Elviandri

Backpacking Menuju Dieng : Antara Purwokerto-Wonosobo (Part 1)



3 Desember 2014

Bersama Desy, Erma, Kautsar dan Fauzi

Jalanan terlihat lengang, aura basah bekas rintikan hujan sayup-sayup nampak menggenang di aspal. Ada yang menumpuk dalam satu kawanan, ada pula yang hanya menempel bekas dirinya pertanda ia pernah datang, begitulah Bogor. Kota dengan segala keharmonisannya menjadi idaman untuk berlabuh bagi orang-orang yang sudah penat dengan aktivitas kantor dan kehidupan perkotaan, maka dari itu tak heran bila ia baru-baru ini mendapatkan predikat kota termacet di Indonesia. Namun tidak dengan malam ini, Bogor menampakkan rupanya seperti terdahulu yang kata orang adalah kota peristirahatan dengan segala keromantisannya.
Beberapa hari ini, ia sedang menunjukkan sisinya yang lain, angin yang cukup kencang membuat beberapa pohon jatuh terkulai, beberapa juga terjadi di Kebun Raya Bogor sehingga mau tidak mau objek wisata andalan Kota Bogor ini harus ditutup tidak menerima kunjungan tamu. Sedangkan hujannya yang ditunggu tak kunjung datang, entah sedang apa gerangan.
Pukul 20.40 kami sampai di Stasiun Bogor, disana kami sudah ditunggu oleh Dessi yang diantar oleh kekasihnya R*****. Oh ya perkenalkan rekan seperjalananku kali ini, selain Desi ada Erma, Kautsar dan tentu saja Fauzi sebagai otak pelaku yang menghasut kami untuk melakukan perjalanan. Ini adalah kali pertama melakukan perjalanan dengan mereka berempat, aku pun baru mengenal Erma dan Dessi ketika beberapa hari yang lalu kami berkumpul  untuk membahas persiapan perjalanan ini.
                                                          ***
Disampingku terlihat Kautsar sudah terlelap dengan tidurnya. Begitupun dengan Erma dan Dessi yang sesekali terjaga karena hentakan kereta sedangkan Fauzi atau yang sering dipanggil uda masih berkutat dengan handphonenya, mungkin sedang merancang rute perjalanan karena beliau ini yang akan bertindak sebagai group leader.
Kereta terus bergerak, melintasi stasiun demi stasiun untuk membawa kami ke Jatinegara untuk selanjutnya ke Pasar Senen. Suasana kereta mala mini cukup sepi, hanya beberapa saja yang harus mengikhlaskan dirinya untuk bergelantungan hingga sampai di stasiun tujuan. Sementara di luar kaca kulihat pekat kian menjelaga, semakin kelam merangkak menuju satu titik.
Pukul 22.30 kami sampai di Stasiun Pasar Senen, mula-mula terlihat sepi, hingga sampai di pintu keluar terlihatlah banyak orang-orang yang tengah terlelap dalam tidurnya. Kulihat wajah-wajah ini cukup bahagia tertidur dengan berbagai posisi dan gaya seolah menyiratkan bahwa hal ini sudah biasa mereka lakukan. Sementara sopir taksi, bajai, ojek dan kernek bus tak henti-hentinya menawarkan jasa untuk mengantar penumpang yang hendak pulang termasuk pun kami.
Jakarta di kala malam benar-benar berbeda, di sekitaran stasiun, di taman-taman, maupun di emperan, orang-orang dengan santainya bergelimpangan tidur beralaskan Koran beratapkan langit. Lirih terdengar juga  carut marut sopir taxi yang nampaknya sedang berebut penumpang dengan pengemudi bajai, semua bersatu dalam pekat malam ibu kota.

