Elviandri

Menikmati Sejenak Hangatnya Air Panas Sungai Tutung



Desa Sungai Tutung terletak di Kecamatan Air Hangat Timur, Kabupaten Kerinci. Desa yang menjadi Ibukota Kecamatan ini sempat menjadi salah satu pilihan menjadi Ibukota Kabupaten Kerinci yang baru. Letaknya yang strategis berada di tengah-tengah Kabupaten Kerinci dan terletak seberang tidak jauh dari Kota Sungai Penuh membuatnya menjadi pilihan. Namun karena berbagai alasan, maka Ibukota Kabupaten Kerinci ditetapkan di Bukit Tengah yang cukup jauh dicapai bagi masyarakat Kerinci bagian hilir. Desa yang saat ini sudah mekar menjadi Desa Baru Sungai Tutung, Desa Taman Jernih dan Desa Simpang Empat ini terkenal dengan kerajinan tangan anyaman rotannya. Selain itu, posisinya yang berada di kaki bukit menjadikan daerah ini subur dan kaya akan hasil pertaniannya. Mulai dari cengkeh, kopi, dan juga hamparan sawah yang terbentang. Ketika malam hari, dari Desa Sungai Tutung, kita dapat menyaksikan kerlap kerlip lampu di Kota Sungai Penuh yang sangat indah.

Selamat datang di Desa Simpang Empat Sungai Tutung

Hari ini saya mengelilingi Desa Sungai Tutung. Desa yang menjadi pintu gerbang untuk masuk ke beberapa desa lain di Kecamatan Air Hangat Timur sedang giat-giatnya membangun. Jalan raya di beberapa bagian masih terlihat sangat parah karena tumpukan tanah yang belum diaspal dengan baik. Saya bersama teman-teman pagi ini menuju Masjid Raya Sungai Tutung. Masjid terbesar di desa ini yang dahulunya memisahkan dua desa yaitu Desa Sungai Tutung dan Desa Baru Sungai Tutung sebelum bertambah menjadi dua desa lagi. Dari simpang empat dengan gapura berbentuk jangki, kami menuju jalan baru. Jalan yang baru dibangun ini sekaligus menjadi penghubung dengan Desa Pungut yang berada di belakang bukit. Rekan seperjalanan saya kali ini adalah teman-teman SMA saya, bersama Yori, Andes, Ogi, Echa, Nisa, Hesti, Pitra dan Suci.
Kami berjalan menuju titik tertinggi desa menyusuri ladang-ladang milik warga. Melewati beberapa anak sungai yang mengalir hingga ke sumpah. Sebuah tempat pemandian umum yang terletak di sebelah kantor Camat Air Hangat Timur. Kami terus bergerak menuju sebuah tempat bernama Villa. Konon, dinamakan demikian karena ditempat ini dahulu pernah terjadi peperangan ketika melawan Belanda dan tempat ini dijadikan sebagai salah satu tempat persembunyian. Kini, bukit yang terlihat seperti sebuah lapangan ini hanya ditumbuhi oleh rerumputan. Biasanya tempat ini sering dijadikan sebagai tempat camping ketika 17 agustus ataupun menjelang tahun baru. Suara derau angin terasa sangat kuat. Lapangan ini menurut saya bisa dijadikan sebagai tempat mendarat helikopter jika diinginkan.
Setelah sampai di Villa, kami istirahat sejenak. Dengan bekal yang sudah kami bawa dari rumah, kami makan di sebuah pondok kayu kecil yang biasanya digunakan sebagai tempat istirahat pengembala sapi. Udara sepoi-sepoi terasa sangat nikmat sambil menikmati alam Kerinci dari ketinggian. Tepat diseberang bukit ini lah Kota Sungai Penuh. Jika dari Bukit Khayangan maka tempat kami berada saat ini terihat sangat jelas. Dari sini juga akan terlihat Danau Kerinci dari kejauhan. Birunya langit berpadu dengan birunya air danau. Lekukan aliran sungai Batang Merao yang bermuara ke Danau Kerinci juga terlihat jelas. Kendaraan yang beriringan di jalan raya terlihat sangat kecil sekali. seperti mainan yang seolah bisa digenggam dan dicuil.

