Elviandri

Menguak Eksotisme Lembah Gunung Raya




Sejuknya udara Sakti Alam Kerinci di pagi hari membuat saya betah berlama-lama berada disini. Hamparan sawah yang menghijau dan melambai-lambai diterpa angin berpadu dengan keasrian lembah Bukit Barisan yang membentang luas. Suasana khas perdesaan yang masih sangat asri, tanpa deru motor, tanpa hingar bingar asap pabrik di udara. Kehidupan mulai berjalan sebelum matahari yang gagah duduk di kasta peraduannya, hanya siluet keemasan yang mulai nampak di ufuk timur mengawali hari di tanah yang sering dijuluki orang sebagai sekepal tanah surga yang tercampakkan ke Bumi. Dari jendela rumah tempat saya berdiam terlihat beberapa ibu-ibu sudah siap dengan cangkul di tangan serta jangki di punggung nya menyusuri jalan setapak menuju sawah, sementara bapak-bapak nampaknya sudah terlebih dahulu sampai di sawah. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak yang sedang melafalkan ayat al-quran bergantian di masjid, tak mau kalah dengan kesibukan orang tuanya di pagi hari. Pagi minggu seperti ini kehidupan desa akan terasa ramai, karena dari setiap masjid anak-anak pengajian sedang melakukan acara didikan subuh. Sebuah kegiatan rutin mengaji di pagi hari yang sulit saya temui di perkotaan.   

Saya pun memulai aktivitas pagi ini dengan memanaskan mesin motor untuk bersiap melakukan perjalanan menuju kawasan paling selatan di Kabupaten Kerinci yaitu Kecamatan Gunung Raya. Kecamatan yang sebagian besar wilayahnya termasuk dalam Taman Nasional Kerinci Seblat. Dari beberapa info yang saya dapatkan, kecamatan ini mempunyai panorama alam yang sangat indah dengan berbagai danau khas yang ada dan air terjun yang berada di tengah rimba. Selain itu kecamatan ini juga mempunyai banyak sekali situs-situs prasejarah dari zaman mesolitikum hingga ke zaman masuk nya Islam di Kerinci berupa bangunan masjid kuno yang saat ini sudah termasuk kedalam pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi. Situs-situs ini menjadi bukti perkembangan peradaban nenek moyang orang Kerinci zaman dahulu di daerah ini.

Saya bergegas menjemput Yogi, teman SMP sekaligus rekan seperjalanan saya kali ini. Rumahnya tidaklah terlalu jauh dari rumah saya, dan berada tepat di simpang empat arah menuju Kota Sungai Penuh. Tujuan utama kami adalah Desa Lempur Tengah. Dari Kota Sungai Penuh perjalanan menuju Desa Lempur Tengah ditempuh dengan waktu satu jam 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Alternatif lain bisa juga dengan menaiki angkot dari terminal Kota Sungai Penuh atau menunggu di simpang Jujun tujuan Lempur. Akan tetapi lebih disarankan untuk menggunakan sepeda motor agar lebih leluasa dalam melakukan perjalanan, karena angkot sendiri jadwal keberangkatannya tidak pasti. Perjalanan menuju Desa Lempur Tengah harus mengitari desa-desa di sekitar  Danau Kerinci. Hawa sejuk yang terlihat menjadikan setiap tempat rasanya ingin berhenti untuk mengabadikan moment indah bentang lanskapnya. Dikiri jalan terbentang sawah luas di bawah kaki perbukitan berbentuk terasering, sedangkan di kanan jalan hamparan sawah menyatu dengan harmoni disebelah riak air Danau Kerinci. Terlihat juga nelayan-nelayan kecil dengan perahu kayunya yang sedang menjala ikan. Dari jalan raya ini saya penasaran dengan sebuah gundukan seperti pulau dengan vegetasi sangat lebat dan terletak menjorok ke dalam Danau Kerinci. Kata Yogi tempat itu bernama Koto Petai, mempunyai pasir yang cukup indah serta cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan. Rasa  penasaran saya ini harus ditahan karena tidak mungkin hari ini kami dapat menjelajahi semua tempat di Kerinci.

