Elviandri

Perjalanan Menuju Gunung Padang- Curug Cikondang Cianjur



Situs Gunung Padang
Dari stasiun kami melanjutkan perjalanan menuju Situs Gunung Padang. Dugaanku pun ternyata salah, semula aku mengira bahwa stasiun ini akan ramai seperti halnya Stasiun Bogor atau Stasiun Sukabumi, namun jauh dari perkiraan. Stasiun Lampegan sangatlah sepi tanpa banyaknya aktivitas manusia. Disini juga terdapat pangkalan ojek yang siap mengantar wisatawan jika ingin ke Gunung Padang dengan tarif 25.000 untuk sekali jalan. Sedikit lebih murah dari yang semula sering kudengar dari blog teman yang mengatakan bahwa harga dipatok 50.000 untuk mencapai Situs Gunung Padang sekali jalan.


Dari pertigaan yang tadi kami tempuh, perjalanan menuju situs ini sudah cukup baik. Beraspal namun tetap masih sepo. Hanya beberapa pengendara saja yang terlihat lalu lalang. Jalanan berkelok menghiasi perjalanan menuju Gunung Padang. Kebun the, pohon karet, serta bunga-bunga berpadu dengan rerumputan di kaki bukit. Sebuah sajian lanskap alam yang menyegarkan mata. Aku yang duduk di kursi depan disebelah Hafizh juga leluasa melihat pemandangan dari segala arah. Selintas kulihat sebuah tanaman seperti dandelion yang berjajar dan tampak begitu indah ketika tertiup angin dan merunduk secara bersamaan seolah-olah memberi hormat dan berkata “selamat datang”
Sekitar dua puluh menit berkendara, akhirnya kami sampai di pintu utama bertuliskan Situs Megalithikum Gunung Padang, Cianjur. Terbuat dari batu-batuan yang sangat pas menggambarkan keadaan situs. Objek wisata yang ramai dikunjungi ini terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Setelah shalat di musholla terdekat, kami menuju warung makan yang juga banyak tersedia di tempat ini. Ada banyak pilihan mulai dari nasi gulai, gado-gado, ketoprak maupun bakso. Selain itu juga terdapat penginapan di rumah-rumah warga jika ingin menginap dan merasakan sensasi bermalam di lokasi situs. Biasanya banyak juga wisatawan lain yang menginap atau datang pagi-pagi untuk berburu sunrise dari atas Situs Gunung Padang.
Dari tempat parkir mobil, dilanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sekitar 30 menit. Cukup jauh memang. Hampir saja beberapa teman memutuskan untuk menggunakan jasa ojek dengan tarif 5000, akan tetapi keputusan itu segera batal setelah melihat rombongan anak SD yang berjalan beriringan memakai seragam sekolah tampak tak begitu lelah menuju parkiran. Malu dengan umur jika harus menyerah dari anak SD. 

Jalanan sedikit berbatu dan masih belum diaspal. Di pinggir jalan terlihat beberapa pekerja sedang mengaduk semen untuk memperbaiki jalan dan pondasi batu sebagai penahan. Kami akhirnya sampai di lokasi pembelian tiket yang hanya di patok tarif 2000 per orang. Disini, juga terdapat beberapa warung dan penginapan. Dan yang sedikit menyakitkan adalah, ternyata masih bisa mobil untuk parkir disini walaupun tempatnya tidak terlalu luas dibandingkan tempat parkir kami di bawah. 
Ada dua jalur untuk menuju ke atas situs. Jalur pertama cukup terjal karena  tegak lurus naik ke atas situs. Pijakan nya masih alami dengan batu alam dan penyangga bercat hijau. Cukup curam, dan tidak ada panorama lain yang bisa dilihat selain pepohonan dan daun yang saling menutupi akan tetapi lebih cepat dan ringkas. Sedangkan jalur kedua sedikit lebih landai, namun agak jauh karena berbelok mengitari bukit, anak tangga yang harus ditempuh pun semakin banyak. Namun dari sini bisa melihat perbukitan di seberang yang masih hijau dan asri. Kami memilih jalur kedua yang juga banyak dipilih oleh orang-orang karena tidak terlalu membuat capek. 
Sesampainya di atas, lelah itu segera terganti. Panorama sekitar membuat hati terasa damai. Perbukitan terlihat banyak berlapis-lapis. Di kejauhan terlihat juga hamparan kebun teh serta jalan yang tadi kami lalui. Ternyata benar kata orang, untuk mencapai sesuatu yang indah memang diperlukan perjuangan dulu untuk mencapainya. Semilir angin terasa sejuk sekali menerpa wajah. Aku duduk di bawah sebuah pohon yang dikelilingi oleh bebatuan.


