Elviandri

Backpacking Dieng : Pesona Kawah Sikidang dan Anak Gimbal




            Setelah puas memandang Gunung Sindoro dan pemandangan alam lainnya dari Puncak Sikunir, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang. Perjalanan menuruni bukit ini agak terasa cukup lama karena harus menunggu pengunjung lain yang juga sedang turun. Beberapa malah dengan muka tanpa bersalah berfoto ditengah jalan sedangkan antrian turun dibelakang sudah cukup panjang. Anak tangga yang masih dibaluti dengan tanah basah ini membuat tiap langkah harus ditempuh dengan hati-hati.
Didepan kawahSikidang 
 
            Perjalanan menuju Kawah Sikidang dimanjakan dengan panorama alam Dieng yang mempesona. Beberapa ibu-ibu terlihat sedang berjalan menuju kebun mereka sambil membawa tas dan jinjingan. Di kejauhan, terlihat juga rumah-rumah penduduk desa yang berundak-undak dan saling berhimpitan dengan perbukitan nan hijau. Juga tampak menara repeater yang kemarin kami daki. Puncak Gunung Prau yang terlihat panjang menyerupai bentukan perahu, sehingga banyak juga yang menyebutnya Gunung Perahu.
            Keberadaan Kawah Sikidang dengan uap panasnya yang membentuk asap putih yang menari-nari di tiup angin memang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang. Kami sampai di Kawah Sikidang sekitar pukul tujuh pagi. Asap yang mengepul cukup tinggi. Kami masuk melalui jalur belakang yang jarang di tempuh orang-orang. Menurut Pak Hartodi, agar lebih dekat dan tidak terlalu jauh berjalan. Kami yang belum mengetahui sama sama sekali pun hanya menuruti  kata beliau. Pipa-pipa saluran gas terlihat cukup banyak disana-sini hingga sampailah kami disekitar kawah, bau belerang yang cukup menyengat pun langsung menyerbak. Sehingga sangat diperlukan masker atau apapun yang bisa menutupi sepaaro wajah agar tidak mencium bau menyengar belerang.
            Disekitar kawah juga terdapat banyak penduduk lokal yang berjualan, mulai dari bunga edelweiss yang di warnai, makanan tradisional, jagung, hingga batu-batu belerang. Banyak juga yang membawa anak mereka yang masih bayi untuk berjualan, ketika kutanya apa alasan mereka ibu-ibu penjual belerang menjawab tidak ada pilihan lain, jika tidak dibawa berjualan lantas tidak ada tempat untuk menitipkan anak. Padahal bau belerang di Kawah Sikidang ini sangat kuat.
            Kawah Sikidang ini diperkirakan  terbentuk dari letusaan Gunung Purba Dieng ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu sehingga mengalami dislokasi dan mengakibatkan terbentunya kawah yang masih ada hingga sekarang. Beberapa lubang besar dengan kepulan asap yang ttidak terlalu tebal menyambut kami ketika baru saja memasuki area Kawah Sikidang. Menurut pak Hartadi, lubang-lubang tersebut merupakan kaah pada masa lalu sedangkan kawah utama berada cukup jauh dari pintu masuk, kira-kira sekitar 1 kilometer jaraknya untuk menuju kawah utama. Pak Hartadi yang juga masyarakat asli Dieng ini juga menjelaskan bahwa kawah-kawah kecil yang ada disini juga diperkirakan bisa saja suatu saat menjadi kawah utama menggantikan kawah yang ada saat ini.
            Asal usul nama Kawah Sikidang ini pun tidak terlepas dari sifat kawah utama yang sering berpindah-pindah sehingga diberi nama “Sikidang” yang berasal dari kata “Kidang” yang berarti Kijang. Dinamakan demikian karena kawah yang berpindah-pindah dimaknai seperti seekor kijang yang senang melompat kesana-kemari. Kawah Sikidang, seperti halnya tempat-tempat lain tak lepas dari legenda yang melekat dan diceritakan secara turun temurun di masyarakat. Kawah Sikidang menurut legenda yang berkembang, berasal dari kisah pernikahan antara pangeran Kidang Garungan dengan Putri Shinta Dewi. Putri Shinta Dewi merupakan seorang putri yang cantik jelita pada masa itu yang tinggal di daerah Dieng.
            Mengetahui kecantikan sang putrid tersebut maka datanglah silih berganti pangeran-pangeran yang hendak mempersunting sang Putri menjadi seorang istri. Begitupun yang dilakukan oleh pangeran Kidang Garungan, ia adalah seorang pangeran yang kaya raya, serta mempunyai tubuh besar dengan kesaktian yang tidak diragukan lagi. Sang Putri yang sebelumnya belum pernah bertemu dengan pangeran langsung mengiyakan karena semua syarat yang ia minta telah dipenuhi oleh sang pangeran. Namun alangkah terkejutnya sang Putri ketika bertemu langsung dengan pangeran yang ternyata bertubuh manusia namun berkepala kidang (Kijang).
            Putri akhirnya tidak dapat menerima bahwa pangeran Kidang yang akan menjadi suaminya, maka iapun mengajukan syarat tambahan kepada sang Pangeran apabila dapat membuat sumur yang besar dan dalam dalam sehari maka barulah ia akan bersedia menikahinya. Sang pangeran pun menyanggupinya, dengan kesaktian yang ia punya, sumur yang digali pun sedikit demi sedikit pun hampir selesai.
Mengetahui hal itu, sang Putri yang tidak ingin pangeran dapat menyelesaikan sumurnya, sang Putri meminta bantuan tentaranya dan memutuskan untuk mengubur pangeran Kidang Garungan ketika menggali sumur dengan cepat. Sang pangeran yang mengetahui hal ini pun marah dan membuat sumur tersebut meledak, namun ia masih tidak dapat keluar dari sumur karena terus ditimbuni tanah. Akhirnya, sebelum tewas, sang pangeran mengutuk keturunan sang putri berambut gembel/ gimbal. Dari cerita inilah terjadi Kawah Sikidang dan munculnya anak-anak berambut gimbal di Dieng.

