Elviandri

Yang Tertinggal di Gunung Raya


Melanjutkan cerita perjalanan dari Gunung Raya kemarin. 



Tak jauh dari Masjid ini, kami segera menuju Batu Meriam Lempur Mudik yang terletak di tengah persawahan di belakang permukiman penduduk. Jalan masuk berupa jalan setapak kecil di depan mesjid kuno kemudian belok ke kanan, setelah melihat area persawahan maka sudah terlihat area situs ini yang telah di beri pagar. Keberadaan batu ini menjadi salah satu bukti peradaban sejarah nenek moyang orang Kerinci, karena disekitar batu juga merupakan bekas permukiman tua dengan ciri khas rumah berbentuk larik. Adanya batu meriam dan rumah kuno menunjukkan perkembangan kehidupan nenek moyang terdahulu secara bertahap. Kondisi fisik batu masih terawat dengan baik, hal ini dikarenakan dirawat dengan baik oleh masyarakat sekitar. 
Selain itu batu ini juga telah berada di bawah pengawasan langsung Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi. Batu yang menghadap ke arah Bukit Tangis dan Gunung Raya ini dianggap sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur Lempur Mudik, hampir sama dengan batu-batu lain yang di temukan di daerah Kerinci.  Pada bagian pangkal batu ini ditemukan sebuah gambar wajah mirip manusia yang berbentuk bujur telur serta mengecil ke bagian bawahnya. Sedangkan pada bagian atas nya ditemukan sebuah lubang pahatan berbentuk empat persegi panjang sedalam 20 cm dengan lebar 10 cm dan panjang 30 cm. Disisi lain batu terdapat sebuah gambar manusia dengan posisi sedang mengangkang serta lukisan berbentuk huruf U yang tersambung secara terbalik.

Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan terakhir menuju situs batu Kursi Lempur Mudik. Batu kursi Saat ini berada dalam pekarangan rumah salah satu warga Lempur Mudik dan telah mengalami pemindahan dari lokasi awal ditemukan karena adanya pembukaan jalan. Letak batu ini berdekatan dengan Masjid Kuno Lempur Mudik dan Batu Silindrik Lempur Mudik (Batu Meriam). Situs batu ini menghadap ke arah Bukit Tangis dan Gunung Betuah. Bukit Tangis dan Gunung Betuah dianggap sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur. Kondisi fisik batu ini masih terlihat baik karena dijaga oleh masyarakat sekitar, walaupun tidak beri pagar seperti Batu Meriam. Batu ini terbuat dari batuan andesit dan termasuk salah satu batu asli karena belum dibentuk oleh manusia, hal ini bisa terlihat dari tidak adanya motif  dan ukiran pada batu. Terbuat dari sedimen batuan Trias (Tr)  denga ukuran kurang lebih 136 cm, lebar 110 cm dan tinggi 90 cm. Batu ini berbentuk tingkat dua dan kelihatan hampir mirip seperti kursi, maka dari itulah batu ini disebut batu kursi. Batu ini saat ini menjadi salah satu saksi peradaban sejarah nenek moyang karena diduga telah ada sejak zaman Neolitikum. Diduga, batu ini merupakan tempat meletakkan sesajian untuk para arwah leluhur nenek moyang pada zaman prasejarah yang berfungsi sebagai media untuk ibadah pemujaan arwah.
Disekitar batu kursi dan masjid Kuno Lempur Mudik ini kami juga menjumpai bilik-bilik padi kuno milik warga yang masih bertahan hingga saat ini. Dibeberapa daerah lain di Kerinci sudah sangat sulit mencari bilik padi ini. Bilik padi ini merupakan tempat meyimpan padi setelah panen. Arsitektur khasnya sangat terlihat menggambarkan suasana desa di mesa lalu. Kecamatan Gunung Raya ini cukup eksotik dan mempunyai aura tersendiri bagi saya, karena letaknya yang cukup jauh dari pusat kota. Di balik perbukitan dan gunung yang seolah menjadi penjaga batas alami agar karunia tuhan di lembah ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan anak cucu nanti.
  


