Elviandri

Di Batas Cakrawala; Aku Pulang


      Langit Bogor nampak masih sayu terlihat. Butir demi butir rinai hujan masih setia menghempaskan dirinya ke muka tanah. Semilir angin pagi begitu kuat menerpa. Hari ini, adalah hari terakhirku di Kota Bogor. Sebentar lagi, aku akan kembali ke tempat di mana aku lahir dan tumbuh besar di lembah Bukit Barisan Sumatera. Ada sedikit rasa haru yang tiba-tiba datang menyeruak, saat mengemas barang-barang untuk yang terakhir kalinya. Kenangan selama kurang lebih empat tahun merantau akhirnya berujung juga disini. 
Satu satunya dokumentasi bersama petualang peradaban di Punaga

Di mana langkah untuk memulai, disanalah akhirnya langkah itu harus pulang kembali. Menyelesaikan semua asa yang telah dimulai, memulai kembali semua asa yang ingin diraih. Kampung halaman adalah rumah tempat kembali setelah perjalanan panjang itu diakhiri. Cukup empat tahun ditinggalkan, dan kini aku pulang ingin membawa perubahan. Aku pulang.
***
Ri, udah siap belum” Suara Hakim dari balik pintu kamar membuyarkan lamunanku.
“ Oh iya kim, sebentar” jawabku ringkas.
Hari ini, Hakim akan mengantarkan aku ke Bandara. Ia adalah teman sekelas sekaligus teman satu kontrakan ku dua tahun yang lalu.
Melewati jalanan Kota Bogor yang kian hari terasa kian macet karena pembangunan yang makin ramai dan juga angkot yang masih bertebaran disana-sini. Dalam perjalanan menuju bandara, tak sengaja aku melihat sebuah buku catatan perjalanan hidup berwarna biru tua yang terlihat sedikit sudah usang. Buku catatan perjalanan yang memuat semua aktivitasku semasa di bangku perkuliahan.
Imajinasiku pun melayang, ketika membuka lembar demi lembar kertas putih yang mulai pudar menjadi kecoklatan. Hingga sampailah aku dicatatan perjalanan ketika di tingkat dua perkuliahan. Satu rumah bersama sebelas orang anak manusia lain dari berbagai pelosok negeri ini yang sekarang aku tak tahu mereka entah sedang ada di mana.
Suasana di dalam Kapal KM Dempo dalam perjalanan menuju Makassar Bersama Wa Ode
Aku pun teringat tentang perjalanan ku di bulan Januari selama dua minggu penuh waktu itu. Penat dengan segala urusan kampus, aku pun akhirnya bisa membebaskan diri ketika musim  libur datang. Setelah Ujian Akhir Semester berlalu, aku mengawali perjalanan panjang menuju Takalar, sebuah kota di Sulawesi Selatan. Menyusuri pantai utara Pulau Jawa, terombang ambing di Laut Jawa, adalah secuil kenangan yang hingga hari ini masih sangat membekas dan tak bisa dilupakan.

Cerita selengkapnya, ada di dalam novel Di Batas Cakrawala Punaga-Mahakam. Pemesanan klik bit.ly/POSkala2. GRATIS Ongkir untuk Pemesanan dua buku. Persediaan Terbatas !