Elviandri

Kerinci Sekepal Tanah Surga



Kerinci
Sekepal tanah surga
Sebuah anugerah untuk dunia
Kita sudah sama-sama mengecapnya
O,tanah juita
Pusaka sepasang arwah cinta
Hembusan wangi nafas sejukmu
Menenteramkan hidup insani
(Ghazali Burhan Riodja)

            Sekepal tanah surga, begitulah sang penyair ternama almarhum Ghazali Burhan Riodja menggambarkan keadaan alam Kerinci dalam syair-syairnya. Tak heran memang, Kerinci yang berada di lembah Bukit Barisan mempunyai keelokan pesona alam, sejarah, dan budaya yang tiada tara. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan, jangan mati sebelum ke Kerinci. Sebuah ungkapan yang tidak berlebihan memang, dan untuk itulah kami ingin mengajak pembaca sekalian dalam sebuah safari budaya, mengenal lebih dekat alam Kerinci. Eksotisme budaya berbalut kearifan lokal masyarakat setempat yang hidup selaras dengan alam, menjunjung tinggi nilai adat istiadat namun tetap terbuka dengan perkembangan zaman.
 
Menulis buku ini bagi saya pribadi bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Keinginan untuk menulis tentang Kerinci sudah lama tercanangkan, namun baru ada kesempatan justru saat selesai S-1 di IPB. Salah satu motivasinya saat itu adalah ketika sidang skripsi, salah satu penguji bapak Dr. Kaswanto memberikan tantangan, mengapa tidak menulis sebuah buku dari hasil skripsi mu ini?

Oh ya, benar juga. Apalah gunanya sederet hasil penelitian hanya terpampang di rak perpustakaan. Dari data-data hasil penelitian akhirnya saya rangkailah menjadi sebuah buku berjudul Kerinci Sekepal Tanah Surga. Tentu saja, penjabarannya bukanlha sebuah tulisan ilmiah namun telah disadur menjadi tulisan populer agar enak dibaca. 

Selama masa penelitian, saya menghabiskan waktu hampir tiga bulan untuk berkeliling kerinci. Mencari data sejarah dan budaya yang masih tertinggal. Judul skripsi saya sendiri adalah Studi Potensi Lanskap Sejarah Suku Kerinci di Provinsi Jambi. Jadi, tulisan dalam buku ini bukanlah tulisan opini, namun berdasarkan data-data sebenarnya dilapangan, baik dari wawancara narasumber ahli sejarah, tokoh masyarakat, pemda, dan juga survei langsung dilapangan.

Terbitnya buku ini tentu saja tak akan terealisasi tanpa dukungan banyak orang, keluarga adalah yang utama. Sehingga mengenal alam dan suku sendiri rasanya menjadi suatu yang tak terkira bahagia. Lantas selama ini aku bertanya, selama ini saya kemana saja??

Bertahun-tahun merantau di Bogor, akhirnya mengantarkan saya untuk lebih mencintai kampung halaman sendiri.

Terima kasih tak terhingga, kepada semua pihak yang telah membantu dan memaksa untuk menulis. Terima kasih untuk mu semua yang sudah berkenan membaca, membantu dan mendoakan yang tentunya tak dapat dituliskan satu persatu di blog ini. 
Semoga kebaikan mengalir selalu. amiin.

Dan ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2017. Setelah terakhir menulis di MEI 2015 lalu, sibuk menjadi bapak bapak kantoran. Kini sudah merdeka dengan hidup dan kebebasan yang sangat berarti.

Selamat menulis,

Note: Yang ingin memesan bukunya akan dibuka pre order cetakan kedua juni nanti.