Situs ini merupakan salah satu peninggalan prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Terletak pada ketinggian 885 mdpl dengan luas kompleks bangunan kurang lebih 900 m2 menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Situs ini dikelilingi oleh lembah-lembah yang cukup curam. Sebelumnya masyarakat sekitar menganggap bahwa tempat ini sebagai tempat Prabu Siliwangi berusaha membangun istana. Sehingga dianggap keramat oleh warga. Diperkirakan situs ini dahulu nya adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana sekitar 2000 tahun SM. Hal ini hampir mirip dengan batu-batu purbakala di Kerinci yang juga banyak terdapat di atas bukit. Saat ini sedang banyak dilakukan kajian dan penelitian terkait keberadaan situs ini. aku bertemu dengan beberapa ahli geologi yang tampak serius sedang mendiskusikan hasil temuannya bersam rekan lain.
Aku sempat bertanya sedikit dengan bapak setelah kutanya namanya adalah pak Yahya anggota peneliti Situs Gunung Padang, di bercerita tentang riset hasil semula terdapat geometri-konstruksi bangunan berupa ruang-ruang besar sekitar 15 meter dibawah sebuah puncak Gunung Padang  dengan menggunakan berbagai metode seperti Geomagnet, Georadar dan Geolistrik. Bagian kecil dari salah satu ruang yang berada di teras lima, bagian selatan situs sudah dibuktikan dengan pemboran.
Ada banyak kontroversi terkait keberadaan situs Gunung Padang ini, ada yang menganggap nya berhubungan dengan piramida di Mesir, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa situs ini dapat dikategorikan sebagai peradaban piramida karena struktur bangunannya yang hampir sama. Penelitian yang dimulai sejak tahun 1914 ini masih berlanjut hingga sekarang ini. Dari teras satu, aku menuju teras dua dimana terdapat lebih banyak orang yang berada disini karena lebih luas. Dari sini aku dapat melihat pemandangan di teras satu lebih bagus lagi dari atas.
Diatas sini, juga terdapat beberapa penjual cilok dan es, kami memesan es untuk menyegarkan tenggorokan yang dari tadi serasa kering. Momen ini tentu saja kami pergunakan untuk bertanya tentang jalan dan akses menuju Curug Cikondang. Informasi gratis jika bertanya dengan pedagang yang kita beli dagangannya jauh lebih baik.

Niagara Kecil Curug Cikondang
            Perjalanan menuju Curug Cikondang sangat curam dan terjal. Dari situs Gunung Padang, melewati sebuah lapangan sepakbola ditengah hamparan kebun teh lalu akan bertemu dengan jalan raya beraspal. Kami berbelok kekanan, karena jika ke kiri adalah jalan menuju Stasiun dan jalan kami lewati pertama tadi. Jalanan masih cukup bagus. Namun sedikit lebih sempit seperti jalan semula. Setelah bertanya ke warga sekitar, kami sampai di sebuah pertigaan dan berbelok ke kanan lagi, jika ke kiri akan bertemu dengan sebuah industry pengolahan timah yang mempunyai portal batas di pintu masuk. Jalanan lurus beraspal ini mulai habis ketika sampai di perkebunan teh kembali. Disini sudah tidak ada lagi rumah warga sekitar. Dan kami bertemu lagi dengan sebuah pertigaan sesuai petunjuk dan berbelok ke kiri. Tandanya adalah belokan ini cukup tajam, bapak yang kami tanya di jalan menyebutnya “ belokan patah habis” mungkin maksudnya belokan jalan ini benar-benar berbelok habis
Jalanan penuh dengan batu-batu besar dan cukup tajam. Beberapa kali mobil harus berhenti untuk dapat melewati gundukan batu. Wajar saja jika ojek dari Situs Gunung Padang menuju Curug ini meminta tarif 50.000 karena jalanan yang sangat terjal dan parah. Turun dan kemudian menaiki bukit lagi hingga akhirnya sampai di sebuah warung di petigaan jalan. Kami bertanya dengan seorang ibu-ibu yang masih muda sedang menyusui anaknya. Ramah sekali. Info yang kami dapat perjalanan sudah hampir sampai, namun aku agak sedikit kurang percaya karena sedari tadi orang kami temui di jalan berkata tinggal sebentar lagi padahal masih sangat lama.  

Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya mengucap syukur untuk kesempatan bisa mengagumi panorama indah ciptaan tuhan di bumi Cianjur, dengan bukit-bukit di kanan kiri jalan dan juga dengan udara sejuknya yang bersih dari polusi. Dan keadaan ini mengingatkan ku tentang perjalanan menuju Kayu Aro di Kerinci. Suasana kebun teh nya yang khas membuatku nostalgia.
Tak berapa lama kami sampai di sisi sungai. Akhirnya dari kejauhan terdengar suara gemericik air yang cukup kencang dari jalan dan benarlah apa yang dikatakan ibu di warung tadi bahwa kami sudah hampir sampai. Selain kami, juga terdapat rombongan wisata lain yang menggunakan mobil dan motor, namun untungnya mereka dalam perjalanan mendaki untuk pulang, sehingga curug pun sepi dan hening.
Pukul 4. 30 kami sampai di curug. Suara yang kami dengar tadi adalah rempesan air yang mengalir lalu terhempas ke bebatuan. Di kirinya terdapat berpetak-petak sawah berjejer bertingkat berwarna hijau kekuningan. Berpadu dengan kebun teh yang dibeberapa bagian sudah berwarna coklat karena baru saja panen.
            Curug Cikondang ini memiliki ketinggian 50 m dan terketak di Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Cianjur, berada di kawasan kebun the PTP VIII Panyairan. Curug ini sebenarnya bukanlah mata air asli namun karena tumpahan sungai yang jatuh melalui tebing cukup tinggi dan lebar. Di sekitarnya terdapat sebuah rumah pondok kayu yang tidak berpenghuni menghadap persis ke depan curug. Setiap orang dikenakan biaya 5000 untuk mencapai curug, sebenarnya tidak ada harga pasti untuk masuk kesini karena belum dikelola oleh pihak berwenan secara resmi. Pengelolaan pun tidak terlalu bagus, hanya warga sekitar sering memanfaatkannya untuk dikomersilkan
            Aliran curug ini sekilas mirip dengan curug Malela yang terdapat di Bandung Barat, hanya saja curug ini berukuran lebih tinggi namun tidak terlalu lebar. Orang-orang juga sering menjulukinya Niagara kecil karena bentuk melebar akibat tumpahan air tersebut. Namun begitu, aku menghindari untuk mandi atau mencuci tangan disini, karena menurut indo dari orang yang tadi kami temui di jalan, airnya sudah tercemar oleh limbah merkuri akibat aktivitas pencucian emas yang dilakukan oleh penambang. Merkuri ini bisa menyebabkan gatal-gatal. Tapi meskipun begitu, Curug Cikondang ini seolah-olah sudah sepaket dengan Situs Gunung Padang dan juga Stasiun Lampegan, karena tidak lengkap rasanya berkunjung ke dua tempat tersebut jika belum ke Curug Cikondang.
            Siapa yang tidak betah berlama-lama disini, namun di langit sana, terlihat senja sudah mulai menampakkan dirinya, menyeringai dan memantulkan senyum semuringah semerbak keemasannya di dahan. Kami memutuskan untuk segera pulang karena tidak ingin kemalaman di jalan. Beberapa kali kami hampir tersesat dan berbelok arah karena melewati kebun teh yang tidak berpenghuni, hingga akhirnya kami berhasil mencapai jalan raya pukul 5.30 dan disambut dengan kabut tipis  yang menghiasi. Gelap perlahan turun menyelimuti langit Cianjur. Udara dingin dan sejuk ini mengantarkan kami kembali pulang.

            Pukul 6.30 kami berhenti disebuah warung pinggir jalan untuk menyeduh kopi, karena hujan mulai turun dan jalanan menjadi basah. Truk-truk besar melintas dengan arah berlawanan melewati belokan yang cukup banyak di area Cibeber ini.  Cukup ngeri karena penerang jalan pun hanya dengan menggunakan lampu mobil. Dingin. Sepi pun menyeruak.
            Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk makan malam di sebuah warung di pinggir jalan untuk mencicipi Sate Maranggi. Masakan khas tradisional ini bisa dijempui dengan mudah di sudut Kabupaten Cianjur. Sate Maranggi adalah sate daging atau kambing yang dibumbui dengan kecap manis dan disajikan dengan nasi akan lebih terasa nikmat. Satu tusuk sate hanya dihargai 2000, harga yang tidak terlalu mahal. Kenikmatan sate ini akan lebih terasa setelah dicocol atau dicampur dengan sambel oncom. Ini adalah kali pertamanya makan sate cianjur benar-benar di Cianjur dan khas Cianjur. Beberapa teman malah menambah beberapa porsi lagi agar rasa penasarannya terselesaikan sudah dengan mencicipi Sate Maranggi.
            Lengkap sudah perjalanan kami di Cianjur hari ini. Mobil pun terus melaju melewati Cipanas dan kawasan puncak yang masih padat. Malam minggu menjadi waktu pilihan bagi banyak orang untuk menikmati alam Bogor terutama kawasan puncak pass yang terlihat begitu ramai. Deru mobil dan dingin malam pun terhangatkan dengan cerita masing-masing dari kami tentang perjalanan pertama ke Cianjur ini.