Elviandri

Jelajah Sumatra : Menuju Rajabasa-Lampung (Bagian 1)




            Perjalanan menjelajah Sumatra adalah sebuah perjalanan pulang. Semenjak merantau kuliah di Bogor, sama sekali belum pernah menikmati perjalanan darat Bogor-Kerinci dengan cara singgah di berbagai kota di Sumatra. Niat lama itu akhirnya datang kembali di awal tahun. Setelah melewati masa-masa kuliah, sejenak dahulu ingin mengistirahatkan otak yang penat setelah 4 tahun menempuh pendidikan sarjana + bekerja sebelum lulus, kupikir kemenangan kebebasan ini haruslah kudapatkan.
         Pagi itu, 16 Januari 2015.  Tak lebih dari setengah jam, aku dan Icha rekan seperjalanan kali ini telah sampai di stasiun Bogor. Kereta tujuan Jatinegara telah menunggu di jalur 7. Kami akan transit di Stasiun Duri dan nantinya akan melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Merak dengan kereta lokal Banten Ekspres. Kereta Banten Ekspres atau biasa juga disebut dengan KA Patas Merak adalah kereta api kelas ekonomi AC yang melayani perjalanan dengan rute Merak-Angke. Sebelumnya, jalur ini dilintasi oleh Kereta Api Merak Jaya, namun saat ini kondisinya sudah tidak baik sehingga digantikan oleh KA Banten Ekspres.
            Kereta tujuan Jatinegara akhirnya berangkat pukul 5.20. hampir setengah jam lebih menunggu kereta ini untuk berangkat memulai perjalanan. Tentu saja ini adalah rekor paling lama dalam sejarahku menaiki KRL. Kereta terasa sangat padat. Pengap.
            Kepadatan mulai berkurang ketika sampai di Stasiun Sudirman. Salah satu pusat aktivitas perkantoran di Jakarta. Aku pun bisa duduk kembali, meregangkan otot-otot yang tegang seraya melepas penat kaki yang sedari tadi tak memiliki ruang untuk bergerak sama sekali. Pukul 7.20 kami sampai di Stasiun Duri, bergegas menuju tempat penjualan tiket Banten Ekspress. Namun sayang beribu sayang, nasib baik nampaknya sedang tidak berpihak pada kami hari ini.
           Kereta tujuan Merak yang ingin dinaiki baru saja berangkat sepuluh menit yang lalu. Hal ini pun mengubah segala rencana. Aku sama sekali tak membuat rencana B untuk perjalanan kali ini, karena sudah terlalu merasa yakin akan bisa berjalan sesuai rencana awal. Akan sampai tepat waktu di Stasiun Duri. Mau tak mau, ikhlas tak ikhlas aku pun harus menerima kenyataan bahwa hari ini tak dapat menjadi penumpang kereta ini.
            Setelah bertanya kepada seorang petugas di pintu stasiun dan juga kepada seorang warga, aku dan Icha akhirnya menuju Terminal Grogol. Dua kali menaiki angkot memecah keramaian ibu kota, hingga pukul 8.09 sampailah kami di Terminal Grogol. Namun lagi-lagi kami harus kecewa karena ternyata setelah bertanya kepada polisi yang berada di terminal, kami tak menjumpai bus tujuan Merak sama sekali. Beliau menganjurkan kami agar ke Gambir dan melanjutkan perjalanan dengan naik Damri hingga Lampung.
           Tak ingin berpusing ria, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Untunglah Icha bukan cewe metropolis yang anti makan di terminal, (#terimakasih icha) masakan ibukota sangatlah membantu kami di pagi yang tak berlangit biru. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan dengan naik Kopaja nomor 93, dan tujuan kami jatuh pada Terminal Kalideres, hal ini didasari pada banyak pertimbangan, salah satunya karena jarak yang ditempuh lebih dekat. Melewati jalanan di Jakarta, nampaknya memang tidak terlepas dari sesuatu yang bernama macet. Bus-bus dan angkot berhenti seenaknya naik dan menurunkan penumpang di pinggir jalan tanpa rasa bersalah. Di samping kiri jalan, aku melihat sebuah sungai yang cukup panjang hingga ke Terminal Kalideres.
            Sesampainya di Terminal Kalideres, kami langsung menaiki bus A****i yang berada di barisan paling depan. Tak lebih dari sepuluh menit, bus pun melaju menembus hujan yang tiba-tiba datang rintik demi rintik turun dari langit Jakarta. Jalanan yang macet pun kian bertambah karena banyaknya kendaraan yang berjalan pelan karena licin.
