Elviandri

DMZ Tour : Mengenang sejarah Korea yang terpisah


Hari ini tak adalagi gadis-gadis yang akan mengutuk pintu kamar pagi-pagi (baca: yu jin dan Sally ) dan saya pun sudah menyiapkan strategi dengan meminta tolong ke bang febri di lantai bawah untuk membangunkan ku di kala Sahur datang. Saya bergegas bangun dari asrama Duksung. Menyiapkan perbekalan untuk berbuka jikalau nanti tak ada satupun yang bisa dimakan. Ramadhan kali ini benar-benar memberi kenangan dan pelajaran yang berharga. Menjadi minoritas dimanapun itu tidak enak, namun disinilah manusia diuji kadar imannya. Seberapa kuat kah ia bertahan atau justru akan terpelosok terbawa arus dan menganggap semua menjadi biasa halal dan sah saja? Entahlah

                                                         Yu jin dan Sally yang sangat baik hati

                                                                                             ***

Saya terpisah dari rombongan, karena kehabisan kuota, dua orang rekan saya mendapatkan fieldtrip berbeda dengan saya. Saya mendapatkan jatah DMZ tour yaitu wisata sejarah korea selatan untuk menggunjungi area perbatasan di Korea Utara. Untungnya ada bang febri dan juga ka asharin dari UGM yang juga terpisah dari temannya, sehingga jadilah kami bertiga dari Indonesia satu bus dalam satu kelompok. 

Menikmati jalanan kota di korea yang tertata rapi, menuju daerah perbatasan Korea Utara, karena sedang musim panas, matahari serasa hanya berjarak sepenggal. Kehausan, pasti. Namun tetap berpuasa adalah satu kewajiban,hehe termasuk saat acara makan siang di restoran yang cukup elit dan katanya bisa menikmati sepuasnya, kami pun hanya foto-foto makanannya saja sebagai kenangan.

                             Bersama bang febri, hanya bisa berfoto namun tak bisa dimakan

Korea adalah satu-satunya negara yang membagi dua wilayahnya di dunia. Setelah berakhirnya Perang Korea di tahun 1953, Korea Selatan dan Korea Utara sepakat untuk membagi wilayah mereka menjadi dua. Dua kilometer di sisi perbatasan ini, disebut dengan Demilitarized Zone (DMZ). Sebagai salah atu peninggalan sejarah dari Perang Dingin, kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata para turis manca negara. Terlepas dari penjagaan yang ketat, tempat wisata ini banyak direkomendasikan karena keunikannya yang membantu kita memahami konflik yang terjadi di Korea.

                                                          (gambar: Bomanta.com)

Tidak lama kemudian bus segera meluncur melalui jalan bebas hambatan terus ke utara menuju perbatasan ke tempat yang disebut Imjingak Park. Setelah turun dari bus kami menuju sebuah jembatan yang oleh guide disebut sebagai Freedom Bridge yang pada ujung jembatan ada dua bendera korea selatan dan banyak tulisan yang ditempelkan dalam bahasa korea Tempat ini merupakan sebuah jembatan yang di sisi utaranya tertutup pagar karena sudah merupakan bagian DMZ. Menurut pemandu ini merupakan “wish list” atau harapan rakyat Korea agar kedua negara dapat bersatu kembali.  Jembatan ini khusus dibangun untuk membebaskan 12.773 tahanan perang pada 1953. Tahanan tadi menuju jembatan ini dengan mobil dan kemudian menyebrang dengan jalan kaki menuju kebebasan . Itulah sebabnya jembatan ini kemudian disebut Bridge of freedom.

DMZ atau Korean Demilitarized Zone merupakan Zona Netral diantara Korea Utara dan korea Selatan , panjang 248 km dan lebar hampir 4 km. Jalur yang melintasi Semenanjung Korea ini berguna sebagai zona penyangga antara Utara dan Selatan Korea. DMZ ini sebenarnya adalah tour yang berbahaya, sehingga harus bersama agen perjalanan jika akan melalakukannya, untungnya, kami dibawah naungan panitia, sehingga semua persiapan telah diurus sebelumnya. Menikmati perjalanan ini bersama seorang guide yang menjelaskan tentang aturan-aturan selama tour ini yaitu wajib membawa paspor serta dilarang memotret/video di area tertentu. Untuk memasuki wilayah DMZ  ini petugas akan mencatat nomor dan nama paspor dan akan dilakukan pemeriksaan di gerbang utama oleh militer Korea. Seringkali guide tour mengingatkan kami semua yang ada di dalam bus untuk tidak memotret di area yang dilarang keras untuk difoto karena nantinya akan membuat sebuah kecurigaan tertentu.

                                                                         Area DMZ 
Saya berada satu rombongan dengan Chotong  Chantavilay atau Joni dari Laos serta Mehak khalil dari Pakistan meringkih-ringkih kepanasan karena ternyata sebagian nya  mesti jalan kaki. Menanjak, menuruni beberapa anak tangga, dan melewati sebuah jembatan yang pada bagian ujungnya terdapat kain-kain berbagai warna yang memisahkan administratif kedua negara ini. Area pertama kami kunjungi adalah DMZ Theater. Menyaksikan sebuah film dokumenter yang menceritakan awal terjadinya perang Korea Utara dan Korea selatan, dan bagaimana keadaan perang waktu itu. Cerita berawal dari berakhirnya perang dunia ke dua dan semenanjung korea dibelah dua menjadi utara yang disponsori Uni Soviet dan selatan oleh Amerika.  Perang Korea dimulai dengan penyerbuan utara pada 25 juni 1950 dan berakhir pada 27 juli 1953 dengan semacam gencatan senjata. Dengan inilah DMZ diciptakan dimana ada semacam daerah penyangga selebar 4 km. Namun gencatan senjata ini sendiri tidak pernah dituntaskan dengan perjanjian perdamaian.


Setelah dari DMZ thater, kami bergegas menuju Dora Observatory mengikuti sang guide karena tidak ingin tersasar di tempat ini. Disini kita bisa meneropong wilayah perbatasan Korea Utara dengan teropong koin. Tergambar jelas lanskap alam Korea yang begitu menakjubkan. Dengan deretan perbukitan yang menghijau, terlihat sebuah permukiman atau sejenis desa di area perbatasan tersebut.
Setelah dari perbatasan, kami menuju tempat terakhir yang bernama Dorasan Station. Dari penjelasan guide katanya dahulu  stasiun ini untuk melayani pengiriman barang antara Korea Utara dan korea Selatan, namun pada 1 Januari 2008 Korea Utara menutup secara sepihak jalur ini. Di stasiun ini juga terdapat beberapa toko kecil dimana kita bisa membeli oleh-oleh atau pun hanya sekedar minta cap stempel. Lumayanlah buat kenang-kenangan hehe.

                                                            With Joni from Laos (ki-ka : Yoni and Joni) haha

Akhirnya kami menuntaskan perjalanan DMZ tour hari ini sekaligus mengakhiri petualangan kami di Korea. Kembali ke asrama masing-masing dan menyiapkan diri untuk beranjak pulang ke negara masing-masing esok harinya.