Elviandri

Cerita dari Kerinci : Pesona Danau Gunung Tujuh (Part 1)


Kicau burung dan kokok ayam sudah terdengar menghiasi pagi. Pagi yang akhirnya dapat kunikmati kembali di tanah ini ; Kerinci. Yang kata orang merupakan sekepal tanah surga yang tercampakkan ke bumi. Ah, entah apapun alasannya, yang pasti Kerinci memang menyuguhkan pemandangan yang elok di mata. Tak akan pudar rasa cinta dan tak akan pernah lelah kaki melangkah untuk menyaksikan panorama keindahan yang disuguhkan alam semesta. 

Pagi menyambut hari bersama sekawanan embun berkabut yang sedang bersenandung mesra. Berarak melintasi deretan punggung Bukit Barisan. Dingin.
                                                                   Kayu Aro

10.00
Setelah menyusuri hamparan sawah yang menghijau, berjuang melawan angin pagi yang sedikit lebih genit kali ini, setelah menempuh 5 km perjalanan akhirnya waktu mengantarkan ku hingga sampai di Kota Sungai Penuh, kota penuh kenangan selama SMA yang menghiasi hari-hariku. Dulu. Kini Kota Sungai Penuh membawa aura tersendiri bagiku, bukan saja karena baru kali ini aku dapat bersua lagi dengan Pasar Tanjung Bajure. Dengan terminalnya, atau dengan aneka jajanan murah meriah di pasar, tapi kota inilah yang menjadi tempat penelitian untuk menyelesaikan strata 1. 

Sedikit nostalgia masa lalu,dengan berjalan menyusuri gang-gang pertokoan kecil nan sempit yang kurindukan. Terminalnya pun tak terlalu banyak berubah, hanya ada tambahan pagar yang membuatnya lebih terlihat elegan.

10.45
Setelah menunggu tiga orang personel yang tak kunjung datang, akhirnya berangkat menuju desa Pelompek dengan mobil angkutan berwarna putih. Tak sama dengan diBogor, disini bukan kita yang diperebutkan angkot, tapi kita lah yang harus pandai-pandai memposisikan diri agar mendapatkan angkot agar tidak ngetem terlalu lama. 

Oh ya, saya lupa menceritakan perjalanan melihat bumi Allah kali ini. Tujuan kami adalah menuju Desa Pelompek yang menjadi pintu masuk menuju kawasan Danau Gunung Tujuh. Danau Gunung Tujuh merupakan salah satu objek wisata alam yang harus kamu kunjungi jika sampai di Kerinci. Danau tertinggi di Asia Tenggara ini terletak di atas gunung, sehingga perlu perjuangan khusus untuk mendakinya.  Danau Gunung tujuh mempunyai  luas sekitar 960 hektar dengan panjang 4,5 km, serta lebar 3 km. Ketinggian danau tersebut berkisar 1,950 meter di atas permukaan laut dan termasuk dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat. 

Dinamai Danau Gunung Tujuh karena dikelilingi tujuh puncak gunung di sekitarnya. Gunung-gunung tersebut, di antaranya Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), Gunung Hulu Sangir (2.330 m), Gunung Madura Besi (2.418 m), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis lumut (2.350 m), Gunung Selasih (2.230 m), Gunung Jar Panggang (2.469 m), dan Gunung Tujuh (2.735 m).Danau Gunung Tujuh adalah danau vulkanik yang indah dan sangat mempesona yang tercipta karena proses letusan gunung api, yaitu Gunung Tujuh. Letusan gunung tersebut menyebabkan terbentuknya sebuah kawah besar yang kemudian terisi oleh air hujan sehingga membentuk sebuah danau. Danau Gunung Tujuh mengaliri beberapa sungai di Jambi, salah satu bermuara di Sungai Batanghari yang akan sampai di Selat Berhala. Mungkin ini adalah salah satu alasan logis mengapa Kerinci disebut Sekepal tanah surga yang tercampakkan ke bumi.

11.15
Deru mesin putih ini berhenti di pasar Siulak. Agak macet sedikit karena di pasar tradisional ini banyak angkot dan mobil yang berjejer dipinggir pasar. Dari kejauhan terlihat lah bukit tengah yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kerinci yang baru setelah berpisah dengan Kota Sungai Penuh sedang giat-giat nya membangun. Semoga bisa menjadi Kabupaten percontohan di Indonesia ya. Amin.

11.47
Perjalanan terus berlanjut, dan yang pasti mata tidak akan pernah mau rugi untuk berkedip walau sedetik, hati tak akan lupa bersyukur bertasbih atas keindahan semesta raya ini. Hamparan sawah yang menghijau, kemudian akan bersua dengan pucuk-pucuk casiavera yang memerah berkilau ditimpa sang surya, semerbak harum mewangi bunga kopi robusta dan hamparan kebun teh terluas di dunia yang berundak-undak terbentang luas bak permadani yang silih berganti menancap dimata. Ah, indah nian ciptaan tuhan.


12.40
Akhirnya kami sampai di Lubuk Pauh sebelum Desa Pelompek. Dinginnya sangat luar biasa, kami singgah di rumah pak khairul porter yang akan menemani kami menuju Danau Gunung Tujuh. Disuguhi makan dengan ikan dan tahu segar yang cukup luar biasa untuk mengisi perut.

13.01
Setelah shalat, kami bergegas menuju pasar Pelompek untuk membeli makanan dan perbekalan. Kutatap langit siang ini, waw masih berkabut berselimut mesra. Dingin. Menusuk hati. Sedingin skripsi yang tak rampung-rampung juga.hehe.. Yang pasti,suasana di siang hari ini hampir sama dengan dingin Tokyo ketika mengunjungi februari tahun lalu. Syahdu. Pilu. Menyayat hati.

                                                                          Pasar Pelompek
14.03
Dengan berbekal semangat gegap gempita, kami berangkat menyusuri rumah-rumah penduduk dan jalan desa untuk mengawali perjalanan. Menuju rumah pak less porter kedua yang akan menemani perjalanan kami. Disini sempat terpikir akan konsep pariwisata terpadu yang pernah dicananangkan dalam sebuah paper saya bulan lalu, bahwa keterlibatan penduduk lokal adalah syarat mutlak agar wisata dapat berkembanga dengan baik. Ah, nanti. Semoga suatu saat nanti, benar-benar bisa mengabdi disini. Kerinci. Untuk kemajuan kampung halaman tercinta setelah “mencuri” ilmu di tanah Bogor. Yes, pasti.

#Bersambung

Dibawah langit Kerinci yang mendung

@ElviandriYoni