Elviandri

Melayang di Bukit Khayangan



         Bukit Khayangan, adalah salah satu objek wisata favorit di Kerinci yang terletak di Desa Bina Karya, Kota Sungai Penuh. Bukit yang merupakan rangkaian dari bukit barisan yang mengelilingi Alam Kerinci ini menjadi tempat yang sangat pas untuk menyaksikan keindahan Kerinci dari ketinggian ± 1500 mdpl baik dikala pagi maupun sore hari. Seperti perjalanan saya sore ini, dengan mengendarai sepeda motor bersama kak  Huda dari pusat Kota Sungai Penuh ditempuh dengan waktu selama  ±35menit. Sama seperti kebanyakan tempat wisata di Kerinci, sangat dianjurkan jika ingin bepergian ke tempat ini dengan menggunakan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil. Atau bisa juga dengan menyewa kendaraan di Kota Sungai Penuh. Karena transportasi umum tidak terlalu berkembang disini. Dari Kota Sungai Penuh tidak ada angkutan umum yang menuju Bukit Khayangan, pilihan terakhir adalah dengan naik ojek yang tentunya akan mengeluarkan biaya lebih banyak.
Akan tetapi, akses menuju Bukit Khayangan ini sudah sangat baik, aspal yang dilewati sangat mulus untuk dapat melaju kencang. Dalam perjalanan ini saya dimanjakan dengan suguhan pemandangan deretan bukit berlapis-lapis yang merupakan area ladang masyarakat. Panorama khas pegunungan yang dihiasi pucuk hijau kemerahan pohon kayu manis (Cinnamomum verum) yang berjejer di lereng-lereng tebing. Dikejauhan akan terlihat hamparan sawah nan menghijau serta Danau Kerinci yang berada ditengah-tengah lingkaran perbukitan. Ladang kentang (Solanum tuberosum) dan cabai (Capsicum annum) juga banyak terlihat di pinggiran bukit sepanjang perjalanan. Jalanan berliku menambah petualangan sore ini menjadi lebih menantang. 

Ketika sampai di Bukit Khayangan, setelah memarkir motor, hal yang tidak disangka pun terjadi. Hujan turun secara perlahan, menyebarkan bau basah diantara dahan yang mulai menguncup. Kami pun memutuskan untuk berteduh sejenak di sebuah pondok bertingkat dua yang ternyata merupakan warung makan yang dimanfaatkan sebagai tempat berjualan. Selain itu, di pondok ini juga terdapat toilet dan sebuah ruang di lantai atas yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk sholat. Air di Bukit Khayangan ini sangat dingin, bening dan membuat saya menggigil sejenak untuk mengambil wudhu. Apalagi hujan deras yang turun membuatnya semakin dingin. Tarif ke toilet cukup membayar Rp.2000 yang kata ibu penjaga warung dimanfaatkan sebagai uang kebersihan dan perawatan. Sedangkan tarif parkir dipatok harga 3.000 perkendaraan. Setelah shalat, kami memesan teh hangat dan gorengan sebagai pengganjal perut. Duduk di lantai dua menyaksikan romantisnya hujan sore ini yang makin lama kian berangsur reda. Jika bepergian secara ramai, sangat dianjurkan untuk membawa makanan sendiri. Karena pasti akan terasa lebih nikmat. 

Hujan telah berangur sirna, kini matahari mulai menampakkan dirinya. Menggeser awan-awan kelam yang menjatuhkan dirinya ditempat yang berbeda. Siluet berwarna jingga membuat sore hari terasa semakin sempurna dengan suara derau angin dan siamang yang saling bersahutan. Bisa dibayangkan jika berada disini ketika malam hari, pastinya taburan bintang dilangit akan terlihat indah menemani malam yang kelam. Kami pun bergerak menuju Gazebo yang dalam perjalanan tadi sudah terlihat atapnya dari kejauhan. Sebuah tempat yang biasa digunakan oleh banyak orang untuk menanti waktu matahari terbit dan terbenam. Sebelum sampai di gazebo ini terlebih dahulu harus melewati anak tangga yang disampingnya terdapat bangku-bangku kecil tempat menikmati keindahan alam. Dari gazebo ini, langit terasa sangat dekat. Awan seperti hanya sejengkal diatas kepala. Hempasan angin seolah-olah membuat saya melayang layang di udara. Sejuk nan menentramkan.