Di bukit Sungai Tutung dengan latar Kota Sungai Penuh

Karena hari sudah menginjak sore, kami memutuskan untuk turun kebawah. Rencananya kami hendak menunggu hingga petang untuk menyaksikan senja dari sini. Namun karena  langit sudah mulai kelam, maka kami memutuskan untuk pulang. Awan hitam terlihat menggumpal di kaki langit yang tadi terasa sangat cerah. Hujan pun menuruni perjalanan kami pulang.
Melewati ladang milik warga, menyusuri kelokan jalan setapak yang masih telanjang merah hanya muat untuk satu orang. lebarnya kira-kiranya tak lebih dari tiga jengkal. Dari kejauhan terlihat Kota Sungai Penuh juga terlihat mulai ditutupi awan. Hanya pemancar yang masih terlihat di puncak. Kami memutuskan untuk melewati jalan pintas agar cepat sampai di bawah. Jalan pintas ini cukup terjal karena langsung menuruni bukit yang kira-kira mempunyai sudut 70 derajat. Jalan seharusnya memutari punggung bukit, melewati padang ilalang hingga sampai di tanah merah. Namun kami memilih berujung di daerah pemandian air panas. Tak lebih dari setengah jam kami sampai di persimpangan jalan. Beberapa teman terlihat sudah berlumuran lumpur di beberapa bagian. Jalanan licin ini sangat lah menguras tenaga.
Ketika sampai di jalan raya, hujan masih tetap berguyur kencang. Beberapa teman memilih untuk langsung pulang. Sementara saya dan Andes memutuskan untuk mandi di permandian air panas Sungai Tutung.  Menghangatkan badan ditengah suasana yang snagat dingin tentunya adalah salah satu pilihan terbaik. Pemandian air panas Sungai Tutung ini adalah salah satu favorit tempat mandi masyarakat Desa Sungai Tutung dan desa-desa sekitarnya. Jika permandian Air Panas di Sungai Medang harus membayar Rp 5000 untuk sekali mandi, maka di desa saya di Desa Brau Sungai Tutung siapapun boleh mandi disini. Secara gratis. Dengan fasilitas seadanya, sudah lumayan bagus untuk merefreshingkan badan dengan mandi air panas.


Pemandian air panas  pria

Di pemandian Air Panas ini,  masyarakat sekitar biasa memanggil dengan nama Gao atau Goo. Terdapat dua tempat permandian yaitu untuk pria di bagian bawah dan untuk wanita di bagian atas. Permandian umum ini terletak di jalan raya sehingga memudahkan siapa saja untuk mandi disini. Permandian umum untuk pria berukuran lebih besar, dan ada 5 pancuran. Ketika mandi disini, saya pun bisa leluasa untuk menentukan kadar panas yang diinginkan. Tinggal merubah arah air panas dengan batu yang terletak di sumber aliran. Sedangkan pemandian umum untuk wanita tempatnya lebih kecil dibagian atas  hal ini karena wanita memang tidak banyak yang mandi disini. Selain itu, di pemandian ini juga terdapat mushola kecil yang di sebelah pemandian air panas sehingga bisa dengan mudah untuk melakukan sholat.
            Pemandian air panas ini, biasanya akan ramai ketika sore hari menjelang malam dan juga pagi hari di waktu subuh. Karena udara yang dingin tentunya sangat pas untuk mandi di air panas. Jika datang ke kerinci tak lengkap juga rasanya jika hanya menikmati pemandangan alam namun tidak merasakan kenikmatan mandi dengan air panas di Kecamatan Air Hangat Timur ini.