Elviandri

Peradaban Sejarah di Bukit Kerman


          Melanjutkan cerita  perjalanan ketika penelitian empat bulan yang lalu. Tujuan saya selanjutnya adalah Bukit Kerman, yaitu sebuah Kecamatan Baru hasil pemekaran dari Kecamatan Gunung Raya dan Batang Merangin yang baru di bentuk pada tahun 2012 lalu. Setelah Zuhur, saya memulai perjalanan dari Kota Sungai Penuh bersama Yogi, rute yang kami ambil adalah rute mengelilingi Kecamatan Keliling Danau melewati Desa Pulau Tengah dan beberapa desa-desa lainnya. Desa Lolo Kecil adalah tujuan utama kami. Perjalanan dari Kota Sungai Penuh dapat ditempuh dalam waktu 45 menit.
            Ketika melewati jembatan Jujun, secara tidak sengaja saya melihat sebuah papan nama di pinggir jalan yang tidak terlalu jelas karena tertutup daun, setelah didekati papan nama itu bertuliskan batu silindrik Jujun, dengan jarak kurang lebih 3 km dari jalan raya tempat kami berada saat ini. Karena penasaran, kami pun memutuskan untuk berbelok arah memasuki sebuah lorong menuju sebuah bukit. Jalan menuju bukit ini cukup licin, terlihat beberapa genangan air bekas hujan kemarin bersatu dengan daun yang berjatuhan. Setelah melintasi rumah-rumah penduduk, kami melewati jalanan tanah yang masih merah bercampur kerikil-kerikil yang cukup tajam. Kiri dan kanan jalan adalah ladang milik masyarakat setempat, di beberapa titik terlihat juga beberapa batang kayu yang telah dipotong siap untuk diangkut.



            Jalanan yang menanjak membuat kami harus berhati-hati agar tidak terjatuh dari motor, di beberapa bagian jalan terlihat bekas ban motor yang tergelincir ke kiri dan terjatuh. Agaknya sebelum ini ada sebuah sepeda motor yang telah terjatuh disini, terlihat dari bekas serpihan kaca sepion dan tumpahan kopi. Kami akhirnya sampai di penghujung jalan setelah menemukan sebuah tanda penunjuk lagi yang mengarah masuk ke dalam hutan. Setelah mencari tempat menaruh motor yang cukup aman, saya akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki menuju situs ini, sedangkan Yogi menjaga motor di jalan. Tanah yang becek dan sempit nampaknya juga tidak akan bisa dilalui oleh sepeda motor. Sesuai petunjuk setelah masuk sekitar 5 meter maka berbelok ke arah kanan. Setelah berjalan menyusuri beberapa batang bambu, saya menemukan sebuah papan petunjuk lagi walaupun tidak terlihat begitu jelas, yang mengarah menuju sebuah jalan setapak yang sedikit lebih bagus dari sebelumnya. Pintu pagar terlihat sedang terkunci, namun rasa sopan saya nampaknya dikalahka oleh rasa penasaran saya akan situs Jujun ini yang menurut Bapak Iskandar Zakaria merupakan salah satu bukti prasejarah dari masa Hindu Budha.
            Berjalan menyusuri jalan setapak, terlihat beberapa dolmen yang tersebar di beberapa lokasi dibawah pohon kopi dan kulit manis. Dolmen ini hampir mirip dengan dolmen yang ada di Pulau Tengah dari segi bentuk namun terlihat lebih kecil. Akhirnya saya menemukan sebuah pagar tempat situs Jujun ini berada. Kondisinya masih hampir sama dengan beberapa situs lain yang telah diberi pagar dan diberi pelindung atap. Karena pintu tidak terkunci maka saya memutuskan untuk melihatnya lebih dekat. Di belakang pagar terlihat sebuah drum berisi air dan ember yang dipagari bambu, juga terlihat sajadah dan beberapa helai kain yang di letakkan di atas kayu. Saya pikir disini terdapat juru pelihara, maka saya putuskan untuk menunggu selama lima menit,untuk meminta izin karena juga terlihat sendal dan sebuah jangki yang berisi makanan. Karena tak kunjung datang, saya memutuskan untuk langsung saja memotret beberapa bagian batu. 


Batu Silindrik ini cukup terpelihara karena letaknya yang jauh dari permukiman, akan tetapi nampaknya hal itu bukanlah sebuah jaminan, karena saya menemukan beberapa bagian batu yang rusak akibat vandalisme. Penjagaan yang ketat harus diberlakukan agar situs ini dapat terpelihara dengan baik. Setelah merekam kondisi sekitar, saya beranjak menuju lokasi awal dan bergegas menuruni bukit Talang Pulai untuk selanjutnya langsung menuju Lolo Kecil karena langit sudah mulai gelap. Cukup berbahaya jika dalam keadaan hujan masih berada di dalam hutan yang tanah nya masih sangat licin.

