Elviandri

Golden Sunrise Sikunir di Desa Tertinggi Pulau Jawa ; Sembungan (DIENG PART 4)



6 Desember 2014
Bersimpuh padaNya. (calon bupati Kerinci)
 
            Dingin masih menyelimuti, namun melanjutkan tidur dan melewatkan golden sunrise yang kami tunggu-tunggu bukanlah sebuah pilihan terbaik. Pukul tiga pagi, kami sudah dibangunka oleh Pak Hatrodi untuk bersiap-siap memulai kembali perjalanan pagi hari. Dingin ini sungguh menusuk pori-pori terdalam, membuatku menggigil di dalam bak mobil pick up tanpa atap yang melaju kencang.
            Tujuan pertama kami pagi ini adalah puncak Bukit Sikunir. Yang merupakan salah satu objek wisata favorit wisatawan jika berkunjung ke Dieng. Dibutuhkan waktu 30 menit hingga sampai di gerbang masuk desa, atau sekitar 7 kilometer dari pusat wisata Dieng. Jalanan sudah cukup bagus dengan aspal namun di beberapa bagian masih terdapat beberapa lubang yang menganga di tengah jalan raya ini. Akan tetapi masih cukup nyaman untuk dilalui kendaraan terutama mobil yang sedang kami tumpangi ini.
Bukit Sikunir lebih dipilih oleh banyak wisatawan untuk melihat sunrise karena tidak perlu waktu hingga tiga jam seperti halnya mencapai puncak Prau, cukup berjalan melewati anak tangga mengitari punggung bukit lebih kurang 15 menit maka sudah sampai di puncak Sikunir.  Saat mendekati puncak bukit itu, aku terpana dengan warna langit yang sebelumnya gelap, berlahan-lahan warna langit berubah menjadi terang, kemerahan dan kekuningan. Tak lama kemudian diufuk timur, dengan malu-malu matahari mulai menampakkan diri dengan menawannya, saat inilah momen yang dinanti-nantikan banyak wisatawan baik domestik dan mancanegara.
Sesampainya di puncak Sikunir, hanya beberapa orang saja yang terlihat sudah bersiap menunggu kedatangan sinar matahari yang ditunggu-tunggu sehingga kami dengan bebeas bisa bergerak ke berbagai tempat untuk mengabadikan moment. Namun semakin siang, pengunjung yang datang semakin banyak sehingga memenuhi tempat ini. di puncak ini juga telah disediakan toilet dan juga mushola dadakan yang dijaga oleh seorang petugas. Cukup dengan 3000 rupiah maka petugas akan membentangkan tikar dan sajadah untuk shalat pengunjung yang menunggu sunrise.
Waktu yang tepat untuk menyaksikan golden sunrise ini adalah ketika musim kemarau antara Juli-Agustus karena pada saat itulah langit akan terlihat jernih dan bersih. Asal usul nama dari bukit tersebut di ambil dari kata Kunyit atau Kunir (Sejenis Tanaman Rempah). Dikarenakan ketika pantulan sinar matahari yang muncul di atas bukit membuat tempat di sekitarnya berubah seperti warna kunir ( kuning ). Spontanitas Penduduk lokal pun menyebutnya Bukit Sikunir, nama bukit tersebut bagi masyarakat sekitar sudah di berikan sejak dahulu.
Yang istimewa dari bukit Sikunir ini adalah, ia terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa. Secara administratif Desa Sembungan masuk Kecamatan Kejajar, kabupaten Wonosobo. Salah satu jalur termudah untuk menuju Desa Sembungan melalui Dieng Plateau sekitar 30 menit perjalanan. Berada di ketinggian lebih dari 2.100 meter di atas permukaan laut inilah yang membuat desa ini dikenal sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa.
Konon, menurut penjelasan pak Hartadi, Desa Sembungan ini juga merupakan titik awal kehidupan masyarakat Dataran Tinggi Dieng yang pertama kali dihuni, kemudian menyebar ke daerah-daerah sekitar dan membantuk desa-desa baru yang bermekaran. Dari hasil catatan tertulis diketahui bahwa pada awalnya terdapat 17 rumah pada tahun 1819, namun dengan perkembangan waktu sekarang sudah lebih dari 1.300 jiwa yang menghuni Desa Sembungan. Jika beruntung, pada puncak musim kemarau sekitar bulan Juli atau Agustus pengunjung bisa melihat pemandangan langka ketika berkunjung ke desa ini. Lahan pertanian yang terhampar luas hijau di depan mata akan berubah menjadi putih saat siang hari ketika matahari mulai naik ke peraduannya. Suhu di desa ini bisa berada di bawah 00C sehingga tanaman dan hasil perkebunan menjadi beku.
            Ada perasaan bahagia tersendiri ketika bisa sampai di desa tertinggi ini, ketika melewati gerbang tadi, kami seolah dibuat takjub dengan geliat pariwisata Desa Sembungan, keramahan warga desa dan kreatifitas masyarakatnya yang tinggi maka tak heran jika desa ini memperoleh dua kali gelar desa tujuan wisata terfavorit tingkat provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Disepanjang perjalanan menuju puncak sikunir banyak sekali penjual pernak-pernik untuk oleh-oleh maupun makanan ringan yang terbuat dari kentang.
Di Gerbang Masuk Desa Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa
 
            Penduduk Desa Sembungan yang rata-rata memang berprofesi menjadi petani, menjadikan semua hasil pertanian mereka bisa ikut dinikmati oleh pengunjung, terutama kentang. Bau hangat dengan balutan aroma yang sangat khas tersaji ditengah periuk yang sedang merebus kentang goreng kecil beserta kulitnya. Selain itu, juga terdapat berbagai jenis sayuran serta carica yang menjadi jenis tanaman komoditas utama desa ini.
            Yang membuatku betah berada di desa ini adalah keramahan penduduk dalam menyambut tamu. Ketika sedang berada di jalan, maka jangan segan-segan untuk menyapa, karena pasti penduduk pun akan balas menyapa disertai senyuman ramah keakraban. Suasana kebersamaan dan keakaraban di antara penduduk pun sangat terasa, gotong royong menjadi sebuah ritual wajib yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan penduduk desa.
            Selain bukit Sikunir, di Desa Sembungan juga terdapat Telaga Cebong, yang terletak persis di sebelah pintu masuk dan parkir menuju Bukit Sikunir. Selain digunakan sebagai objek wisata, telaga ini juga dimanfaatkan masyarakat desa untuk mengairi lahan-lahan pertanian mereka yang rata-rata berupa sayur mayor. “Menariknya, di sekitar Telaga Cebong ini masih sering terdengar suara kokok ayam hutan yang menandakan terbitnya matahari”, kata pak Hatrodi menjelaskan. Hal ini tentu saja menjadi sebuah daya tarik sendiri bagi pengunjung.
            Desa Sembungan menurutku menjadi tempat yang sangat nyaman dijadikan sebagai tempat peristirahatan, sebagai tempat untuk melepas penat dengan aktivitas kota, dan tentu saja menjadi tempat yang sangat pas untuk aktualisasi diri, untuk lebih mensyukuri nikmat dan karunia tuhan ditengah alam yang begitu indah, juga untuk memperbaiki kualitas iman. Desa Sembungan adalah sebuah tempat idaman bagi orang-orang yang sedang ingin melihat kebesaran tuhan.


*Bersambung