Elviandri

Backpacking Menuju Dieng : Senandung Negeri di Atas Awan (Part 2)



          Di sepanjang perjalanan, aura Dieng sudah mulai terasa ketika minibus mulai menanjak,hawa dingin yang menyerbak, hamparan kebun petani yang nampak subur juga persawahan yang saling bertumpuk diantara bukit-bukit yang saling bertindih. Semakin tinggi, aura dingin semakin terasa, kabut putihpun menyelimuti permukiman penduduk hingga akhirnya sama sekali tak terlihat. Semua berubah menjadi putih, bagai sedang berjalan menembus negeri di atas awan. 
                                            Plenyek team edisi lengkap, Dessy, Erma, Fauzi, Yoni, Kautsar

Dataran Tinggi Dieng merupakan dataran tinggi tertinggi kedua didunia setelah Tibet / Nepal, dan ia juga menjadi dataran tinggi  terluas di Pulau Jawa. Berada pada ketinggian 6.802 kaki atau 2.093 m dpl maka tak heran jika pada musim kemarau yang berkisar antara bulan juli-agustus suhu dapat mencapai angka 00C dan pada pagi harinya embun pun dapat membeku. Peristiwa ini oleh masyarakat setempat dinamai bun upas (embun racun) karena menyebabkan kerusakan pada hasil pertanian mereka. Sedangkan pada bulan-bulan lainnya, suhu di Dieng relatif sama yaitu berkisar 15-200C di siang hari dan 100C di malam hari. Maka tak heran jika hampir semua warga mengenakan jaket jika beraktivitas di sini. Begitupun dengan yang ku lihat di mini bus ini, semua menggunakan jaket tebal. Sedangkan kami, nampaknya terlalu tak sadar diri karena masih tahan dengan sehelai kaos yang melekat di badan.

Dieng berasal dari kata “di” yang berarti tempat/ gunung dan “Hyang” yang berarti Dewa. Sehingga Dieng dapat diartikan sebagai sebuah kawasan di daerah pegunungan yang merupakan tempat bersemayamnya para dewa. Nama Dieng sendiri diperkirakan berasal dari bahasa Sunda karena sekitar tahun 600 masehi daerah ini berada dalam pengaruh politik kerajaan Galuh. Dieng dahulu bukan hanya menjadi ibukota kerajaan namun juga menjadi pusat pemerintahan, spriritualitas dan peradaban. Dataran Tinggi Dieng sendiri secara umum terbagi menjadi dua wilayah administrasi yaitu Dieng Kulon yang masuk ke Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan yang masuk wilayah Kabupaten Wonosobo.
            Pukul 5.30 kami akhirnya sampai  di pos pendakian Prau Desa Patak Banteng, rombongan Indramayu turun, disinilah kami berpisah. Rombongan yang aku belum tahu nama nya ini akan mendaki Prau malam ini melewati jalur Patak Banteng, sementara kami  akan melanjutkan perjalanan ke jalur pendakian Dieng Kulon. Ada banyak jalur pendakian untuk mencapai puncak Prau dengan trek yang berbeda satu sama lainnya, jalur pendakian Patak Banteng terkenal lebih terjal namun lebih cepat dan pemandangan yang disuguhkan pun memanjakan mata jika mendaki di siang hari, karena akan terlihat lanskap Desa Patak Banteng dan desa-desa lainnya yang berbukit-bukit dari kejauhan sana.
            Kami memilih jalur pendakian Dieng Kulon karena selain jalannya tidak begitu terjal, kami juga harus menyewa satu tenda terlebih dahulu. Sekitar pukul tujuh malam, kami berangkat memulai perjalanan menuju puncak Gunung Prau, namun tiba-tiba hujan turun membasahi bumi dengan cepatnya tanpa ada gerimis sama sekali sehingga kami memutuskan untuk menunggu hujan reda sembari makan malam nasi goring di pinggiran jalan.
            Dieng yang malam ini sepi, bertambah sunyi karena dingin yang memaksa orang-orang untuk betah berlama-lama di rumah masing-masing, hujan yang tak kunjung henti ditambah dengan petir yang kian menggelagar membuat kami harus berpikir berulang kali apakah akan tetap melakukan perjalanan saat ini. Ditengah memikirkan segala kemungkinan, di warung nasi goreng ini kami bertemu dengan sepasang kekasih yang malam ini juga akan berangkat menuju Prau. Sebut saja namanya Mas Dolen dan Mba Indah Kami pun kemudian merencanakan perjalanan bersama setelah hujan reda.
Sembari menunggu hujan yang tak kunjung reda, di base camp pendakian aku memanfaatkan waktu untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang Dieng dan Gunung Prau, perjalanan yang direncanakan cukup cepat ini membuatku tidak mempunyai banyak waktu untuk mencari informasi tujuan yang akan dituju. Dan yang menarik hatiku adalah, Dieng ternyata merupakan sebuah dataran tinggi yang terbentuk karena letusan dasyat sebuah gunung berapi. Dengan demikian kondisi geologisnya samapai sekarang masih relatif labil bahkan sering terjadi gerakan-gerakan tanah. Beberapa bukti menunjukan hal tsb adalah, peristiwa hilangnya Desa Legetang, yang disebut-sebut mendapat azab dari Allah karena tingkah penduduk yang tidak baik.
            Karena terjebak hujan deras yang hampir semalaman, kami memutuskan untuk menginap di pos pendakian base camp Dieng Kulon Dwarawati. Lama bercakap-cakap dengan penghuni base camp seraya menghangatkan diri dengan tungku perapian, satu persatu diantara kami pun tumbang. Berusaha memejamkan mata, ditengah suasana angin malam yang sangat dingin dalam pekat, dalam jelaga, semua bersatu dalam semu.

***Bersambung