Elviandri

Kilas Sejarah Kebudayaan Suku Kerinci

Penelitian skripsi ini membuat saya semakin jatuh cinta pada kampung halaman Kerinci. Belajar sejarah perkembangannya membuka wawasan dan khazanah keilmuan yang semakin besar. Untuk itu saya pun melakukan banyak perjalanan mencari-tempat dan benda-benda  peninggalan prasejarah masa lalu yang sebenarnya tidak berhubungan dengan penelitian hehe, tapi insyaAllah memperkaya diri dengan ilmu-ilmu baru. Untuk memulai tulisan2 perjalanan nya, kali ini saya tuliskan sedikit kilas sejarah suku Kerinci yang saya baca dalam bukunya pak Budhi Senarai Sejarah Kebudayaan Kerinci. Semoga bermanfaat. 

Masa Pra sejarah menurut Prof.  H. Idris Jakfar, SH di Alam Kerinci (Seri Sejarah Kerinci I, hal. 69) dimulai sejak permulaan adanya manusia sampai ditemukan adanya keterangan tertulis tentang kehidupan “Kecik  Wok Gedang Wok. Manusia” tertua ini diperkirakan  telah ada di alam Kerinci sejak   35.000 SM. Akan tetapi hasil penelitian yang dilakukan oleh Anthony J. Whitten (1973) di Goa Tiangko yang  berada di wilayah Kecamatan Sungai Manau Kabupaten Merangin (wilayah ini dahulunya termasuk dalam wilayah Kerinci rendah, pen) dari hasil temuan ini dipastikan manusia Kecik Wok Gedang Wok   telah ada di Alam Kerinci sejak 10.000 SM.
Penulis pada tahun 1986/1987 bersama peneliti sejarah dari Aucland DR. Barbara Waltson Andaya telah mengunjungi situs purbakala yang ada di alam Kerinci termasuk mendamipingi DR. Barbara Waltson Andaya melakukan penelitian Suku Batin di wilayah  Kecamatan Limun dan Sarolangun. Terakhir pada Agustus 2011, penulis kembali melakukan perjalanan ke pemukiman manusia purba di Goa Tiangko dan lokasi  Taman Bumi (Geo Park) di sepanjang Sungai Batang Merangin. Perjalanan menggunakan motor perahu tempek ukuran kecil dimulai dari Desa Biuku Tanjung hingga ke Teluk Wang  Kecamatan Bangko Barat Kabupaten Merangin.
Di wilayah  Kerinci rendah khususnya  di Kabupaten  Merangin  yang berada di lokasi  kawasan, Kecamatan Pangkalan Jambu, Kecamatan Sungai Manau, Kecamatan  Bangko Barat, Muara Siau, Kecamatan Lembah Masurai, Kecamatan Jangkat hingga  kawasan  Lubuk Gaung, Nalo Tantan dan Ngaol banyak ditemukan tinggalan  kebudayaan prasejarah yang nyaris hampir sama dengan tinggalan  kebudayaan  zaman prasejarah yang berada di  kawasan  Kerinci  Tinggi (Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh) Hasil penelitian peneliti dari luar negeri dan penelitian yang dilakukan oleh Prof. H. Idris Jakfar, SH mengungkapkan bahwa di kawasan Kerinci Rendah dan Kerinci Tinggi terdapat kawasan pemukiman manusia purba “Kecik Wok Gedang Wok”. Umumnya lokasi gua gua tempat pemukiman manusia purba itu berada daerah sulit dijangkau, lokasi banyak cerukan dan kondisi gua gua batu itu merupakan batu Stalagnit dan Stalagtit. 
Di gua Tiangko  misalnya terdapat puluhan pintu pintu berupa  gua gua bertingkat dan dipintu masuk terdapat ruangan yang cukup besar, dibelakang gua terdapat celah tempat sinar matahari memasukkan cahayanya. Kondisi  gua  dari luar terlihat tertutup, setelah gua dimasuki diatas sebuah bukit kecil tampak suasana gua yang menakjubkan, pengunjung dapat memasuki lorong lorong gua yang berliku, dikedalaman gua kondisi  agak gelap karena cahaya  sinar matahari tidak dapat menembus  gua batu Tiangko.
