Elviandri

Kesenian Suku Kerinci



Selain terkenal dengan keindahan alam dan sejarah budaya, Suku Kerinci juga memiliki berbagai jenis kesenian tradisional yang salah satunya berbentuk tarian. Beberapa diantaranya adalah Tari Rentak Kudo, Tari Rangguk, Tari Iyo Iyo dan Tari Niti Naik Mahligai. Tarian ini biasanya ditampilkan ketika berlangsungnya acara kenduri Sko, menyambut tamu, Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci dan juga acara lainnya. 


Tari Rentak Kudo

Tarian khas Kerinci ini berasal dari Kecamatan Hamparan Rawang di Kota Sungai Penuh. Selain di acara adat, tarian ini juga biasa ditampilkan ketika ada resepsi pernikahan, hari perpisahan sekolah dan sebagainya. Tarian ini dimainkan oleh penari laki-laki dan perempuan dari berbagai usia. Tarian yang mengedepankan hentakan ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat dalam suatu  perhelatan kenduri. Selain diiringi alat music gendang, tarian ini juga berisi nyanyian  berupa pantun-pantun. Lirik dalam lagu ini menceritakan tentang kisah nenek moyang dahulu ketika masih dalam pemerintahan para depati dan hamparan Rawang sebagai pusat pemerintahan karena letak keberadaannya yang berada di tengah-tengah. Hal ini tergambar dari syair " tigoa dili, empoak tanoh rawoa. tigoa mudik, empoak tanoh rawoa". Yang berarti " Tiga di Hilir, Empat dengan Tanah Rawang. Tiga di Mudik, Empat dengan Tanah Rawang". Dalam tarian ini, gerakan yang digunakan merupakan kombinasi dari gerakan silat dan tarian, di beberapa daerah di Kerinci tarian ini sering juga dilakukan dengan menambahkan kemenyan sehingga penari semakin larut dalam tarian bahkan terkadang terjadi kesurupan. 

Tari Rangguk
Tarian ini berasal dari Desa Cupak, Kabupaten Kerinci yang diperkenalkan oleh seorang ulama yang tujuan awalnya adalah untuk mensyiarkan agama Islam. Tarian ini begitu kental dengan nuansa Islam. Tarian yang dimainkan oleh lima hingga sepuluh orang ini mengenakan pakaian serba tertutup. Para pemain laki-laki mengenakan pakaian lengan panjang sebagai atasan dan celana panjang sebagai bawahan. Sementara pemain perempuan mengenakan baju lengan panjang sebagai atasan dan kain panjang sebagai bawahan. Para pemain perempuan juga menggunakan kerudung sebagai penutup kepala.
Tari Rangguk yang berarti Angguk atau mengangguk ini dimainkan dengan anggukan kepala dengan ditabuh irama rebana. Biasanya tarian ini dimainkan ketika ada acara Kenduri Sko dan juga  menyambut kedatangan tamu kehormatan. Gerakan utama berupa anggukan kepala merupakan symbol berupa ucapan selamat datang kepada tamu kehormatan. Dahulu tarian ini dilakukan oleh anak jantan atau anak laki-laki dewasa, sementara anak batino atau anak perempuan dianggap tabu jika melakukan tarian ini. Namun seiring perkembangan, tarian ini saat ini justru banyak dilakukan oleh anak perempuan dalam berbagai usia, termasuk juga anak-anak.



(Tari Rangguk yang dilakukan oleh anak-anak dalam menyambut tamu)
Sumber : httpria-meilizasudirman.blogspot.com


Tari Iyo Iyo
            Tarian ini dilakukan oleh kaum perempuan dengan jumlah enam orang atau lebih dan dibawakan dengan cara berpasangan. Selain penari, tarian ini juga melibatkan tiga orang pemusik yang terdiri dari dua orang pemain gendang dan satu orang pemain gong. Gendang yang digunakan adalah gendang yang terbuat dari bambu atau biasa disebut gumbe. Sedangkan gong terbuat dari tembaga.  Tarian ini berfungsi sebagai pengiring acara Kenduri Sko dan dilakukan setelah penurunan benda pusaka yang biasanya ditampilkan di sebuah halaman terbuka. Iyo-iyo dalam dialeg Kerinci berarti ya-ya, yang bermakna membenarkan.

Tari Niti Naik Mahligai
 
Tarian ini berasal dari daerah Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci. Tarian ini mengandung unsur magis yang sangat kental dan biasanya dilakukan oleh para wanita dewasa. Biasa ditampilkan ketika acara adat dan Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMDK). Atraksi yang disuguhkan membuat siapapun akau terpukau  karena penari akan menari diatas bara api yang membara, berjalan diatas pisau atau mata pedang yang menancap serta atraksi lainnya.
Tari Niti Naik Mahligai berasal dari kata niti yang berarti sedang berjalan, naik yang berarti sedang menuju suatu tempat yang tinggi serta mahligai yang berarti tahta. Secara harfiah dapat diartikan bahwa tarian ini bermakna dilakukan secara khidmat atau khusuk untuk mencapai suatu tujuan yaitu tahta. Pada zaman dahulu, tarian ini berfungsi sebagai sarana komunikasi kepada arwah roh nenek moyang serta juga sebagai sarana ungkapan rasa syukur. Saat ini tarian Niti Naik Mahligai dapat dijumpai jika sedang ada acara khusus di Kerinci.