjaan menulis yang tidak mudah. Terlebih novel yang diangkat berbasis riset-riset yang mengedepankan data dan fakta, sehingga tulisan yang tercipta tak hanya sekedar cerita roman picisan dan bualan-bualan belaka.



Saya bercita-cita, menulis tidak hanya sekedar berbagi imaji dan kesenangan yang larut dalam buaian, namun terlebih dari itu ikut pula mencerdaskan bangsa melalui cerita.  



Punaga-Mahakam adalah serial pertama dari novel Di Batas Cakrawala. Anggap saja yang pertama supaya akan terus ada yang ke-dua, ke-tiga dan selanjutnya. Karena terlanjur menggeluti dunia travel writing maka cerita dalam  novel ini tidak akan jauh dari perjalanan.



Setting yang berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain adalah refleksi perjalanan panjang 6 tahun lalu ketika solo backpacking untuk pertama kalinya dari Bogor menuju Karawang- Semarang-Kudus- Demak-Lamongan-Surabaya- Hingga berakhir di Takalar, Sulawesi Selatan.



 Sementara Mahakam, siapa yang tak kenal? Sungai terbesar di Kalimantan Timur yang menjadi jalan penghubung Samarinda dan Melak. Perjalanan panjang menuju “the heart of Borneo” Long Apari, berinteraksi dengan suku dayak Penihing di sepanjang jalan menuju Melak.

.
Dua perjalanan panjang yang pada awalnya tak terlihat batas, namun seketika kuyakini bahwa akan ada “rumah” yang harus dipilih untuk pulang.


Perjalanan di Kudus tentu saja tak akan terlupa jika tidak singgah di rumah @indra dan keluarga yang menjamu dengan begitu ramahnya. Mengintip eksotisme museum kretek dan menara Kudus yang sudah melegenda



Pun juga ketika di semarang. Tentu saja akan terlunta-lunta dalam dingin malam, seandainya bang @welka tidak memberi tumpangan bermalam, dan juga @iwan yang menjemput menuju Tembalang.

Pengalaman singgah di Lamongan dan merasakan kerasnya hidup di Tanjung Perak Surabaya tentu saja tak akan terlupa. Berteman sepi di pelabuhan yang semua manusia terasa begitu asing. Pun ketika harus berebutan tempat tidur di KM Dempo dalam lawatan ke Makassar, terombang ambing di lautan Jawa adalah bagian mozaik yang akan selalu ada.

Hingga di penghujung tujuan, bertemu dengan para petualang peradaban di Pantai Punaga, disanalah akhirnya bersua langsung dengan sosok-sosok inspiratif seperti irsak, rezki, rukman, dan teman-teman SMA Ihsan di Takalar.

Perjalanan selalu menghadirkan cerita, dan karenapun dulu kami tak sempat berfoto bersama, setidaknya tulisan ini bisa menjadi pengingat pertemuan kami di Pantai Punaga. Selengkapnya  ada di Batas Cakrawala serial Punaga-Mahakam. 


Pemesanan klik bit.ly/POSkala2. 

GRATIS Ongkir untuk Pemesanan dua buku. Persediaan Terbatas !
Selamat membaca fellas.
 

 
Cover buku Di Batas Cakrawala-Punaga Mahakam