4 Desember 2014
Pukul 5.30 kami memulai perjalanan menuju Purwokerto dengan kereta Kutojaya Utara. dahulunya kereta ini bernama Sawunggalih Ekonomi yang dioperasikan mulai 31 Mei 1977. Kereta api yang melayani rute Kutoarjo-Pasar Senen ini hanya berhenti di sepuluh stasiun saja seperti Kutoarjo, Karanganyar, Kebumen, Gombong, Kroya, Purwokerto, Prupuk, Cirebon Prujakan, Jatinegara dan Pasar Senen dengan jarak tempuh 464 km. Kereta ini memiliki kecepatan 50 sd 100 km/jam dengan lebar trek 1067 mm. 
Terdampar di stasiun Pasar Senen
Disepanjang perjalanan, kami memanfaatkan nya untuk tidur. Malam tadi kami tak bisa tidur dengan nyenyak sama sekali, beberapa kali sempat sedikit tertidur namun terbangun karena suara satpam yang membangunkan orang-orang yang tidur dengan posisi terlentang di sekitar area mushola stasiun.
“ Kalau tidur, duduk saja pak/ bu agar yang lain dapat kebagian tempat duduk juga” begitu suara satpam yang sering terdengar di sepanjang malam. Kadang terlintas rasa iba pada penumpang yang tidak hanya orang dewasa namun juga anak-anak ini terbangun ditengah tidur malamnya setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan. 
Namun terkadang iba itupun harus ditahan karena satpam pun terpaksa harus menegur dan membangunkan karena sudah menjadi tugas dari atasannya.
Baru dua jam perjalanan, aku pun terbangun. Dan melihat pemandangan hamparan sawah yang sedang di garap para petani di sawah-sawah. Terasa suasana tenang yang mendamaikan. 
Aku tak tahu entah sedang berada di daerah mana, namun yang pasti kereta Kutojaya Utara yang kami naiki ini melintasi tengah-tengah area persawahan sehingga menjadi daya tarik bagi anak-anak yang melihatnya. Beberapa anak kecil terlihat berlarian di pematang sawah mengejar kereta sambil tertawa bahagia, suatu simfoni alam yang begitu indah.
Suasana di kereta cukup sepi, hanya suara mesin kereta yang beradu keras dengan angin pagi, hingga tak terasa pukul 11.30 kami sudah sampai di Stasiun Purwokerto lebih cepat dari yang diperkirakan.  Suasana di stasiun cukup lengang. 
Stasiun Purwokerto menurutku sudah sedikit lebih modern dari pada Stasiun Bogor karena sudah banyak terdapat rumah makan yang lebih kurang mirip dengan di bandara. Mungkin karena stasiun ini menjadi persinggahan banyak kereta dari berbagai arah di Pulau Jawa sehingga stasiun pun dibuat dan dikelola sebaik mungkin.
            Setelah shalat dan membersihkan diri, kami segera menuju Terminal Purwokerto dengan angkot yang ditemui di pertigaan jalan. Angkot ini berwarna kuning dan biasanya sudah ada trayek jurusan di bagian atasnya dengan tarif Rp 5000. Jalanan di Purwokerto hampir sama dengan suasana di Bogor dan kota-kota lain di Indonesia. Tidak ada suasana khas kota yang mencirikan daerah sehingga berbeda dengan daerah lain. Tata ruang dan lanskap yang hampir serupa terlihat dari pola pengaturan bangunan, sirkulasi maupun arsitektur bangunan yang  di kanan dan kirinya berciri China yang berfungsi menjadi toko-toko dan rumah tinggal yang mendominasi.
           Kami sampai di terminal Purwokerto dan langsung mencari warung makan untuk makan siang yang menurutku cukup mahal. Bagaimana tidak, hanya setengah nasi dan sepotong ikan tanpa embel-embel lauk lainnya dikenakan 18.000 tanpa sambal bahkan. Hal ini membuat rasa percayaku menjadi turun jikalau makanan di daerah Jawa Tengah yang menurut teman-temanku masih tergolong murah.
            Tak ingin berlama-lama, 20 menit kemudian kami segera mencari bus tujuan Wonosobo. Kami bertemu dengan serombongan pendaki lain dari Indramayu yang juga akan mendaki Gunung Prau, tujuan utama kami ke Dieng. Bersama mereka, kami menuju Wonosobo dengan bus seharga 35000 dengan waktu temph kurang lebih tiga jam.
            Pukul 4.00 kami sampai di Wonosobo, lalu berpindah angkutan dari bus AC dengan angkot yang akan mengantar kami ke terminal. Setelah beberapa kali tawar menawar, kami akhirnya menuju terminal dengan tariff 3000 per orang. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali dengan naik minibus berfasilitas AC alami seharga 12.000. mini bus yang padat, terpaksa membuat beberapa orang diantara kami harus ikhlas untuk berdiri dan bergelantungan di pintu hingga sampai di Dieng.

*bersambung