Elviandri

Backpacking to Cianjur : Menuju Stasiun Lampegan


Menuju Cianjur
Pukul 5.30 pagi, mataku terasa sedikit sayu. Seperti biasanya, jika ingin melakukan perjalanan, entah mengapa aku selalu saja tidak bisa tidur. Sepanjang malam, aku berusaha memejamkan mata, namun selalu saja tidak bisa. Akhirnya, aku menghabiskan waktu dengan membaca beberapa novel yang tergeletak di kamar.
Pagi ini, gerimis turun membahasahi Bogor yang belakangan kembali mulai menunjukkan taringnya lagi sebagai Kota Hujan. Untungnya, tak ada petir yang menyambar seperti gerimis malam kemarin.  Aku sudah sampai di depan gerobak mamang di sebelah jalan raya tempat bertemu dengan rekan seperjalanan lain. Sembari menunggu, aku sarapan pagi dengan lontong sayur yang sudah sudah lama sekali rasanya tidak mencicipi. Aku jadi teringat sarapan pagi ketika berada di rumah, ibuku selalu menyediakan lontong dengan bakwan khas nya setiap pagi. Ada rasa ingin segera pulang kembali, namun nampaknya harus ditunda hingga nanti menemukan waktu yang tepat.
Tepat pukul 6.00 aku bersama Hafizh, Izi, Gusmen, Dea, Icha, dan Isti memulai perjalanan. Menyusuri jalanan Bogor di waktu pagi yang Alhamdulillah nya tidak begitu macet. Jika kami telat berangkat sedikit saja, nampaknya kami akan terjebak dalam uforia macetnya Bogor di akhir pekan yang baru-baru ini dinobatkan menjadi kota termacet di seluruh Indonesia. Sesampainya di Stasiun Bogor, Izi, Gusmen dan Dea turun. Mereka akan berangkat dengan menggunakan kereta tujuan Bogor-Cianjur sedangkan kami berempat dengan mobil yang yang kali ini dikendarai oleh Hafizh. Melewati Pasar Anyar di depan Kebun Raya Bogor yang geliatnya mulai menurun ketika siang makin menjelang. Terlihat ibu-ibu saling bahu membahu dengan anaknya membereskan dagangan yang mulai sepi pengunjung dan digantikan oleh ramai angkot.
Perjalanan kali ini memang terasa sedikit berbeda, biasanya aku selalu menggunakan transportasi umum untuk mencapai tujuan, namun karena efisiensi waktu nampaknya menggunakan mobil pribadi menjadi pilihan yang cukup baik. Apalagi akhir pekan di Bogor adalah surga tempat berkumpulnya orang-orang Jakarta yang hendak melepas lelah. Sepanjang perjalanan, mobil-mobil plat B terlihat kesana kemari melintas jalan.
Cahaya matahari pagi memantul di antara dahan kuning kemerahan di pinggir tol. Pohon-pohon berjajar membentuk barisan yang saling tindih menindih dengan rerumputan bergradasi kuning hijau.  Di dalam perjalanan, kami mengisi waktu yang mulai terasa berjalan agak begitu lambat dengan mengobrol berbagai topik. Salah satu cara elegan untuk membunuh waktu dan menghindari kebosanan. Dan topik yang paling banyak dibicarakan adalah mengenai pekerjaan. Padahal niat perjalanan kali ini adalah untuk mencari angin segar setelah tujuh hari penuh berkutat dengan dunia pekerjaan masing-masing. Agaknya bagi mahasiswa yang baru lulus seperti kami ini, informasi tentang pekerjaan itu sangat lah penting untuk diceritakan karena masih hangat-hangatnya.

Puncak terlihat begitu ramai, tempat ini memang menjadi primadona bagi masyarakat Jabodetabek di akhir pekan. Dahulunya, kawasan ini merupakan hutan rimba yang kemudian dijadikan sebagai lahan pertanian dan tempat peristirahatan oleh Gubernur Jenderal Gustaf Willem Baron Van Imhoff. Pembabatan hutan dikawasan ini berlangsung selama dua abad sampai sekitar tahun 1920-an. Kini perkebunan teh yang dibangun semasa kolonial Belanda ini telah menjadi perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VII Gunung Mas.
