Elviandri

Menggapai Puncak Andalas: Gunung Kerinci



Sebelum masuk surga di akhirat, hendaklah terlebih dahulu mencicipi surga di muka bumi”
            Ada banyak surga di muka bumi, setidaknya begitulah pepatah lama berujar. Dari sekian banyak manusia di muka bumi ini, ada berbagai jenis definisi surga yang dapat diinterpretasikan sesuai sudut pandang masing-masing. Dan salah satu surga yang dapat di temukan di Alam Kerinci adalah bentang alamnya yang terdiri dari gugus Bukit Barisan dengan puncak tertingginya, Inderapura di Gunung Kerinci yang juga merupakan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua.
            Salah satu pengalaman berharga ketika saya berada di Alam Kerinci adalah ketika melakukan pendakian menuju puncak Gunung Kerinci. Gunung Kerinci merupakan gunung api tertinggi di Indonesia, bagian dari pegunungan bukit barisan ini berada dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Berada pada ketinggian 3.805 meter diatas permukaan laut, gunung ini berbentuk kerucut dengan lebar 13 km dan panjang 25 km memanjang dari utara ke selatan dengan kawah pada bagian puncak sedalam 600 meter.
            Perjalanan ini dimulai dari Desa Baru Sungai Tutung menuju Kota Sungai Penuh. Diantar oleh ayah dan adik, saya bersama kak Huda memulai sebuah petualangan paling nekat tahun ini. Petualangan paling nekat dengan persiapan seadanya. Hanya bermodalkan semangat dan tenaga yang masih menyala. Pendakian ini kami lakukan hanya berdua, karena beberapa teman yang awalnya ingin ikut membatalkan rencana secara sepihak. Dan jadilah kami, dua orang anak manusia dengan semangat gegap gempita, berjalan dengan tujuan menikmati salah satu ciptaan Allah di tanah Kerinci.
Pagi ini, jalanan cukup licin, hujan malam tadi membuat semuanya menjadi sayu. Pagi inipun, rintik hujan masih dengan setia bersama kami. Menari-nari kecil sebelum akhirnya melayang, dan terhampas ke tanah. Tepat pukul  tujuh pagi, kami sudah sampai di simpang raya Pesisir Bukit. Dan tentunya, sepagi ini sangatlah jarang menemukan angkot yang sudah memulai perjalanannya. Dan akhirnya Ayah memanggil angkot yang kebetulan sedang mengetem di dekat Lapangan Merdeka Sungai Penuh. Tak sama seperti angkot di Bogor yang saling berhadapan, di Kerinci angkot seperti bus dengan kursi semuanya menghadap kedepan. Di angkot ini hanya terdapat satu penumpang bapak-bapak yang duduk paling depan nampak sedang asyik dengan sebatang rokoknya.
            Perjalanan pun dimulai. Selama perjalanan kak Huda terlihat sedang searching mencari segala informasi tentang pendakian. Sementara aku memanfaatkan untuk tidur sejenak. Dan terbangun ketika sudah sampai di pasar Siulak. Disini barulah banyak penumpang lain yang naik dengan barang belanjaan. Perjalanan menuju Tugu Macan di Desa Kersik Tuo memakan waktu kurang lebih dua jam dari Kota Sungai Penuh. Namun kami sampai terlambat karena tiba-tiba angkot yang kami tumpangi mogok karena pecah ban. Sebuah halangan pertama yang membuat kami harus menghela nafas, karena tentunya perhitungan waktu sangat diperlukan agar bias mencapai target sesuai jadwal.

            Sesampainya di Tugu Macan, kami menuju penginapan Paiman untuk menyewa matras serta peralatan lain yang kurang. Beberapa pendaki terlihat sedang membereskan peralatan menuju Danau Gunung Tujuh. Salah satu dari mereka adalah mas Iwan yang berasal dari  Jakarta. Katanya masih ada satu kelompok pendaki yang masih di shelter tiga ketika mereka turun tadi pagi. Mendengar kabar itu tentunya kami sedikit bahagia karena tidak akan berdua saja di shelter tiga. Shelter tiga merupakan tempat terakhir sekaligus menjadi pembatas tempat tumbuhnya pepohonan dan tanaman. Merupakan tempat favorit mendirikan tenda. Setelahnya, jalan menuju puncak hanya terdapat bebatuan khas gunung berapi. Setelah berpamitan kami pun melanjutkan perjalanan mencari ojek di simpang menuju Sungai Tanduk yang akan membawa kami ke Pintu Rimba. Jika ditempuh dengan jalan kaki, nampaknya jarak yang harus di lalui cukup jauh. Dengan naik ojek saja kami sampai sekitar 15 menit. Dan tentunya tidak ingin kehilangan tenaga lebih banyak dahulu karena belum memulai perjalanan yang sesungguhnya.

