Elviandri

SKALA The Road to Rome (Part 1)




“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
― Pramoedya Ananta Toer
 
Catatan Perjalanan ke Roma yang terangkum dalam buku SKALA The Road to Rome
 


Karena itu pulalah, setiap perjalanan menjadi terasa begitu istimewa karena dituliskan. Karena selalu tak punya cukup banyak uang untuk membeli oleh-oleh, semoga saja dengan cerita perjalanan bisa menjadi hadiah istimewa setiap kembali pulang. 

Lantas ada yang bertanya, mengapa harus Roma yang pertama di bukukan?
Inilah jawabnya.

Saat masih duduk dikelas tiga sekolah dasar, saya tergila-gila ingin menjadi seorang guru geografi. Kegemaran melihat peta, atlas, globe, dan berbagai macam rupa adalah penyebabnya. Hingga menjelang masa putih abu-abu berakhir, sebuah cita-cita “gila” pun dicanangkan, “Saya ingin menjelajah dunia” karena melihat dari peta saja tak cukup. Dunia teramat luas jika sebatas hanya diingat dalam angan. Sebuah cita-cita yang teramat naif memang, bagi seorang bocah ingusan dari daerah pelosok lembah Bukit Barisan Sumatera. 
Ketika Transit di Doha, Qatar tetap menulis selagi bisa

Salah satu kota dari sekian banyak tempat di dunia yang ingin kulihat dengan nyata adalah Roma. Kota dengan sejuta pesona akan peninggalan bangunan klasik nya. Orang-orang yang mencintai sejarah, arsitektur, dan budaya tentu saja tak boleh melupakan kota ini sehingga kucanangkan ia menjadi tempat pertama yang akan kusinggahi di benua Eropa. 

Dari Roma, perjalanan akan kulanjutkan menuju kota-kota lain di Eropa, menjelajah layaknya Ibnu Batuta, Marcopolo, Alexander Agung, dan para penjelajah dunia lainnya dalam buku-buku yang pernah kubaca. Tetapi, tentu saja itu semua masih hanya sebatas impian yang fana kawan.

Namun saya yakin, tak ada gunung yang tak mungkin didaki, tak ada laut yang tak mungkin diseberangi. Bermodal tekad, semangat, do’a, dan usaha, saya yakin bahwa Allah pasti akan mendengar do’a-do’a. 

Sekilas Foto lanjalan di Rome
Hingga ketika masa kuliah satu persatu impian pun tercapai. Mulai dari ingin fokus di bidang Lanskap Budaya hingga bisa merasakan pergantian musim di beberapa negara semenanjung Asia. Singapura, Malaysia, Korea Selatan, hingga Jepangpun akhirnya bisa terjejaki satu persatu. Gemuruh hatipun bertanya, lantas kapan saya akan sampai di Roma?

April 2013, Allah pun menjawabnya. Melalui karya tulis ilmiah yang dibuat bersama dua orang rekan, kami pun diundang untuk ikut hadir mempresentasikan ide kami dalam sebuah forum internasional yang juga dihadiri oleh berbagai mahasiswa dari penjuru dunia di Roma. Dari sinilah, buku ini akhirnya bisa terangkai dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang.

Butuh waktu tiga tahun lamanya untuk merekam dan menulis kembali bait-bait kenangan selama di Roma. Telah mengalami berpuluh kali pergantian alur dan konsep cerita sehingga layak untuk dibaca. Telah mengalami berpuluh kali penolakan dari penerbit hingga akhirnya saya tersadar bahwa proses menulis sama halnya dengan proses menggapai cita, butuh waktu dan tekad kuat yang membara untuk menggapainya.

Buku ini, selain berisi tentang catatan perjalanan selama di Roma, juga dilengkapi dengan beberapa tips panduan merencanakan perjalanan murah meriah, tips backpacking ala mahasiswa, serta berbagai informasi menarik lainnya tentang kota Roma. Semua itu berasal dari pengalaman perjalanan yang dilakukan sendiri dan juga dari beberapa sumber terpercaya. Bukankah sebuah pengalaman tak akan ada artinya jika tidak diceritakan lantas bermanfaat untuk orang banyak?

Akhir kata, terlepas dari masih banyaknya kekurangan, semoga ada banyak manfaat dan hikmah yang bisa di petik dalam buku ini, dari perjalanan langkah seorang manusia yang ingin terus mengukir jejak di alam semesta. Karena perjalanan ini dilakukan pada tahun 2013 yang lalu, mungkin saja sudah banyak perubahan data-data yang terdapat di buku ini. Kritik dan saran, sangat diharapkan untuk perbaikan yang lebih baik di masa mendatang.

*bersambung