Elviandri

Yang tersembunyi di Tanjung Batu

 
Dari Desa Pulau Sangkar, keesokan harinya saya menuju Desa Tanjung Batu Kecamatan Keliling Danau. Memutar melintasi Kecamatan Bukit Kerman ke arah Danau Kerinci. Matahari cukup panas siang ini, jalanan aspal yang berkelok tajam juga terlihat sepi. Hanya ada beberapa pengendara motor yang terlihat. Dahulunya, wilayah ini merupakan sebuah bukit area ladang warga yang kemudian disulap menjadi jalan raya alternatif seiring dengan berkembangnya desa dan bertambahnya penduduk di daerah tersebut. Desa Tanjung Batu adalah tujuan terakhir saya dalam mengunjungi objek-objek bersejarah di Alam Kerinci. Besok, saya akan balik ke Bogor dan meninggalkan banyak kenangan di bumi Kerinci. 
Ditengah perjalanan, saya bertanya kepada seorang nenek yang sedang menjemur pakaian nya di pinggir danau, saya mendekat dan bertanya tentang lokasi desa Tanjung Batu yang hendak dicari. Sesuai instruksi beliau, dari simpang Desa Pidung, saya berbelok ke kanan arah menuju Sanggaran Agung. Sesampainya di sebuah tikungan, terdapat informasi nama desa di sebelah kanan jalan. Saya pun berhenti, dan melihat ke sekitar jalan raya terdapat sebuah gang kecil yang cukup menanjak. Karena tidak ada orang yang dapat di tanya, akhirnya saya memutuska untuk terus ke atas, hingga di sebuah tikungan ada seorang ibu yang sedag menjemur padi. Saya bertanya perihal letak batu terakhir yang akan saya cari ini. Akan tetapi beliau ternyata tidak tahu dan mengatakan bahwa batu ini hanya ada di Desa Muak dan Pondok dan tidak ada di Tanjung Batu. Tidak menyerah begitu saja, saya terus menanjak mengitari sisi kiri bukit hingga terlihat banyak ibu-ibu yang sedang berkumpul di dekat SD. Saya bertanya perihal batu tersebut, dan menurut ibu-ibu setempat batu prasejarah itu memang ada di desa ini, namun tidak terawat dengan baik seperti di Desa Muak.
“Kabar baik” pikirku dalam hati. Masyarakat disini menyebut nya batu gong, dan menurut pengakuan warga, letaknya cukup jauh di tengah ladang. Namun bisa ditempuh dengan sepeda motor karena telah di buat jalan setapak dari semen. Akan tetapi, karena letaknya yang sangat jauh ditengah ladang, ibu-ibu ini mengajurkan saya untuk ditemani seseorang warga sini untuk mengantarkan. Hingga bertemulah dengan mas Wandi, usianya kira-kira 27 tahun. Pemuda asli Desa Tanjung Batu inilah yang akhirnya menemani perjalanan saya menuju batu gong Tanjung Batu. Keramahan ibu-ibu sekitar sangat lah membuat saya senang, tak bisa menunjukkan tempat setidaknya memberikan penuntun jalan. Itulah mengapa banyak turis yag ternyata betah selama berada di Kerinci. Keramahan masyarakatnya menjadikan siapapun yang tinggal menjadi nyaman. 

Dengan sepeda motor, saya dan mas Wandi bergerak menuju lokasi batu yang katanya  berada di bukit Patah. Jalan menuju lokasi ternyata memang sangat sulit dijangkau. Dari jalan raya, masuk melalui sebuah jalan setapak kecil yang masih tertutupi tanah mera di samping rumah warga. Selanjutnya menanjak diantara ladang-ladang kopi milik warga, untungnya jalanan lumayan bagus karena telah terbuat dari semen. Berbentuk jalan setapak lurus yang mengitasri bukit, menanjak, lalu turun dan menanjak lagi. Begitulah rute yang dilalui. Dari atas sini terlihat Danau Kerinci yang terhampar luas , menyatu dengan biru langit yang terlihat cerah bersama beberapa rumah warga terletak di pinggir jalan saling bergradasi bersama pepohonan rimbun yang mengurai dahan.
Masuk lagi kedalam ladang, jalanan setapak yang terlihat cukup bersih tadi berubah menjadi jalan tanah berlumpur. Di beberapa bagian terlihat genangan air di sekitar jalan yang cukup dalam. Beberapa kali motor saya harus di dorong agar bisa melewati lumpur yang sangat licin ini. Pohon pisang dan semak-semak pun semakin meninggi. Hingga sampai disebuah jalan, terlihat sebatang kayu yang telah roboh, sehingga kami memutuskan untuk memotong jalur sebelah kanan agar dapat di lalui motor. Semakin kedalam, terasa semakin rimbun, semakin gelap. Hingga di depan sebuah pagar kayu, kami berhenti dan memarkir motor di sampingnya. Kami berjalan sekitar 100 meter masuk kedalam ladang milik warga, dan ternyata cukup sulit untuk menemukan batu ini. Menurut mas Wandi ada tiga batu sejarah yang pernah di temukan sekitar area ladang ini. Namun semuanya dalam keadaa tidak terlalu baik karena tidak ada yang merawatnya.
Setelah cukup lama mencari akhirnya mas wandi menemukan batu gong yang di maksud, terletak di bawah pohon pisang di antara kebun kopi. Berada di antara semak-semak, dan harus dibersihkan terlebih dahulu agar bisa mengabadikannya dalam lensa. Batu ini berbentuk bulat memanjang, dengan bagian tengah cukup melebar sedangkan bagian ujung patah. Mungkin karena itu juga batu ini disebut batu patah. Kondisi batu sudah tidak terawat dengan baik, lumut terlihat di beberapa bagian batu dan dibeberapa bagian juga sudah retak. Pada bagian bawah batu terlihat sebuah motif gong sama seperti yang ditemukan di beberapa batu silindrik lain di Kerinci.  Batu silindrik ini berbentuk seperti meriam, dengan salah satu sisi berbentuk lonjong dan sisi yang lain datar. Pada permukaan batu terdapat satu buah gambar manusia kangkang dan garis-garis mendalion sejajar.Namun tidak terlihat adanya motif-motif lain. Batu ini seperti sedang tertidur disebuah lubang yang sengaja digali sebagai tempat bermukimnya.
Kemudian kami melanjutkan penyisiran area ladang yang ditumbuhi banyak pohon pisang, diantara semak-semak yang cukup tinggi dan dibawah pohon enau, kami menemukan lagi dua buah batu yang berbentuk seperti dolmen batu rajo di Pulau Tengah, namun dengan ukuran relatif kecil. Ditempat yang terpisah,  batu ini seolah telah tertanam ke tanah. Kondisinya jauh lebih parah, karena sudah tertimbun tanah dan tertutup belukar.  Menurut pengakuan mas Wandi, dahulu telah ditunjuk seorang juru pelihara untuk merawat batu ini, namun karena tidak berada di desa ini, sehingga batu ini menjadi terbengkalai, sangat jauh dengan kondisi batu prasejarah yang saya temukan di Pulau Sangkar, Muak, Lolo serta tempat lainnya. Adanya batu-batu peninggalan prasejarah ini menjadi bukti kehidupan nenek moyang di masa lalu yang bermukim di area ini. sehingga diperlukan adanya pengelolaan khusus agar terawat dengan baik.


Cerita dihari ke-2 Penelitian

Yoni Elviandri