Elviandri

Semerkah Pesona Curug Cinulang

Mengunjungi kawasan konservasi Masigit Kareumbi, belum lengkap rasanya jika tidak singgah sejenak di Curug Cinulang. Selain karena memang berdekatan, kedua lokasi ini juga mempunyai keunikan tersendiri sehingga sangat harus dikunjungi ketika berkunjung ke Bandung Timur. Ibarat sebuah paket yang saling melengkapi, jika Masigit Kareumbi memanjakan mata dengan suasana asri, hijau,  dan rindang.  Maka, Curug Cinulang akan memberikan panorama alam berbeda. Keindahan yang terpancar begitu mempesona dan berwana.
Kekaguman tidak hanya pada derasnya butir air putih menggumpal serupa salju yang terhempas lalu menguap ke udara dari bebatuan hitam di bawahnya, tetapi juga pada tebing berwana kuning kecoklatan dengan akar-akar pohon yang menjalar. Berpadu dengan hijau lumut yang menempel mesra di tebing-tebing yang ketika diterpa sinar matahari akan terlihat lebih tajam dan menyala memancarkan inspiring beauty bagi siapapun yang melihatnya.
Setelah puas mengelilingi kawasan konservasi Masigit Kareumbi, seolah tak ada alasan bagi kami para peserta Ekspedisi Mata Angin 2014 untuk tidak berhenti di curug yang keindahan dan gema suaranya sudah terdengar dari jalan raya. Perjalanan dari Masigi-Kareumbi turun hingga sampai di pintu masuk curug Cinulang ditempuh selama 15 menit atau lebih cepat 16 menit ketimbang perjalanan mendaki dari pintu masuk Curug Cinulang menuju Masigit Kareumbi yang ditempuh selama 31 menit.
Melewati jalanan perkampungan yang begitu tenang, anak-anak terlihat sedang berlari riang diantara selasar rumah yang berhadapan dengan jalan yang tidak begitu besar. Setelah memarkir mobil express across nation yang mengantar kami, kami segera memasuki sebuah gerbang penyambut tamu bertuliskan “Selamat Datang di Objek Taman Wisata Curug Cinulang”. Disamping gerbang, terdapat sebuah pos penjagaan yang terbuat dari kayu yang hanya berukuran 2 X 2 meter.
Untuk masuk ke taman wisata curug Cinulang ini setiap orang dikenakan biaya Rp 5.000, sedangkan untuk parkir Rp 10.000 per mobil. Dipinggir jalan sebelah pintu masuk terdapat beberapa warung yang menjual gorengan serta makanan dan minuman lainnya. Didalam kawasan taman wisata, juga terdapat penjual siomay dan bakso menjajakan dagangan mereka dipinggir warung.


Pesona Pelangi Cinulang  
            Tidak sulit untuk bisa sampai di kaki curug ini, karena telah disediakan undak-undakan dari tanah dan beton serupa anak-anak tangga yang disetiap sisi bagian datarnya ditempati oleh warung atau pondok-pondok kecil tempat bersantai. Beberapa jenis bunga seperti Arachis pintoi nampak bergoyang-goyang terkena hembusan angin yang datang dari aliran curug.
            Saya berhenti sejenak di sebuah pondok kecil disebelah warung yang menghadap ke curug untuk menyaksikan nya dari atas, sedangkan teman-teman AICT lainnya terlihat beberapa sudah sampai di kaki curug dan bersiap-siap mengambil posisi terbaik untuk mengambil gambar. Saya membeli cilok lima potong dengan harga Rp 5000, cukup membantu menghangatkan tubuh yang sedari tadi mulai dihinggapi dingin. Suasana curug semakin rome semakin ramai, umumnya pengunjung yang datang adalah sepasang muda-mudi dari berbagai usia yang sedang memadu kasih, ada juga sebuah keluarga yang terlihat sedang memulai menyantap bekal perjalanan mereka di pondok kecil pinggir sebelah tangga.
Tidak afdhol rasanya, jika ke curug tanpa merasakan dinginnya air secara langsung. Melewati sebuah jembatan bambu dan merayap diantara tebing-tebing seraya berpegangan pada batu. Ketika menyentuh air, tangan terasa membeku. Namun langsung terbayar dengan segarnya yang luar biasa. Uap air juga berhembus begitu cepat sehingga seluruh tubuh basah seketika. Perlahan, dibalik bongkahan batu-batu muncul lah pelangi dengan segala keelokannya melingkar kecil dari ujung ke ujung. Timbul dan tenggelam memamerkan keindahan warnanya berseri-seri. Cahaya matahari pun tiba-tiba menyeruak dari balik pohon dan memedarkan kemilau emas yang terpantul diantara riak-riak curug. Pelangi sore ini melengkapi keindahan alam Bandung timur yang masih jarang terjamah.




Curug dengan ketinggian sekitar 40 meter ini mempunyai dua debit yang berbeda. Tumpahan air dari curug sebelah kiri mempunyai debit cukup tinggi dan berlapis-lapis memainkan uap yang mengambang sedangkan curug bagian kanan mempunyai debit yang cukup rendah.


Terpukau Senja di Padang Ilalang
            Menjelang pukul lima petang, kami akhirnya memutuskan untuk beranjak pulang. Dan lagi-lagi, kami tak tahan untuk tidak berhenti menyaksikan senja di ufuk barat yang kilaunya begitu menggoda masuk menyelinap diantara ruang-ruang kecil di mobil. Rombongan anak muda terlihat sedang bermain sepakbola , sedangkan muda-mudi lainnya menghabiskan waktu dipinggir jalan menikmati semilir angin bersama senja yang mulai memedar tahtanya di kaki langit.
            Saya kemudian menuju padang ilalang yang berada di sebelah kanan jalan raya, dibawahnya tergambar jelas petak demi petak sawah, jalan raya seperti garis lurus, serta orang-orang yang berjalan terlihat sangat kecil. Saya menghabiskan banyak waktu disini, duduk sejenak. Menikmati detik demi detik hirupan nafas. Mengagumi keindahan alam tuhan sang pencipta semesta raya yang tercipta di Bandung timur yang begitu indahnya.

Disepanjang perjalanan pun, alam nan indah menyertai kami lewat  hamparan sawah terasering berwarna hijau yang menjadi pencuci mata sekaligus pembawa nostalgia pada cerita kakek nenek tentang indahnya alam di tanah Pasundan.

Penasaran dengan segala surga dunia di Bandung timur? Kemas barangmu sekarang dan berangkatlah, sekarang !