Di pintu rimba tak lupa kami mengabadikan foto kenangan sebelum perjalanan dan juga berdoa meminta kemudahan langkah agar disampaikan ke tujuan. Perjalanan sesungguhnya baru dimulai dengan menapaki jalur datar hingga sampai di pos 1. Hutan lebat dengan dahan yang masih basah bekas hujan masih menyertai kami. Di area ini, dikenal juga oleh banyak orang sebagai jalur perlintasan harimau. Ngeri tentu saja, apalagi kami melakukan pendakian ini hanya berdua. Beberapa jenis binatang lain seperti tapir, kus-kus, gajah, siamang, monyet ekor panjang, gibbon dan berbagai jenis burung juga terdapat disini. Dari pos 1 menuju pos 2 dan pos 3 saya menemukan banyak sekali jenis tumbuhan dataran rendah seperti mahoni dan juga tanaman lain seperti, Pohon cemara, dan Suweg Raksasa (Amorphophallus titanum). Kak Huda yang kuliah di jurusan proteksi tanaman beberapa kali juga minta berhenti bukan karena kelelahan namun karena ingin menangkap dan memfoto beberapa jenis serangga dan dan kupu-kupu. Di hutan ini lah saya belajar mengenali berbagai jenis tanaman yang dipelajari bangku perkuliahan. Tidak percuma kuliah di fakultas pertanian.
Hawa dingin mulai menyergap dalam perjalanan menuju shelter 1. Jarak yang sangat panjang, membuat beberapa kali kami berhenti untuk istirahat. Sesampainya di shelter 1 kami memutuskan untuk makan siang. Menyiapkan jas hujan dan juga membuat kopi setelah melihat hujan yang mulai turun sedikit demi sedikit. Perjalanan menuju shelter tiga masih sangat panjang. Beberapa kali kami bertemu dengan rombongan yang sedang dalam perjalan pulang. Nampaknya inilah rombongan yang diceritakan mas Iwan ketika di penginapan Paiman. Pupus sudah harapan kami, membayangkan hanya akan berdua saja di tempat belum pernah dikunjungi sebelumnya di sebuah ketinggian bukanlah sebuah harapan yang baik.
Kami sampai di shelter dua ketika matahari sudah benar-benar tak terlihat, digantikan oleh hujan deras yang turun membasahi. Karena target kami harus sampai di shelter tiga ketika senja. Maka kami pun melanjutkan perjalanan hingga shelter 3 di ketinggian 3.320 mdpl. Dari shelter dua inilah perjalanan terasa menjadi sangat lama dan panjang. Jalan menanjak melewati sebuah jalur yang lebih mirip seperti sebuah terowongan air yang cukup untuk satu orang. Saya lebih memilih untuk berjalan di dalam terowongan ini walaupun harus sering merangkak untuk memanjat batu yang cukup licin. Sedangkan ka Huda nampaknya memilih menyusuri pinggiran terowongan dengan berpegangan pada akar-akar tanaman. Dingin sangat terasa menusuk, ujun jari tangan saya seperti sudah mati rasa. Sejenak say terpikir untuk kembali kebawah dan menghentikan perjalanan sampai disini. Namun pilihan itu tentunya bukanlah pilihan yang baik mengingat hari mulai sore.
Dengan sisa tenaga yang ada, saya tetap berjalan selangkah demi selangkah. Tak ingin memandang kedepan karena terasa sangat jauh. Sementara kak Huda sudah tidak terlihat dibawah sana. Saya pun memutuskan untuk menunggu sejenak berlindung di balik batu. Mengeluarkan permen yang diberikan ibu sebagai tambahan bekal perjalanan. Benar kata mas Iwan, perjalanan mendaki Gunung Kerinci ini memang memberikan tantangan tersendiri. Tantangan yang diberikan lebih berat dari gunung-gunung yang terdapat di Pulau Jawa, termasuk Gunung Semeru yang akhir-akhir ini menjadi idaman bagi banyak orang. Entah benar atau tidak, yang jelas saya merasakan memang perjalanan ini sungguh mendebarkan. Saya terus berdoa selama perjalanan agar bisa sampai kembali ke rumah dalam keadaan sehat walafiat.
            Beberapa kali saya memanggil ka Huda, dan suaranya tak juga terdengar. Saya memutuskan untuk kembali kebawah. Takut jika terjadi sesuatu dengan rekan seperjalanan saya satu-satunya ini. Carrier saya tinggalkan di bawah tumpukan daun-daun di pinggir jalan agar tidak terlalu basah. Perjalanan turun memang selalu lebih mudah, saya meluncur dan terkadang sedikit berlari agar lekas sampai. Di perjalanan turun saya bertemu dengan tiga orang pendaki lain yang berasal dari Kabupaten Merangin yang sedang istirahat. Saya sedikit bahagia itu berarti akan ada tambahan rekan seperjalanan. Saya berhenti sejenak, dan bertanya apakah mereka melihat kak Huda yang masih tertinggal di belakang. Alhamdulillah nya, baru mereka akan menjawab. Kak Huda muncul dengan wajah terlihat sangat kelelahan. Saya memutuskan untuk menunggu kak Huda istirahat. Sedangkan empat orang pendaki ini melanjutkan perjalanan terlebih dahulu. 
            Saya bergantian membawa carrier kak Huda yang memang lebih berat dari carrier saya agar lekas mencapai tujuan. Hujan makin menjadi, seolah tak ingin reda hingga kami sampai di shelter tiga. Sekitar pukul  6 sore akhirnya kami sampai di shelter ini dan langsung mendirikan tenda. Di shelter tiga ini, nampak dua buah tenda telah berdiri. Tenda paling ujung adalah tenda rombongan yang tadi kami temui dalam perjalanan, sedangkan satu lagi meurut Dede salah seorang dari anggota rombongan merupakan turis dari Polandia. Masalah kemudian datang, ditengah hujan yang sangat lebat ini, tiang untuk tenda tiba-tiba patah sehingga salah satu ujung tenda tidak bisa berdiri dengan baik. Ka Huda telah menyerah, dan disinilah makna perjalanan sesungguhnya akan terlihat. Dan yang saya suka dari petualangan di alam ini adalah manusia akan menjadi lebih peka dan saling tolong menolong. Karena melihat tenda kami tak kunjung selesai, padahal jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Keluarlah Dede dan seorang teman  nya untuk membantu. Dengan akar-akar dan ranting tanaman. Akhirnya tenda kami berdiri juga dengan baik. Andai kata dalam kehidupan setelah nyata semua manusia akan bersifat seperti dalam keadaan di atas gunung pastilah tidak akan ada kesenjangan hidup di negeri yang kaya ini.
Tenda kami yang akhirnya berdiri juga

