Elviandri

Catatan Perjalanan Dieng : Kabut Putih di Puncak Prau



                                                                                   
            Kami akhirnya memulai perjalanan pukul 3.30 pagi. Memaksa diri untuk bangun dan bersiap-siap melakukan perjalanan pagi hari menuju puncak Prau. Mas Dolen yang sudah pernah mendaki Prau sebelumnya menjadi pemimpin perjalanan. Di awal perjalanan, kami sempat salah arah jalan. Di persimpangan, seharusnya kami melalui jalur kanan, namun kami tetap lurus mengikuti jalan yang lebih lebar hingga sampai di Candi Drawati. Kami akhirnya memutuskan untuk berbalik ke belakang, aku mnegikuti mas Dolen dan mba Indah karena sudah terlanjur berada di tengah perkebunan untuk melalui jalur pintas. Sedangkan Fauzi dkk berbalik ke belakag. Untuk memutar ke jalan utama. 

            Hampir setengah jam berjalan, aku memutuskan untuk berbalik ke belakang, mencari rombongan yang tak kunjung datang. Cahaya senter pun tak terlihat sama sekali, di depan mas Dolen sudah jauh meninggalkan sementara di belakang tak ada sama sekali tanda-tanda kehidupan. Menyisakan aku sendiri yang berdiri dalam gelap, sunyi, sepi, di kaki pegunungan seperti ini apapun bisa saja terjadi. Sepintas,aku merasa bulu kuduk ku berdiri, merinding kalau-kalau saja ada binatang buas atau makhluk lain yang datang tiba-tiba menerjang. Aku mempercepat langkah, menuruni petak demi petak tanah yang mendadak menjadi tangga pendakian. Sementara hujan pun turun kembali memamerkan sisa-sisa rintiknya yang berseri.
            Aku hampir menyerah, di pertigaan tempat pertama memulai perjalanan, aku tidak menemukan siapa-siapa, aku berfikir nampaknya mereka melalui jalan yang berbeda karena hilang tanpa jejak. Aku pun sudah memikirkan kemungkinan terburuk, jikalau tidak mungkin mengejar rombongan mas Dolen yang sudah jauh berada di depan. Maka kemungkinan nya adalah aku akan menunggu saja di pos pendakian menanti esak hari waktu mereka akan turun. Aku memutuskan untuk pulang kembali ke base camp dengan sisa-sisa semnagat yang ada.
            Ditengah keputusasaan itu, akhirnya aku melihat bayangan kerlap kerliip dari kejauhan, samar-samar cahaya itu berasal dari tengah sawah, kupikir mungkin itu hanya cahaya kunang-kunang namun setelah kulihat lebih dekat ternyata itu adalah cahaya dari lampu senter Dessy. Aku pun mendekat seraya berucap syukur, akhirnya bisa kembali bertemu dengan rombongan. Kami melanjutkan perjalanan sedikit demi sedikit hingga akhirnya bisa bersua kembali dengan mas Dolen dan mba Indah yang ternyata sudah menunggu di pos pendakian 1.
            Trek pendakian cukup terjal di awal-awal, namun akhirnya sedikit lebih landai hingga menuju pos pendakian 2. Menapaki akar-akar pohon, jalanan tanah, becek bekas hujan, dan hutan pinus yang terasa menyegarkan. Di kejauhan terlihat kerlap kerli[ lampu kota yang samar-samar memancarkan auranya tersendiri ditengah kegelapan malam, kecil namun memikat.
            Pukul 6.30 kami akhirnya sampai di puncak 1 yaitu di menara repeater. Dari bawah, menara ini memang menjadi patokan kami agar terus berjalan hingga akhirnya bisa sampai ke atas puncak. Kami pun akhirnya menunaikan shalat subuh yang tadi tertinggal. Di puncak gunung ini aku merasa sangat kerdil sekali, bagai setitik kecil makhluk yang bergerak di antara luasnya bumi. Pemandangan di bagian barat, utara, timur maupun selatan terlihat dengan jelas. Garis pantai nampak membelah cakrawala menjadi dua. satu beralas daratan dan samudra, satu lagi beratap kana wan yang perlahan bergerak kian menebal.
            Dari ufuk timur, mentari pagi muncul dengan semburat cahaya kuning keemasan yang mulai memedar di kaki langi, indah sekali. Di sebelah selatan, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing terlihat gagah menjulang, dilingkari awan putih yang mengitari puncaknya. Sinar matahari pagi terlihat keemasan berpadu dengan putih awan yang nampak bergerak dengan lembut. Sementara di bagian barat dan utara, bukit berundak-undak dengan pepohonan hijau akan memanjakan mata, di bawah sana juga nampak dengan jelas Dataran Tinggi Dieng yang mempesona itu. Sungguh suatu karunia yang sangat luar biasa bisa melihat pemandangan alam yang menggugah hati.
Gunung Prau secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Kendal, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Batang dan Kabupaten Banjarnegara. Merupakan salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng selain Gunung Sipandu, Gunung Pangamun-amun dan Gunung Juranggrawah.. Gunung ini memanglah tidak setenar gunung-gunung yang ada di sekitarnya seperti Sindoro, Sumbing, Ungaran, Slamet dll akan tetapi gunung yang memiliki ketinggian 2565 mdpl ini ternyata punya keindahan dan keunikan tersendiri yang membuatnya berbeda dari gunung lainnya di Jawa Tengah. 
Salah satu gambar pendaki dari google, sayangnya kabut putih menyelimuti sehingga kami tidak menikmati pemandangan seperti ini
 