            Sesampainya di simpang Jujun kami berbelok ke arah kanan, melewati kerumunan pasar yang cukup ramai. Pasar ini tumpah ruah hingga ke jalan raya, sehingga harus ekstra sabar untuk melewatinya karena banyaknya orang yang berlalu lalang. Perjalanan ke Lolo Kecil disuguhi pemandangan cassiavera yang berjejer memedarkan pucuk merah nya. Jalanan aspal yang cukup mulus dan sepi membuat perjalanan pun semakin terasa cepat. Sesampainya di pertigaan simpang Lolo Kecil, tepat di depan masjid Masjid Agung Lolo Kecil kami berbelok ke arah kanan menuju Talang Kemuning. Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan kecil berpagar putih di tengah persawahan yang saya yakini adalah tempat situs batu batu panjang Lolo Kecil berada. Letaknya berada di hamparan sawah di pinggir jalan yang berjarak kira-kira 300 meter dari persimpangan. Setelah mendekat, ternyata tidak ada akses untuk menuju situs ini sehingga harus menyusuri pematang sawah yang cukup licin dan kecil. Saya beberapa kali hampir terjatuh karena salah pijakan, namun akhirnya bisa juga memasuki area situs ini.
Batu panjang ini terletak di tengah sawah yang telah diberi pagar dan atap. Kondisi pagar nya dalam keadaan rusak, beberapa besi pengaman terlihat rapuh, termasuk bagian semen yang sudah berlumut dan retak. Tiang bekas papan nama pun hanya meninggalkan kerangka saja. Sedangkan untuk batu sendiri juga sudah terlihat berlumut di beberapa bagian yang berlobang. Batu peninggalan megalitik ini mempunyai ukuran lebih kurang 3 meter, tergolong dalam sedimen batuan Trias (Tr) yang keras dengan bentuk bulat memanjang dan sering juga disebut batu bedil karena bentuknya seperti laras bedil yang makin mengecil pada bagian ujungnya. 

Desa Lolo Kecil ini dahulunya termasuk kedalam bagian dusun purba Jerangkang Tinggi sehingga banyak sekali ditemukan batu-batu peninggalan megalitik di daerah ini. Dan batu ini merupakan batu yang memiliki ukuran terpanjang sehingga masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama batu panjang. Batu ini mengarah ke Gunung Raya disebelah Timur, Bukit Kerman di disebelah Selatan dan Bukit Tangis disebelah Barat. Ketiga bukit ini ini diyakini oleh nenek moyag zaman dahulu sebagai tempat bermukimnya para roh leluhur terdahulu. Batu ini berada pada ketinggian 1020 mdpl dengan jarak kurang lebih 100 meter dari Batang Air Lingkat serta kelerengan 15-40%.
Dari Desa Lolo Kecil, perjalanan kami lanjutkan dengan lurus menuju Desa Lolo Gedang. Desa Lolo Gedang dan Lolo Kecil dahulunya termasuk ke dalam Kecamatan Gunung Raya, namun saat ini beralih masuk ke Kecamatan Bukit Kerman. Sesampainya di persimpangan, kami bertanya kepada beberapa penduduk sekitar, dan ternyata arah yang kami tuju ini salah, jika lurus maka kami akan sampai di Kecamatan Gunung Raya di daerah lempur. Sesuai petunjuk warga, kami berputar arah dan kemudian lurus menuju Masjid Lolo Gedang. Masjid ini terlihat sedang dibangun, beberapa anak kecil terlihat sedang asyik bermain layangan di halaman depan masjid. Kami memasuki sebuah jalan yang cukup sempit di samping masjid memasuki perkampungan warga. Jalan desa yang cukup bergelombang ini masih terdiri dari tanah, namun tidak se ekstrim perjalanan di Desa Jujun tadi. Setelah bertanya lagi ke beberapa warga yang kebetulan berada di pinggir jalan, akhirnya kami menemukan sebuah papan nama  petunjuk menuju batu gong di sisi kanan jalan.

Satu kilo perjalanan nampaknya tidaklah terlalu sulit, namun saya berpikir dua kali setelah melihat jalanan yang sangat sempit serta berlubang penuh air. Saya tidak menyerah sampai disini, setelah memarkir motor, kami naik menuju perladangan berharap menemukan orang untuk minta petunjuk arah. Ada sebuah motor di pondok kebun cabai, namun setelah dipanggil berkali-kali tidak ada sahutan, kami berbalik lagi menuju jalan utama. Untungnya kami bertemu dengan seorang ibu-ibu yang menganjurkan kami untuk berbalik arah saja dengan lurus mengikuti jalan utama agar dapat sampai di batu gong. Sudah terlanjur sampai, pantang sekali rasanya untuk berbalik pulang tanpa hasil. Kami meneruskan perjalanan sesuai petunjuk ibu tadi.
Jalanan pun berubah menjadi tanah merah kembali dengan batu-batu yang tajam, mirip dengan jalan utama menuju situs Jujun. Memasuki area ladang terdapat sebuah persimpangan jalan di antara kebun kopi yang cukup lebat. Masuk ke ladang, jalanan berubah semakin licin, yang tadinya bertanah merah sekarang menjadi hitam kecokalatan becek dan berlumpur cukup dalam. Naik turun ladang dengan kondisi jalan yang tidak terlampau bagus memaksa saya untuk berhenti mengistirahatkan motor sejenak. Berlindung dibawah rindangnya pepohonan yang menghijau. Setelah sepuluh menit istirahat kami melanjutkan perjalanan karena telah di buru waktu. langit juga terlihat semakin kelam. Kali ini giliran Yogi yang mengendarai motor, berpacu dengan waktu karena tidak ingin terjebak hujan di hutan.
Kami sampai di simpang tiga jalan setapak lalu bertemu dengan sebuah rumah pondok khas di ladang kemudian lurus menuju puncak bukit. Tepat berada di tengah kebun kacang, kami menemukan situs batu gong ini yang sangat sulit di jangkau.

 @ElviandriYoni