            Bus terus melaju, keluar masuk tol. Dan disinilah aku baru tahu jika ternyata banyak bus yang tidak langsung menuju Merak namun keluar masuk terlebih dahulu ke beberapa terminal di Serang maupun Cilegon. Perjalanan pun menjadi semakin panjang dan tentunya akan lebih lama. Kami pun telat sampai di Pelabuhan Merak dan telat setengah jam dari jadwal yang sudah direncanakan. Kami pun segera shalat dan istirahat terlebih dahulu di mushola terdekat.
            Dari Terminal Merak ke Pelabuhan penyeberangan tidaklah terlalu jauh, cukup berjalan melewati warung-warung sekitar 500 meter dalam waktu 15 menit, sehingga kami pun menolak tawaran abang-abang ojek yang menawarkan jasanya. Setelah membeli tiket seharga Rp 15.000 kami akhirnya masuk ke kapal KM Safira Nusantara yang akan mengantarkan kami ke Bakaheuni. Pelabuhan yang cukup sepi membuat kapalpun harus cukup lama menunggu, kami pun menunggu di dalam kapal hingga 50 menit sampai kapal akhirnya berangkat. Kami duduk lesehan di kelas ekonomi non ac, tentu saja hal ini kami lakukan karena ingin merakyat (padahal karena tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan wkwk). Aku pun masih sangat mengapresiasi Icha, walaupun anak ibukota tapi ia ngga lenje-lenje mengharapkan kemewahan perjalanan, apa adanya, dan sangat mandiri selama perjalanan ini. (Btw doi masih Jomblo, silahkan kalau berminat #sekalianpromosi haha).
            Lautan luas membentang, biru berpadu dengan warna langit yang beriak kecil seolah sedang menari-nari. Ku pandang laut lepas, seraya berucap do’a semoga Allah menyelamatkan kami hingga ke seberang. Aku pun teringat dengan lagu nenek moyangku seorang pelaut yang dulu sering dinyanyikan ketika masih SD.
Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarungi luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai
            Tepat pukul dua siang, kapal pun akhirnya bergerak. Para biduanita bergegas menunjukan kebolehan nya dalam bernyanyi. Musik dangdut koplo memenuhi ruangan yang terasa semakin panas dan gerah. Ini adalah kali pertama aku melihat ada penyanyi di dalam kapal feri seperti ini. Alih-alih sebagai penghibur, aku malah sedikit merasa miris sekaligus prihatin dengan cara para biduanita ini meminta uang kepada penumpang. Terkesan sedikit memaksa dan  caranya pun tidak begitu sopan, beberapa kali aku melihat mereka membangunkan para bapak-bapak yang sedang tertidur dengan cara mengelus kaki lalu bergoyang mengelilinginya. Beberapa terlihat kaget dan langsung pergi meninggalkan ruangan, ada juga yang diam tak bergeming.
Namun lebih banyak yang akhirnya takhluk dan memberi uang karena tidak enak. Kulihat juga beberapa orang tua yang membawa anak-anak mereka memutuskan untuk keluar karena tidak kerasan dengan goyangan yang menurutku memang cukup erotis dan sangat tidak mendidik.
            Aku dan Icha pun memilih untuk ikut keluar dan bergegas menuju dek paling atas yang hanya berisi lima hingga tujuh penumpang saja. Menikmati indahnya Selat Sunda yang menjadi pemisah Pulau Jawa dan Sumatra. Di kejauhan terlihat beberapa pulau kecil yang berdiri gagah diantara lautan lepas. Untungnya, siang ini hujan di Jakarta tak terbawa hingga ke Selat Sunda. Langit tampak cerah, bersih sekali. Angin sepoi-sepoi pun menerpa wajah. Terasa sangat syahdu, sejuk.


Suasana di dalam kapal
            Dibeberapa sudut kapal, terlihat sepasang mudamudi sedang memadu kasih sembari menikmati keindahan karunia Tuhan. Beberapa kapal lain pun terlihat berlayar beriringan melintas. Ini adalah saat-saat yang paling indah dalam hidupku, lahir dan kemudian tumbuh berkembang di daerah berbukit dan gunung tentunya bersua dengan laut adalah saat-saat yang paling indah.  Melihat lautan lepas adalah sesuatu yang begitu langka. Kunikmati saat-saat indah ini, kuhirup dalam-dalam angin segar yang berhembus, lebih dalam, lebih nikmat terasa.