Pemerintah Hindia Belanda dengan surat keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 90 Tahun 1919 telah menetapkan gua gua yang berada di kawasan Kerinci Tinggi dan  Kerinci Rendah sebagai Cagar Alam Budaya. Goa goa yang dijadikan sebagai kawasan cagar alam budaya itu adalah Goa Tiangko, Goa Sengering, Goa Keruh, Goa Mesjid, Goa Terentak, Goa Pancur, Goa Tali, Goa Senamat,Goa Putih,Goa Batu,Goa Sungai Batang. Goa goa  lain yang diperkirakan pernah menjadi kediaman manusia “Gedang Wok Kecik Wok” adalah Gua Kasah,Gua Kapeh,Gua Kelelawar,Gua Tiang Bungkuk, Gua Sengayau, Gua Batu Kuning, sejumlah gua gua di daerah Ex. Marga Serampas dan Ex. Marga Sungai Tenang, Muara Siau dan  di wilayah Lembah Masurai, wilayah  ini dikenal sebagai daerah  yang  kaya  dengan  Flora dan Fauna yang  dikonsumsi oleh Manusia Purba ”Gedang Wok Kecik Wok”. 
DR. Barbara Waltson Andaya  dalam diskusinya dengan penulis (1986/1987) mengemukan manusia purba yang mendiami lembah alam Kerinci merupakan mayarakat nomaden yang menggantungkan  hidupnya pada hasil alam dan  hewan buruan, mereka hidup dalam kelompok kelompok kecil, sebelum memilih  tinggal di dalam gua gua batu, manusia purba ini  tinggal sementara di di dalam  ceruk pangkal kayu yang besar/bane kayu (Lubang kayu).
Sepintas pola kehidupan  manusia purba  penunggu lembah alam Kerinci memiliki banyak kesamaan dengan pola kehidupan manusia suku pedalaman Jambi/suku anak dalam yang hidup nomaden, meramu dan  melakukan kegiatan berburu, pendapat  penulis  besar kemungkinan  suku anak dalam yang ada dalam  kawasan Taman Nasional Buki Dua Belas, Bukit 30 dan sebagian besar suku anak dalam di wilayah Hitam Ulu, hingga Senamat, Pelepat dan Tebo di duga merupakan sisa sisa manusia purba di lembah alam Kerinci yang masih tersisa.karena terdesak oleh perkembangan zaman mereka mengasingkan diri ke hutan Belantara di Pedalaman Jambi yang saat itu sangat sulit untuk dijangkau.  Kesamaan yang  terlihat  jelas antara manusia purba dengan suku anak dalam adalah hidup nomaden, dulu orang kubu juga tinggal di ”Bane kayu”, kehidupan mereka sama sama tergantung dari alam dan hasil kegiatan berburu, suku kubu tradisional/tidak berpakaian  lengkap, dan pola hidup dan pola pengolahan untuk dikonsumsi masih sangat sederhana.
Sistim kemasyarakatan dan pola  kehidupan mereka yang masih  sungguh sangat sederhana, maka para ilmuawan  sepakat  bahwa  manusia Kecik  Wok Gedang  Wok  adalah manusia pertama  yang hidup pada zaman batu tua  (Paleolitikum). Manusia ”Kecik  Wok Gedang Wok” telah mengenal api, hasil penelitian ahli sejarah pada sejumlah gua gua yang dilakukan  penelitian  terdapat  bekas tempat unggun api, mereka membuat unggun api untuk memanaskan ruangan gua pada malam hari.
Dari pengamatan penulis dilapangan dan  dan wawancara dengan budayawan alam Kerinci Iskandar Zakaria (70 Tahun) 06 - 07 Agustus 2010 serta  pendataan yang dilakukan  bidang  sejarah dan kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jambi, di sebutkan nenek moyang orang suku Kerinci pada masa lalu menganut kepercayaan dinamisme dan animisme, mereka sangat mempercayai kekuatan benda dan kekuataan roh. Benda benda itu mereka yakini memiliki “Steih” semangat, mereka sangat meyakini bahwa para nenek moyang yang telah meninggal dunia rohnya tetap hidup dan abadi, roh roh ini mereka yakini masih hidup menetap pada batu batu besar, pohon pohon besar,gunung, mereka  sangat memuja  arwah/roh para leluhur, ketergantungan terhadap roh roh  nenek moyang sangat mereka andalkan, mereka memuja dan meminta perlindungan, keselamatan dan meminta rezeki kepada para roh roh nenek moyang mereka, Dan sisa sisa peninggalan   purba sampai saat ini masih dapat di lihat di alam Kerinci, namun sisa sisa tersebut telah berubah dalam bentuk kebudayaan yang dikemas untuk sebuah pertunjukkan seni. 
 
SUMBER :   Buku “Sejarah  Kebudayaan Alam Kerinci”
PENULIS :   Budhi Vrihaspathi Jauhari Rio Temenggung
                   Depati Eka Putra, SH. M.PdI
                   Leo Candra,  S.ST.Par, M.Si