Kawasan puncak ini mulai padat dengan penduduk setelah tahun 1980 jalan tol Jagorawi di operasikan oleh PT. Jasa Marga. Kini masalah menjadi sedikit lebih rumit ketika hutan-hutan dan perkebunan itu justru dialihfungsikan lagi menjadi vila-vila yang tumbuh dengan subur di puncak. Luas pemukimanpun kian meningkat hingga 64 kali lipat dalam 22 tahun sejak 1970-an. Dampak dari pembangunan pemukiman ini adalah tidak ada lagi kemampuan resapan air sehingga ketika hujan datang, maka aliran air akan langsung menuju anak-anak Sungai Ciliwung dan banjir tidak bisa dielakkan di daerah Bogor dan Jakarta. Padahal hutan mempunyai kemampuan menahan air ketika hujan 85 hingga 98 persen.
            Kami berencana berhenti sejenak di kawasan puncak, untuk menikmati pemandangan di pagi hari, namun setelah memperkirakan waktu untuk sampai di Cianjur maka kami menundanya. Di perjalanan, diantara kebun teh yang hijau membentang terlihat berdiri sebuah masjid yang cukup tersohor di kawasan Puncak, yaitu masjid Atta’awun. Seorang teman pernah berkata, belum ke puncak namanya jika belum berkunjung ke masjid berarsitektur seperti jamur  ini. Ia seperti oase tersendiri yang menyejukkan bagi orang-orang yang singgah. Maka tak heran jika masjid ini terlihat tidak pernah sepi, terutama di akhir pekan. Masjid ini dibangun pada tahun 1997 diprakarsai oleh R. Nuriana Gubernur Jawa Barat saat itu, yang saat ini dikelola oleh yayasan Dharma Bhakti. Sangat pas menjadi pilihan untuk menenangkan diri di akhir pekan.

Stasiun Lampegan
            Pukul 10.40 kami telah sampai di Cianjur. GPS yang kami bawa ternyata tidak bisa berfungsi, sehingga beberapa kali kami harus berhenti terlebih dahulu untuk bertanya kepada orang sekitar untuk mencapai Stasiun Lampegan tujuan utama kami. Dari perempatan kota Cianjur, kami berbelok ke kanan menuju jalan raya arah Sukabumi menuju Warung Kondang. Dari Warung Kondang, kami bertemu dengan sebuah pasar di pertigaan jalan raya yang lebih mirip dengan terminal karena lebih banyak dihuni oleh angkot. Di pinggir jalan, setelah dua belokan akhirnya kami menemukan sebuah plang di kiri jalan yang menunjukan arah menuju stasiun sekitar 17 Kilo meter lagi. Jalanan sempit melewati permukiman penduduk yang sepi. Terlihat hanya satu sampai dua orang saja yang sedang berada di luar sehingga kami pun agak sedikit kesusahan untuk bertanya rute yang harus di tempuh. Siang hari nampaknya semua awrga sedang sibuk bekerja di luar rumah.
            Semakin kedalam, jalanan semakin licin, berbatu kecil dan dibeberapa tempat genangan air juga cukup banyak. Semakin memasuki area hutan rumah-rumah penduduk semakin jarang. Rute yang ditempuh untuk mencapai stasiun ini benar-benar panjang. Tanjakan cukup terjal melewati bukit-bukit yang saling bertindih satu sama lain. Sepi. Hingga akhirnya setelah hammpir satu jam perjalanan, kami melihat sebuah rel kereta disebelah bukit yang kami yakini sebagai rel kereta yang mengarah ke Stasiun.
