Elviandri

Cerita di hari ke-18 : Dakwah Bil Qolam

“serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (qs. An-nahl : 125).

Alhamdulillah di Hari ke-18 penelitian untuk skripsi ini ada banyak cerita yang ingin dibagi, namun nampaknya waktu memiliki keterbatasan yang sangat sangat sangat lah cepat untuk berganti. 

Ketika hendak memulai hari, baru sebentar rasanya melihat pagi, ketika sampai di penghujung malam baru saja rasanya terlelap dalam mimpi. Oh waktu sangat cepat nian ia berlalu.

Saya bukanlah ahli kitab, bukan pula ahli agama. Namun untuk menjadi pembelajar yang baik tak harus jadi ahli bukan? Belajar bisa dari mana saja, dan belajar yang paling tepat adalah belajar langsung dari kehidupan. 

Beberapa waktu lalu saya mendapat kabar bahwa seorang teman saya telah dahulu dipanggil Allah. Diusia yang sangat muda. Ditengah prestasi gemilang di kampusnya. Lantas saya merenungi diri, bagaimana  jadinya jika esok, nanti atau mungkin setelah saya menulis ini saya pun akan segera di panggil Allah ke JannahNya?

Ah, saya belum siap. Amalan ini masih terlampau sedikit untuk ditimbang. Belumlah besar manfaat hadir saya dimuka bumi. Lantas beranjak dari sanalah, saya meyakini bahwa setiap orang memiliki nilai kebaikan dihati nya. Entah seberapa bejat atau jahatpun dia. Mungkin juga saya, mungkin.

Untuk itu, di usia yang masih muda ini, ingin mencoba sedikit berbagi sesuatu yang bisa dibagi. Dan semoga bermanfaat untuk orang-orang walaupun dampaknya tak terlalu besar dirasakan.

Bismillah..

Dakwal Bil Qolam.

“Nahnu Du’at qabla Kulli Syai in”. Karena kita adalah da’i sebelum menjadi apapun.Setidaknya menjadi da'i untuk diri sendiri.

#renungan malam


Kerinci, 7 Maret 2014 23.59

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian (Pramoedya Ananta Toer)