Elviandri

Perjalanan Panjang Menuju Pulau Sangkar



Tujuan penelitian saya yang pertama di Kabupaten Kerinci adalah Batu Silindrik Pulau Sangkar, karena keberadaannya yang paling jauh daripada batu lainnya. Batu silindrik ini terletak di Desa Pulau Sangkar, Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci. Terletak di tepi Sungai Paun yang merupakan sungai aliran air Danau Kerinci dan berada pada ketinggian 895 mdpl.

Untuk mencapai batu ini bisa dilalui dengan dua cara. Cara pertama bisa melalui jalan raya Pulau Sangkar, dari Danau Kerinci, disebelah kanan jalan terdapat plang nama Batu Silindrik Pulau Sangkar yang berada di pinggir jalan, di sela-sela pepohonan. Dari jalan ini bisa ditempuh dengan jarak kurang lebih 200 meter. Bisa dengan menggunakan sepeda motor dan jalan kaki. Namun jalanan cukup licin jika sebelumnya terjadi hujan. Dari plang nama, terus saja mengikuti jalan setapak kecil melewati ladang warga yang ditanami casiavera dan kopi. Sesampainya di penghujung jalan pilihlah belok kiri dan akan menemukan jalan kecil diantara semak-semak yang akan sampai dibawah menuruni bukit. Dibeberapa bagian cukup terjal dan licin, sehingga harus sangat berhati-hati jika menggunakan sepeda motor. Selain itu, tanah berlumpur juga menjadi suatu tantangan tersendiri sehingga harus ekstra hati-hati. 


Melihat jalan setapak kecil menuruni bukit yang cukup terjal, maka saya memutuskan untuk mencari alternatif jalan kedua yaitu melewati persawahan dekat jembatan yang baru dibangun. Dari jalan raya tadi, saya bergerak menyusuri Pulau Sangkar dan sampai di persimpangan saya berbelok ke kiri menuju arah desa Muak. Jalanan disini cukup bagus dan bersih, karena merupakan jalan alternatif  menuju Jambi. Sesampainya di Jembatan, saya memarkir motor di sebuah undakan tanah disebelah jembatan yang belum jadi tersebut. Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan seperti pondok dengan pagar besi di penghujung sawah dsebelah bukit. Dari jembatan ini juga terlihat bukit yang tadi saya dak melewati jalan pertama dan ternyata memang terjal. Setelah bertanya ke salah seorang warga yang sedang memacing di Sungai, saya berjalan mengitari pematang sawah yang cukup licin. Cukup becek memang, karena aliran air dari sebuah pancuran membuat pematang sawah yang hanya berukuran 10 centi itu menjadi hancur.
Beberapa kali kaki saya tercebur kedalam genangan air sawah, karena pijakan yang tidak terlalu kuat. Tas sayapun terkena lumpur karena terciprat. Berjalan perlahan agar pematang kecil ini tidak rusak, hingga akhirnya saya berhasil sampai di pondok tempat Batu Silindrik Pulau Sangkar ini berada. Batu ini dikelilingi oleh sawah, sungai dan pohon bambu disekitarnya. Terlihat sebuah jalan kecil yang tertutup daun bambu menuju bukit tempat pertama tadi saya lalui. Di kiri jalan terdapat pohon bambu yang cukup lebat dan beberapa batangnya pun masuk kedalam area batu. Saya membersihkan sebagian batang bambu tersebut dan meletakkannya diluar pagar. Sekitar 3 meter disebelahnya adalah aliran sungai yang cukup besar dari sungai paun. Diseberangnya nampak sebuah rumah kayu kecil dan seorang ibu dengan anaknya sedang menjemur padi di halaman rumah. kehidupan terasa berjalan lambat, namun cukup asri dan tenang sekali untuk dijadikan tempat bermukim. Angin yang bertiup sepoi menambah kehangatan siang menjadi terasa begitu sejuk, bak oase di tengah padang pasir. Bedanya, disini hijau royo-royo.
Kondisi fisik batu masih terawat dengan baik, tinggalan megalitik ini berbentuk bulat memanjang dengan ukuran 3,9 x 1x 0,8 m. Tidak terdapat adanya ornamen atau pahatan di bagian batu, karena batu ini termasuk kedalam zaman mesolitikum. Disebelah batu utama, terdapat tiga buah batu berukuran kecil dan sedang yang juga masih terlihat bagus dan terawat dengan baik. Akan tetapi beberapa bagian batu sudah berlumut dan terkikis air. Batu ini menghadap ke arah tenggara menuju puncak bukit Muak. Disekitar persawahan juga terlihat beberapa batu berukuran besar yang tertutup jerami. Menurut bapak yang saya temui tadi, disini memang banyak ditemukan batu-batu sejenis yang terdapat di ladang dan semak belukar yang belum digali lebih lanjut.