            Dugaan kami benar, sesampainya di pertigaan sebuah penunjuk arah menuju stasiun arah pun terlihat. Jika berbelok ke kanan, maka kami akan sampai di Situs Gunung Padang. Dea, Izi, dan Gusmen telah menunggu di stasiun hampir satu jam. Suasana stasiun cukup sepi, dan aku bertemu dengan Ipang, seorang teman ketika tahun kemarin mengikuti kemah kepemimpinan di Jakarta. Aku mengenalinya dari kaos yang ia pakai, sama dengan yang aku punya waktu itu, sebuah identitas dan tanda pengenal yang ampuh. Dunia terasa begitu sempit, sebuah pertemuan yang tidak terduga. Ia datang hanya berdua denga kekasihnya. Setelah mengobrol sejenak, ia pamit untuk meneruskan perjalanan menuju Situs Gunung Padang, sementara aku mulai menelusuri susut stasiun yang cukup kecil ini.
            Stasiun Lampegan ini terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Cianjur. Ia juga sejalur dengan arah KA Manggarai-Padalarang Bandung. Bangunan stasiun dan rumah kepala stasiun masih seperti saat pertamakali dibangun sehingga suasana lanskap masa lalu masih terasa dengan jelas. Stasiun yang dibangun pada tahun 1882 ini mempunyai sebuah daya tarik tersendiri, yaitu Terowongan Lampegan yang terletak tidak jauh dari pintu stasiun. Terowongan Lampegan merupakan salah satu terowongan pertama yang dibangun di Jawa Barat pada tahun 1879 hingga 1882.
Walaupun pada tahun 2001 dan 2006 pada mulut terowongan pernah terjadi longsor yang membuat jalur kereta Sukabumi-Cianjur menjadi terhenti, namun saat ini kondisi terowongan sudah diperbaiki kembali dan sudah dioperasikan sehingga tak heran jika kini stasiun dan terowongan Lampegan menjadi daya tarik utama kunjungan wisatawan karena nilai sejarah serta suasana masa lalu yang masih tersisa. Terowongan Lampegan mempunyai panjang 686 meter dan merupakan salah satu terowongan tertua yang pernah dibangun pada masa pemerintah Hindia Belanda. Ia dibangun perusahaan kereta api SS (Staats Spoorwegen) pada periode 1879 hingga 1882 untuk melayani perjalanan kereta api jalur Jakarta-Bogor-Sukabumi-Bandung melalui Cianjur.
Asal usul nama Lampegan berasal dari percakapan orang Belanda ketika kereta api memasuki terowongan. Menurut pak Waryo (50) warga sekitar yang saya temui disekitar stasiun bahwa nama ini bermula ketika setiap ada kereta yang akan masuk ke dalam terowongan, maka kondektur kereta akan selalu berteriak ‘steek lampen aan !’ yang berarti nyalakan lampu. Percakapan itu di telinga orang Sunda terdengar seperti kata Lampegan. Hingga akhirnya nama stasiun dan terowongan ini disebut sebagai Lampegan.
Terowongan Lampegan ini juga mempunyai sebuah cerita mistik yang berkembang di masyarakat, yaitu tentang Nyi Ronggeng Sadea yang raib ketika melewati terowongan ini. Cerita bermula ketika tahun 1882 terowongan ini selesai di bangun. Dan untuk menghibur para pejabat Belanda maka di undanglah seorang ronggeng terkenal bernama Nyi Sadea. Setelah acara usai, Nyi Sadea diantar pulang oleh seorang pria melalui terowongan dan sejak saat itu Nyi Sadea hilang dan tidak diketahui lagi keberadaannya.
Sebagai seorang pencinta lanskap sejarah, aku sangat menikmati lanskap yang tersaji di stasiun dan terowongan ini. Di depan stasiun terdapat beberapa rumah penduduk yang mencakup sebagai warung makan. Terbuat dari kayu dan masih sangat tradisional. Rel-rel kereta api juga terlihat cukup mengkilat diterpa cahaya matahari. Dipinggirnya, pohon-pohon tinggi menjulang seolah sedang menggapai langit menjadi pagar yang mengelilingi seluruh area ini. Aku ingin mencoba berjalan menyusuri terowongan yang terkenal ini. namun karena waktu yang semakin singkat aku harus membatalkan rencana. Mungkin ini pertanda suatu saat nanti aku harus kembali lagi kesini.