Elviandri

Cerita dari Kerinci : Pesona Danau Gunung Tujuh (Part 2)


15.03
Jalanan dengan aspal licin menjadi tempat berpijak kami meniti langkah, menyusuri kiri-kanan sawah penduduk yang terbentang, hijau. Banyak mata tertuju pada kami. Entah karena apa. Ah, biarlah, anggap saja jadi artis dadakan.

16.05
Kami sampai di pos gerbang  masuk TNKS. Setelah membayar tiket masuk dengan karcis seharga 2500 rupiah per orang, kami bergegas untuk memulai pendakian, di gerbang tak lupa kami berfoto narsis dulu. Mengabadikan perjalanan singkat penuh makna. Perjalanan ini dimulai dengan menyusuri jalan berbatu yang melewati kebun penduduk sekitar. Setelah itu kamipun melewati bumi perkemahan, selanjutnya mulai masuk hutan. 

20.01
Kami masih berada di hutan, disebuah tanjaka yang cukup terjal. Beberapa pecinta alam dari Unja nampak baru turun. Menurut pak khairul seharusnya jam segini sudah sampai di Danau. Namun perjalanan kali ini kami tidak ingin memaksakan diri, karena tidak semua anggota team terbiasa dengan perjalanan seperti ini. Ini perjalanan paling lama dan paling banyak istirahatnya kata bapak, ah tapi tak mengapa, toh dengan perjalanan ini kami lebih sering terdiam dan mendengar simfoni alam. Suara hutan yang sangat khas. Walaupun agak merinding juga.

20.30
Sampailah di puncak. Gelap. Hitam. Alhamdulillah. Setelah ini track yang dilalui adalah menuruni bukit. Dengan persediaaan cahaya yang kurang ditambah gerimis malam menjadikan setiap langkah sangat wajib untuk berhati-hati mencari pijakan.
 
22.51
Akhirnya kami sampai di depan danau. Suara air yang kencang. Membahana, itu merupakan outlet berupa air terjun dibawahnya. Kami bergegas mendirikan tenda, membuat api unggun yang akhirnya tak kunjung jadi dan menghangatkan badan di sleeping bag yang sudah menanti.
***

06.00
Ah, sayang. Sunrise yang dinanti tak kunjung hadir. Kabut asap membuat semuanya menjadi putih. Ini salah satu dampak pembakaran hutan atau mungkin juga erupsi gunung merapi? Ah entahlah. Yang pasti pagi ini saya kembali gagal mendapatkan sunrise yang tak kutemui di sawarna dan pangandaran. Suasana danau terasa asri dan alami. Udara segar, panorama hijau yang tertutupi kelam, dan air danau yang jernih menyuguhkan keindahan yang mampu membuat Anda betah berlama-lama menikmati pemandangannya. Selain sebagai tempat melepas penat dan bersantai, danau ini juga digunakan sebagai sumber mata pencaharian nelayan setempat. Menikmati alam bisa dengan berbagai cara, dengan berfoto ria salah satunya. Mengabadikannya dalam lensa. Membuatnya menjadi kenangan berharga.

13.08
Pendakian perjalanan pulang cukup terjal. Malam tadi track penurunan tidak terlalu terlihat, tetapi sekarang terlihat sudah yang kami lalui malam tadi. Akar-akar kuat, yang menggantung bisa saja tiba-tiba patah dan hmmm bayangkan saja apa yag hendak di bayangkan hehe. Perjalanan pulang ini terasa lebih ramai karena pagi tadi kamu juga kedatangan tamu beberapa anak remaja dari Siulak dan dua orang turis dari Jerman yang sedang  bertandang kesini.
Perjalanan pulang selalu menyisakan kenangan berharga, walau baru tadi malam kami sampai namun tetap saja keindahanya tak ternilai. Hutan nan hijau, lebat dan asri. Indah, sungguh indah sekali karunia tuhan. Pasir putih, salah satu bagian yang belum sempat kami datangi. Ah nanti. Aku pasti kembali.

Yang mencintai kebebasan hidup.
Salam dari Danau Gunung Tujuh

YE Ar-rajid