            Setelah memasukan barang-barang ke dalam tenda. Kami bersiap untuk memulihkan tubuh yang sudah sangat menggigil. Membuat kopi dalam tenda yang diterpa angin kencang adalah sebuah pengalaman yang jarang-jarang saya alami. Besok pagi, kami berencana akan summit attack bersama rombongan dari Merangin yang telah membantu kami tadi. Berusaha untuk tidur ditengah dingin, belum lagi ternyata kami harus menerima kenyataan bahwa tenda ini bocor dibagian bawah sehingga  tenda dipenuhi genangan air. Sleeping bag pun basah tak terelakka. Sehingga hanya memanfaatkan sisa bagian yang masih hangat untuk menikmati malam. Dingin, lirih. Kini hanya ada tuhan, gunung dan tiga tenda yang berisi anak manusia di tengah hutan yang masih menyimpan misteri di bagian puncak untuk dijejaki. Sementara  malam kian merangkak pelan bertabur bintang, berpadu dengan serau angin gunung yang tak hentinya mengusik tidur kami yang tak terlalu lelap.
            Pukul 5.30 kami terbangun untuk shalat subuh. Keluar sejenak untuk merasakan udara dingin yang menjadi-jadi. Kami berencana untuk menuju puncak pukul 6.00 yang akhirnya molor hingga pukul 6.30 dan memang tidak ingin mengejar sunrise di puncak melainkan di tengah perjalanan. Sementara turis Polandia ternyata lebih rajin dari kami dan sudah memulai perjalanan menuju puncak dari jam 5 pagi walaupun tetap masih terhitung telat untuk menyaksikan sunrise dari puncak. Dikejauhan terlihat Danau Gunung Tujuh yang dikelilingi oleh tujuh gunung yang memantulkan semburat keemasan. Langit jingga kemerahan mulai menyeruak dibalik langit. Garis horizon terpampang jelas di mata. Sebuah lukisan alam yang benar-benar nyata. Dibelakangnya berdiri pula dengan megah berlapis lapis bukit dan gunung yang saling menghimpit. Keindahan panorama alam ini diperjelas dengan hamparan kebun teh dan rumah-rumah warga yang terlihat sangat kecil di bawah sana.