Walaupun dengan ketinggian yang tidak sampai di atas 3000 namun tetap saja gunung ini memiliki kesan tersendiri di hati. Bagaimana tidak, di puncak gunung inilah untuk pertama kalinya aku menemukan hamparan rumput yang sangat luas, berbeda halnya dengan puncak gunung-gunung lainnya seperti Gunung Kerinci, Pangrango maupun Gunung Gede. Di puncak gunung ini kita akan bertemu dengan hamparan rumput berbunga juga bukit-bukit kecil yang dinamai bukit teletubies karena bentuk nya yang hampir serupa. Bergunduk-gunduk besar-kecil juga berselimut tumbuhan berbunga mungil berwarna putih.
Nepenthes, Cantigi, beserta tanaman-tanaman lainnya benar-benar memanjakan mata. Itulah yang kami rasakan ketika menyusuri bukit teletubies. Hanya terdapat beberapa pohon saja yang tumbuh sehingga sedikit saja tempat untuk berteduh jika datang di musim kemarau. Menurut cerita dari pak Hartadi kemarin ketika di Mini bus menuju Dieng yang menjelaskan padaku dengan semangatnya bahwa ada sebuah mitos tentang keberadaan pohon di tengah sabana bukit teletubies ini. Konon, pohon tersebut memiliki bentuk mirip dengan segi empat. Jika ada seseorang yang masuk kedalam segi empat tersebut maka orang tersebut tidak akan bisa keluar lagi.  Entah benar atau tidak, yang pasti puncak prau memang mempesona setiap insan yang datang berkunjung, ia tidak hanya cantik di musim kemarau dengan pemanadangan cerah membentang namun juga eksotis ketika musim hujan dimana kabut tebal menutupi seluruh permukaan.
Kami pun akhirnya mendirikan tenda di salah satu bukit yang tinggi agar bisa melihat pemandangan dengan jelas, namun sayangnya kabut putih kian menebal sehingga daratan tak lagi terlihat. Hanya menyisakan warna putih yang terhampar luas. Selain kami, juga terdapat beberapa pendaki lain yang juga mendirikan tenda. Biasanya puncak Gunung Prau ini akan sangat ramai ketika malam minggu, bisa lebih dari dua ribu orang yang mendirikan tenda. Namun saat ini kami menikmati puncak ini dengan khusuknya hanya berlima, di bawah tenda kuning yang baru saja berdiri, menahan dingin dan sesekali menahan lapar yang mulai datang. Terkadang, “Adakalanya keindahan itu berawal dari kedinginan dan menghiraukan ketinggian" begitu yang sering diucapkan Fauzi pada kami.
***
Dataran tinggi Dieng adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, maka tak heran jika terdapat banyak sekali kawah sebagai tempat keluarnya gas dan berbagai material vulkanik lainnya. Di sepanjang perjalanan tadi, aku melihat banyak sekali kepulan asap-asap putih dari puncak bukit yang berbeda. Selain kawah, juga terdapat banyak danau-danau vulkanik ataupun berbentuk telaga yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