            Pukul 15.50, dikejauhan sudah terlihat menara siger terasa menatap bahagia ke arah kami. Ini adalah pertanda bahwa kami akan sampai di Pelabuhan Bakaheuni Lampung Selatan, gerbang masuk Pulau Sumatra. Bangunan ini sering juga disebut sebagai titik nol Sumatera di selatan karena di bawah kaki bukit tempat menara siger ini beradalah titik awal dan berakhirnya jalan lintas Sumatra. Menara ini diresmikan pada tanggal 30 April 2008 oleh gubernur Lampung saat itu Sjachroedin Z.P. Pembangunan menara ini diperkirakan mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga 15 % dari pengunjung yang datang setiap tahun nya.
Menara siger berada di sebuah bukit dengan ketinggian 110 meter di atas permukaan laut. Pembangunan yang dimulai sejak tahun 2005 dan menghabiskan biaya hingga 15 miliar ini tidak hanya sebagai ikon pariwisata, namun juga menjadi ikon dalam segala hal seperti keagamaan, pendidikan dan lain sebagainya. Menara siger dibangun dengan dasar nilai-nilai budaya Lampung, maka tak heran jika kebanggan masyarakat Lampung ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung khususnya para pendatang yang baru pertama kali datang ke Pulau Sumatera. Ia bukan hanya sebatas bangunan fisik namun juga cerminan budaya dan identitas masyarakatnya.
Cocok jadi pelaut? haha
Tak lebih dari dua jam perjalanan, sebuah perjalanan yang cukup cepat kata pak Darto yang berada di sebelahku. Biasanya akan lebih dari dua jam, bahkan bisa saja sampai tiga hingga empat jam jika sedang ada gelombang. Kami akhirnya sampai di tanah Sumatera. Turun dari kapal, kami langsung menuju terminal yang terletak bersebelahan. Disana, sudah berjejer para sopir dan kernet bus maupun travel yang secara tidak sopan tarik menarik kami agar menaiki kendaraan nya. Kami pun akhirnya memilih bus ekonomi AC Putra Jaya dengan harga 30.000 dengan pertimbangan bahwa ia akan berangkat terlebih dahulu dibandingkan bus sebelahnya yang walaupun hanya bertarif 25.000 namun terlihat masih lengang.
            Perjalanan pun kami lanjutkan menuju terminal Rajabasa, Bandar Lampung. Melewati jalanan khas Sumatera yang dikiri dan kanannya ditumbuhi berbagai jenis pohon dan tanaman. Terminal Rajabasa merupakan terminal yang menjadi gerbang Pulau Sumatera, sama halnya dengan Pelabuhan Bakaheuni. Terminal yang terletak di Kota Bandar Lampung ini berjarak sekitar 92 km dari Pelabuhan Bakaheuni. Terminal Rajabasa merupakan salah satu terminal yang dikenal karena kerawanan dan keangkerannya terutama bagi pendatang baru, karena seringnya terjadi tindak kejahatan mulai dari copet, penodong, jambret maupun perampok. Bahkan terminal ini sempat diisukan menjadi salah satu terminal palig angker di Asia Tenggara.
            Bagi pendatang baru, sebaiknya jangan datang pada malam hari seperti halnya kami saat ini. karena pada malam hari tingkat kerawanan pun lebih tinggi. Untungnya aku sudah terbiasa hidup terminal-terminal dan pura-pura saja seperti orang yang sudah biasa mengunjungi terminal. Ini merupakan salah satu taktik agar tidak terkesan katrok, karena biasanya preman dan para perampok lebih menyukai orang-orang yang terlihat sedang bingung yang akan dijadikan korban. Jangan kan pendatang baru, beberapa teman ku yang juga asli Lampung sempat mewanti-wanti agar kalau bisa jangan sampai di terminal ini malam hari dan sebaiknya naik travel dari Bakaheuni agar bisa diantar sampai tujuan. 
            Seperti yang sudah diduga, sesampainya di Terminal Rajabasa, para tukang ojek dan travel datang silih berganti menawari kami jasanya. Mungkin disinilah letak seram dan angker yang sering dibicarakan orang-orang. Bahkan ada tukang ojek yang sangat memaksa hingga menarik tanganku untuk menaiki ojeknya. Sungguh tidak sopan. Untungnya Rian pun datang menjemput kami dengan mobil Xenia berwarna merah tepat waktu. Kami pun meninggalkan terminal Rajabasa yang terlihat sepi dan kelam.
Selamat tinggal Rajabasa, sampai jumpa kembali.
*bersambung