Saat-saat inilah saya merasa sangat kecil di hadapan tuhan. Kecil sekali. Dan rasanya bersyukur tak henti-henti atas semua karunia yang telah diberikanNya. Perjalanan menuju puncak adalah perjalanan penuh haru dan mendebarkan bagi saya. Melewati lereng bebatuan dan pasir yang membuat sendal saya sering terbenam hingga sulit untuk berjalan. Kami berenam melangkah beriringan, sesekali berhenti untuk menunggu yang lain agar tidak tertinggal terlalu jauh. Rasa ingin mengakhiri perjalanan ini dengan turun kembali ke bawah terkadang muncul setelah melihat puncak yang tak kunjung datang. Namun melihat perjalanan yang sudah sejauh ini, saya tak ingin berakhir dengan sia-sia. Semangat dan dukungan dari rekan perjalanan baru pun menambah energi agar tetap melangkah dan sampai di puncak.
            Sesekali kami merayap dan berlarian melompat bersembunyi kesela bebatuan atau gundukan pasir untuk melindungi diri dari angin kencang dan pasir yang beterbangan. Persis seperti hendak berperang. Pendakian ke Gunung Kerinci ini benar-benar membutuhkan semangat dan motivasi tinggi untuk sampai di titik tertinggi Andalas. Satu jam kemudian, kami sampai di Tugu Yudha yang sangat bersejarah tersebut. Kisah perjalanan seorang pendaki yang hilang dan hingga sekarang belum ditemukan jasadnya. Kami berhenti untuk istirahat di Tugu Tudha ini. Sembari memantapkan hati bahwa pendakian ini memang bukanlah pendakian yang mudah.
Mencapai puncak yang tak kunjung sampai

            Ditugu Yudha inilah akhirnya saya dan kak Huda berkenalan dengan empat orang teman yang kami temui diperjalanan ini. Mereka adalah Rio, Dede, Ari dan Adi. Ari adalah pemimpin perjalanan mereka dan merupakan orang asli Kerinci berasal dari Siulak, sementara tiga lainnya berasal dari Merangin. Mereka berempat adalah mahasiswa SMK yang sedang PKL di Kayu Aro. Oh pantas saja jalan mereka sangat cepat, piker saya. Ari sudah berkali-kali mendaki Gunung Kerinci, sehingga kami merasa cukup aman menjadikan dia sebagai penunjuk arah menuju puncak. Dari Tugu Yudha, masih terlihat satu tanjakan terakhir yang menurut Ari adalah jalan terakhir menuju puncak. Disini bukan hanya kaki yang bekerja, namun juga tangan dan seluruh anggota tubuh agar tetap seimbang karena pijakan berpasir kadang membuat sangat sulit untuk bergerak.
Bersembunyi di bebatuan

            Perjalanan yang sangat menguras tenaga ini akhirnya membuahkan hasil manis. Kini saya berada tepat di titik tertinggi pulau Sumatera yang dahulu bahkan belu pernah saya impikan. Puncak Kerinci ini hanya terdiri dari sedikit saja lapangan datar yang sangat sempit, disebelahnya langsung berhadapan dengan kawah sementara sisi lainnya adalah jurang. Bau belerang yang sangat menyengat membuat kami tidak bisa berlama-lama disini. Menikmati alam dari ketinggian 3805 meter tepat seperti sedang berdiri di negeri diatas awan. Bagi sebagian orang mendaki gunung dan mencapai puncaknya adalah suatu aktivitas tanpa makna dan melelahkan. Namun disinilah sebuah sensasi dan pengalaman yang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Disini, tidak ada yang bisa menandingi sebuah upah pendakian selain kepuasan batin tiada tara. Mencapai puncak Kerinci memahamkan kami akan makna hidup yang sesungguhnya, tentang perjuangan dan juga tentang cita-cita yang tentunya tidak akan bisa diraih dengan mudah.  Alam Kerinci memang mampu memikat dn menggoda para penikmat keindahan. Bagi yang sedang menjelajah Kerinci. Melakukan pendakian ke Gunung Kerinci tentunya adalah sebuah hal yang jangan sampai terlewatkan. Temukan dan rasakan surga tuhan di lembah Bukit Barisan.
Puncak Gunung Kerinci dari ki-ka (Rio-Ari-Saya-Adi-Dede)