Sayangnya, aku hanya bisa melihat pemandangan indah Dieng dari puncak Prau ini hanya sebentar sebelum kabut menyelimuti, namun kekaguman tentu saja untuk semua ciptaan Allah karena panorama alam di waktu kabut putih ini pun jarang-jarang bisa kutemukan di puncak lain nya. Setiap puncak menyimpan cerita tersendiri, menyimpan kenangan tersendiri.
Dinginnya puncak Prau memaksa kami untuk tertidur pulas di dalam tenda, dan mendapati diri terbangun ketika pukul dua siang. Hujan juga masih turun sehingga kami tak dapat melakukan banyak hal selain tetap berada di dalam tenda. Namun akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena tidak ingin terjebak dingin lebih lama. Mas Dolen sudah turun duluan, sehingga kami berjalan hanya mengikuti jalan yang terlihat.
Kabut yang sangat pekat benar-benar menghalangi pandangan, sehingga kami tak dapat melihat jalan yang tadi pagi kami lalui. Aku pun merasa bahwa jalan yang saat ini kami tempuh salah, tidak seperti jalur yang tadi pagi kami lewati. Dan dugaan ku pun benar, kami tersesat. Namun kami tak ingin berpusing ria, yang ada dalam pikiran kami hanyalah satu, yaitu segera sampai di pos pendakian manapun dengan cepat. Perjalanan pun kami lanjutkan, mengitari sisi bukit yang berbeda arah.
Setelah hampir dua jam berjalan, kami akhirnya sampai di sebuah perkebunan yang sangat luas, kentang, kubis, semuanya terlihat tumbuh dengan subur. Sangat hijau dan asri. Kabut putih pun berangsur mulai pergi sehingga pemandangan rumah-rumah penduduk di bawah sana terlihat dengan jelas.
Kami sampai di gerbang masuk pendakian tepat di sebuah rumah makan “Warung Ndeso”. Berniat ingin menumpang shalat dan makan, kami ditawari oleh penghuni rumah untuk menginap. Rendacana awal kami, sore ini kami akan langsung menuju Sikunir untuk kembali mendirikan tenda disana, namun tawaran pemilik rumah tak bisa kami tolak. Pak Hatrodi namanya, yang terus menggoda kami agar menginap saja di rumahnya untuk malam ini dan besok pagi ia akan mengantar kami ke Sikunir. Karena jarak dari Dusun Kalilembu menuju Sikunir ini cukuup jauh, setengah jam dengan berkendaraan, dan tentunya bisa berjam-jam jika berjalan kaki.
Setelah merapikan semua barang bawaan, kami pun menyantap makan siang sekaligus makan malam buatan ibu Yoyo dengan mie rebus disertai teh manis hangat yang sangat memikat. Dingin malam pun kami lalui dengan mengobrol bersama penghuni rumah dengan tungku perapian yang menghangatkan. Rumah sederhana pak Hatrodi dan ibu Yoyo ini terasa begitu lapang dan luas karena keramahan dan kebaikan hati mereka.

*Bersambung