Sesampainya di Simpang Jujun, kami berbelok ke arah kanan. Jika berjalan lurus maka akan sampai di Sanggaran Agung. Jalanan yang cukup bagus dan sepi memudahkan motor saya untuk meliuk-liuk menjadi raja jalanan sejenak. Sesampainya di Desa Lolo Kecil, kemilau kayu manis terlihat kokoh di pinggir jalan. Saling bertindih memamerkan pucuk nya yang berkilau memedar cahaya di atas ladang warga. Kecamatan Gunung Raya ini dikenal sebagai salah satu pemasok kayu Manis terbesar di Kerinci. Tidak banyak yang tahu bahwa Kerinci merupakan produsen kulit kayu manis terbesar di dunia. Kulit kayu manis (Cassiavera) termasuk kedalam jenis rempah-rempah yang beraroma manis dan pedas. Kulit kayu manis ini adalah salah satu bumbu masakan tertua yang digunakan manusia. Di tepi jalan terlihat beberapa warga sedang menjemur kulit kayu manis. Harum semerbak.
Tujuan pertama kami adalah Masjid Kuno Lempur Tengah. Untuk mencapai masjid ini cukup mudah, dari jalan raya lempur disebelah masjid raya lempur tengah terdapat sebuah gang sekitar 100 meter dari jembatan disebelah kanan, kemudian lurus hingga menemukan masjid ini dengan sebuah papan nama. Masjid ini terletak di tengah permukiman masyarakat, dan disekitarnya terdapat beberapa rumah berarsitektur tua zaman dahulu yang terbuat dari kayu masih berdiri tegak disisi kanan dan kiri jalan. Masjid ini mempunyai atap berbentuk tumpang dua yang ditopang oleh 12 tiang kayu berbentuk segi delapan yang merupakan khas bentuk tiang rumah dan bangunan Kerinci zaman dahulu. Di bagian interior masjid pada dinding terdapat pahatan dengan motif geometris dan flora dengan warna dominan yaitu hijau, merah dan kuning. Menurut Pak Yanto salah seorang warga yang kami temui di sekitar lokasi masjid mengatakan bahwa saat ini masjid Kuno Lempur Tengah sudah tidak di fungsikan lagi sebagai tempat ibadah karena sudah dibangun sebuah masjid yang cukup megah tepi jalan raya. Masjid yang dibangun pada abad ke-19 ini saat ini hanya digunakan sebagai tempat pengajian anak-anak setempat. Masjid Kuno ini menjadi salah satu saksi sejarah peradaban islam di Lempur Tengah.

Sayangnya, kami tidak bisa masuk ke dalam masjid karena juru pelihara masjd sedang tidak berada di rumah. Kemudian kami pun menuju kampung sebelah Lempur Mudik yang hanya dipisahkan oleh jalan raya. Setelah bertanya kepada beberapa warga sekitar. Kami akhirnya sampai di Masjid Kuno Lempur Mudik. Masjid yang sudah direnovasi pada bagian atapnya ini mempunyai arsitektur hampir sama dengan arsitektur masjid Kuno Lempur Tengah dengan arsitektur bangunan termasuk kategori rumah panggung dengan lantai terbuat dari papan kayu yang bagian kolongnya telah ditutup dengan dinding bata. Masjid ini terletak dekat dengan BRI Unit Lempur dan hanya berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya. Masjid ini terletak di tepi jalan diantara permukiman penduduk. Dibelakang masjid terdapat sebuah aliran sungai kecil yang dahulunya digunakan oleh warga sekitar untuk mandi dan kegiatan sehari-hari.

Masjid Kuno Lempur Mudik ini di bangun pada abad ke-19 masehi, lebih tua sedikit dari Masjid Kuno Lempur Tengah yang memiliki atap berbentuk tumpang 2 hampir sama dengan arsitektur masjid kuno di Kerinci pada umumnya, dan pada bagian puncak terdapat bentukan bulan sabit dan bintang. Masjid ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 11x1 m. Pada bagian tiang dan dinding masjid terdapat berbagai ukiran-ukiran bergaris geometris berbentuk gambar tumbuhan dan bunga. Hal ini menjadi bukti bahwa pada masa lampau masyarakat Kerinci memiliki nilai seni cukup tinggi dalam bidang memahat dan seni ukiran. Warna-warna cerah seperti kuning, hijau dan merah mendominasi ukira-ukiran tersebut. Masjid kuno ini pada bagian dinding dan pilarnya terbuat dari kayu tanpa paku, hanya dipasak. Sama halnya dengan masjid agung pondok tinggi di Sungai Penuh.

#Bersambung..
Yoni Elviandri