Elviandri

Surga Kecil di Timur Bandung



Setelah hampir dua bulan tidak menulis. Agaknya, harus mengawali bulan Oktober dengan sesuatu yang baik. Welcome Oktober. Semangat menulis. Berikut tulisan saya ketika mengikuti Ekspedisi Mata Angin di Bandung september lalu. Mengeksplor Bandung Timur yang masih kurang terjamah. Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak ya..

Surga Kecil di Timur Bandung



Keindahan panorama alam Bandung, tidak hanya tentang Kawah Putih Ciwidey yang terkenal dengan keunikannya, bukan juga tentang Gunung Tangkuban Perahu yang sudah tersohor dengan legendanya. Namun lebih dari itu, Bandung ternyata juga mempunyai pesona lain di belahan timur nya yang cukup jarang di kunjungi, seperti sebuah surga kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

Gemericik air terdengar lirih mengaliri anak sungai, berpadu dengan serau angin yang menerbangkan dahan ke muka tanah. Sementara suara burung terdengar sedang beradu kencang saling sahut menyahut dengan beberapa angsa yang sedang mencari makan. 
            Saya segera turun dari mobil yang telah membawa kami melewati jalanan berliku penuh tanjakan menuju pintu masuk kawasan konservasi Masigit Kareumbi. Kawasan konservasi seluas 12.420,70 Hektar ini, terletak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut. Dari wisma pendawa Ciumbeulit, kami menempuh waktu selama 90 menit perjalanan melewati Cicalengka- Sindangwangi-Tanjungwangi dan Blok KW (Cigoler) yang merupakan pintu masuk utama.

Kampung Rusa
            Salah satu keunikan dari kawasan konservasi ini adalah ia berada di tiga daerah administratif sekaligus yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang yang hanya dipisahkan oleh sebuah aliran anak sungai. Dari pintu masuk kawasan konservasi, saya dan beberapa teman dari Ekspedisi Mata Angin 2014 memulai perjalanan dengan melewati sebuah jembatan yang ternyata menjadi pemisah antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut. Kami kemudian berbelok ke arah kiri menuju kampung rusa dan melewati sebuah jembatan kayu tua yang ternyata menjadi pembatas kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang.  Tidak kurang dari tujuh menit, kami telah menjejakan kaki di tiga kabupaten secara bersamaan layaknya pengantar barang dengan express across nation secapat kilat.
Sesampainya di kampung rusa, kami langsung disambut oleh bapak Yudi Alwahyu yang lebih akrab disapa abah Ayut. Beliau adalah salah satu anggota dari Wanadri yang bertugas sebagai ketua pengelola program wali pohon. Selain rusa, disini juga terdapat beberapa ekor kelinci, kalkun dan juga anak ayam yang hilir kemari. Rusa yang kami jumpai berjenis kijang (Muntiacus muntjak) yang saat ini populasi nya semakin menurun. Rusa yang terlihat malu-malu dan semakin menjauh jika didekati tersebut, ternyata sempat membuat frustasi beberapa teman peserta AICT karena cukup sulit untuk mendapatkan foto dengan komposisi terbaik. Agaknya, ia sedikit takut karena tidak ingin inspiring beauty nya memudar dan hilang. 

Eksotisme Rumah Pohon Hutan Pinus
            Dari kampung rusa, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah pohon yang terletak ditengah hutan pinus. Melewati jalan setapak yang kiri kanan nya ditumbuhi tanaman kopi.  Rumah pohon ini berdiri mengelilingi sebuah lapangan yang biasanya digunakan sebagai tempat menyalakan api unggun. Setiap rumah pohon memiliki sebuah toilet yang dilengkapi dengan bak berisi air yang dialirkan melalui kran-kran. Harga dari masing-masing rumah pun berbeda, untuk rumah berkapasitas 10 orang biasanya dipatok harga Rp 550.000 permalam dengan fasilitas sleeping bag, tabung gas dan lainnya.  Menginap di rumah pohon tentunya adalah sebuah pilihan yang sangat tepat untuk menikmati sensasi tinggal diantara pohon pinus yang tinggi menjulang.
            Makan siang di bawah barisan pohon pinus bersama terpaan angin yang terasa sangat sejuk membuat kami betah berlama-lama, sehingga tidak sadar bahwa waktu sudah beranjak sore. Jika tidak ingin repot membawa perbekalan, di kawasan konservasi ini juga terdapat sebuah kantin yang menjual berbagai makanan dan minumana siap santap. Suasana sekitar kantin yang sangat nyaman dapat dijadikan sebuah pilihan untuk istirahat menikmati siang berhadapan dengan kolam. Arsitektur kantin dan rumah pohon mewakili cirri khas Sunda yang merupakan campuran dari bambu, kayu, tembikar serta beratapkan ijuk. Harmoni dengan alam.
Sebelum pulang, kami pun tidak ingin ketinggalan menjadi wali pohon. Kami menanam tiga batang pohon yang masing-masing telah diberi papan nama yang berada di samping kantor informasi. Wali pohon adalah sebuah program konservasi menanam sejumlah batang pohon dengan model adopsi bergaransi selama lima tahun. Program ini turut serta memberdayakan masyarakat sekitar sebagai pemelihara dan pengunjung sebagai wali pohon.
Untuk satu batang pohon dikenakan biaya sejumlah Rp 50.000 rupiah sebagai biaya perawatan dan nantinya akan mendapatkan sertifikat wali pohon dan pengunjung dapat melihat perkembangan pohon yang telah ditanam kapan saja. Beberapa jenis pohon bisa dipilih untuk ditanam yaitu, Manglid (Manglieta glauca), Sobsi (Maesopsos eminii), Puspa (Schima wallichii), Salam (Syzgium polyanthum), Rasamala (Altingia excelsa), maupun Suren (Toona sureni). Kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan favorit pengunjung yang datang ke kawasan konservasi ini karena itu berarti telah ikut menghijaukan kembali kawasan hutan yang gundul. 





Sekilas Tentang  Masigit Kareumbi
Its My team (Ki-ka) Bagiar, saya, Ayu,Huma, Fadhil, Feri, and Lemon as LO
Untuk memasuki kawasan ini tidak ditarik biaya seperserpun, kecuali jika ingin melakukan aktivitas seperti camping, bermalam di rumah pohon serta aktivitas lain yang biayanya digunakan untuk pemeliharaan. Waktu terbaik untuk datang ke kawasan konservasi ini adalah pada hari kerja setiap senin hingga jumat, terlebih bagi yang membutuhkan suasana sepi karena pada akhir pekan biasanya akan ramai oleh pengunjung yang akan camping atau sekedar piknik keluarga.