Dari Kawah Sikidang, kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Warna. Di perjalanan aku melihat beberapa anak yang sedang berjalan dengan rambut gimbal. Namun sayangnya, aku tidak dapat berhenti untuk sekedar bercengkrama atau berfoto dengannya. Fenomena anak berambut gimbal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Dieng. Namun bagi kami yang hidup jauh dari daerah ini, tentunya menjadi sebuah pemandangan yang unik dan luar biasa.
Anak-anak gimbal ini diibaratkan seperti seorang raja yang semua keinginannya harus dikabulkan hingga nanti ketika sampai waktunya rambut gimbal tersebut akan di potong. Rambut gimbal ini tidak akan selamanya ada di kepala si anak, karena jika dibiarkan hingga remaja maka dipercaya akan membawa musibah bagi si anak dan keluarganya. Rambut itu akan dipotong ketika si anak telah memintanya, dan waktu pemotongan itu haruslah si anak yang menentukan, karena jika tidak walaupun dipotong berapa kali pun rambut gimbal itu akan tetap terus tumbuh dan tumbuh.
Pemotongan melalui serangkaian prosesi, dan ada setiap bulan agustus atau Sura dalam tanggal Jawa akan diadakan suatu prosesi di kompleks Candi Arjuna Dieng dan anak-anak gimbal dipotong rambutnya oleh pemuka adat dengan terlebih dahulu akan dimandikan dengan air dari tujuh mata air kemudian akan dilemparai beras kuning dan uang koin. Namun prosesi ini tidak semua diikuti oleh anak-anak berambut gimbal. menurut pak Hartodi, beberapa keluarga juga bisa saja melakukan prosesi sendiri karena tidak tega melihat anak harus memakai ikat kepala putih dan selendag dari kain mori yang biasanya digunakan untuk membungkus mayat.
Raja-raja kecil tanpa mahkota ini dianggap sebagai anak pembawa keberkahan dan keberuntungan bagi keluarganya. Walaupun anak-anak gimbal cenderung lebih aktif dan agak nakal jika bermain dengan sesame anak gimbal, karena sering terjadi pertengkaran diantara mereka. Dieng sebagai tanah yang dipercaya tempat bersemayamnya para dewa, berbagai kisah maupun legenda dan mitos yang ada masih sangat melekat dalam kehidupan masyarakatnya. Masyarakat Dieng percaya bahwa rambut gimbal anak-anak tersebut dijaga dan dihuni oleh makhluk gaib dan anak-anak ini merupakan titisan atau keturunan dari leluhur pendiri Dieng.
Terlepas dari semua mitos-mitos dan legenda yang ada, yang pasti keberadaan anak-anak gimbal ini membuatku sangat tertarik untuk tinggal lebih lama di Dieng, keramahan masyarakat serta murah senyum tersebut membedakan wisata ini dengan daerah lain yang pernah ku kunjungi. Namun hari ini, adalah hari terakhir kami di Dieng, sebelum pulang kami melanjutkan perjalanan menuju Telaga Warna dan Candi Arjuna sebagai penutup perjalanan kam. Suatu saat nanti aku akan kembali, dan tak sabar ingin segera bersua lebih lama lagi dengan anak-anak kecil sang raja tanpa mahkota ini.
  *Bersambung