Tak jauh dari Masjid ini, kami segera menuju Batu Meriam Lempur Mudik yang terletak di tengah persawahan di belakang permukiman penduduk. Jalan masuk berupa jalan setapak kecil di depan mesjid kuno kemudian belok ke kanan, setelah melihat area persawahan maka sudah terlihat area situs ini yang telah di beri pagar. Keberadaan batu ini menjadi salah satu bukti peradaban sejarah nenek moyang orang Kerinci, karena disekitar batu juga merupakan bekas permukiman tua dengan ciri khas rumah berbentuk larik. Adanya batu meriam dan rumah kuno menunjukkan perkembangan kehidupan nenek moyang terdahulu secara bertahap. Kondisi fisik batu masih terawat dengan baik, hal ini dikarenakan dirawat dengan baik oleh masyarakat sekitar. Selain itu batu ini juga telah berada di bawah pengawasan langsung Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi. Batu yang menghadap ke arah Bukit Tangis dan Gunung Raya ini dianggap sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur Lempur Mudik, hampir sama dengan batu-batu lain yang di temukan di daerah Kerinci.  Pada bagian pangkal batu ini ditemukan sebuah gambar wajah mirip manusia yang berbentuk bujur telur serta mengecil ke bagian bawahnya. Sedangkan pada bagian atas nya ditemukan sebuah lubang pahatan berbentuk empat persegi panjang sedalam 20 cm dengan lebar 10 cm dan panjang 30 cm. Disisi lain batu terdapat sebuah gambar manusia dengan posisi sedang mengangkang serta lukisan berbentuk huruf U yang tersambung secara terbalik.
Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan terakhir menuju situs batu Kursi Lempur Mudik. Batu kursi Saat ini berada dalam pekarangan rumah salah satu warga Lempur Mudik dan telah mengalami pemindahan dari lokasi awal ditemukan karena adanya pembukaan jalan. Letak batu ini berdekatan dengan Masjid Kuno Lempur Mudik dan Batu Silindrik Lempur Mudik (Batu Meriam). Situs batu ini menghadap ke arah Bukit Tangis dan Gunung Betuah. Bukit Tangis dan Gunung Betuah dianggap sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur. Kondisi fisik batu ini masih terlihat baik karena dijaga oleh masyarakat sekitar, walaupun tidak beri pagar seperti Batu Meriam. Batu ini terbuat dari batuan andesit dan termasuk salah satu batu asli karena belum dibentuk oleh manusia, hal ini bisa terlihat dari tidak adanya motif  dan ukiran pada batu. Terbuat dari sedimen batuan Trias (Tr)  denga ukuran kurang lebih 136 cm, lebar 110 cm dan tinggi 90 cm. Batu ini berbentuk tingkat dua dan kelihatan hampir mirip seperti kursi, maka dari itulah batu ini disebut batu kursi. Batu ini saat ini menjadi salah satu saksi peradaban sejarah nenek moyang karena diduga telah ada sejak zaman Neolitikum. Diduga, batu ini merupakan tempat meletakkan sesajian untuk para arwah leluhur nenek moyang pada zaman prasejarah yang berfungsi sebagai media untuk ibadah pemujaan arwah.
Disekitar batu kursi dan masjid Kuno Lempur Mudik ini kami juga menjumpai bilik-bilik padi kuno milik warga yang masih bertahan hingga saat ini. Dibeberapa daerah lain di Kerinci sudah sangat sulit mencari bilik padi ini. Bilik padi ini merupakan tempat meyimpan padi setelah panen. Arsitektur khasnya sangat terlihat menggambarkan suasana desa di mesa lalu. Kecamatan Gunung Raya ini cukup eksotik dan mempunyai aura tersendiri bagi saya, karena letaknya yang cukup jauh dari pusat kota. Di balik perbukitan dan gunung yang seolah menjadi penjaga batas alami agar karunia tuhan di lembah ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan anak cucu nanti.