Elviandri

Catatan Mahasiswa Berprestasi (??)


“… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Mujaadilah [58] :11).  

Akhir-akhir ini sering senyum sendiri karena ternyata di inbox Facebook dan Email saya cukup banyak sebuah pesan, pertanyaan, kritik dan saran serta banyak hal lain yang berdatangan. Saya secara pribadi ingin mengucapkan terimakasih kepada kaka-kaka, teman-teman dan adik-adik yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi cerita, berbagi nasehat serta berbagi kebahagiaan dan kesedihan lain yang terlampau banyak jika saya utarakan disini. Terimakasih atas kepercayaan teman-teman semua.

Dan permintaan maaf yang sebesarnya dari saya jikalau ada email/pesan yang tak terbalas, atau jawaban-jawaban yang tidak terlalu memuaskan. Karena akses internet disini (tempat penelitian) tidak selancar yang bisa saya dapatkan ketika di Bogor.
Mohon maaf.

Ingin meringkas dan menulis sedikit saja tentang sesuatu yang banyak ditanyakan.
Seperti judul tulisan ini : Catatan Mahasiswa Berprestasi . Saya sebenarnya agak geli untuk menuliskan, karena seyogyanya saya bukanlah mahasiswa berprestasi. Bukan. sungguh bukan. Namun banyak yang bertanya bagaimana dan mengapa harus menjadi mahasiswa berprestasi?
Jujur, dari hati paling dalam, saya bingung untuk menjawab hal ini. Karena saya memang tak pantas untuk menjawabnya. Saya ini bukanlah apa-apa.

IPK saya sangatlah jauh dari mahasiswa "keren" versi dosen dan administrasi kerja.
Bahasa Inggris saya tidaklah se"lancar" mengalirnya air terjun Telun Berasap di Kerinci.
Piala saya tidaklah sekemilau para penerima penghargaan di Grammy award.

Akan tetapi, saya selalu belajar untuk mencintai sesuatu yang saya sangat tak menyukainya, salah satunya adalah IPK. Yang "mungkin" menjadi batas penentu dan penggolongan mahasiswa yang rajin belajar atau tidak. Mahasiswa yang "pintar" atau pun tidak terlalu pintar. Ya, banyak versi dan fakta tentang nya, lantas bagi saya IPK bukanlah segalanya-galanya jika saya telah faham potensi saya kedepannya. Dan saya sangat bangga dengan hasil angka yang tertera di KRS saya saat ini walau tidak setinggi bintang dilangit.

TOEFL saya ngga lebih tinggi dari 440 untuk standar orang kece kata sebagian orang. Ndak pernah les bahasa inggris, belajar dari kamus, ceplas ceplos sebisanya. Saya suka nilai TOEFL saya saat ini. karena bagi saya aksi itu lebih keren seribu dewa.

Dan yang ketiga adalah piala. Sebuah lambang apresiasi yang kata sebagian orang juga "keren". Bagi saya ndak jugaa, apresiasi paling tinggi adalah ketika capaian berhasil saja sudah cukup. Piala, hanya sekedar penghias kamar.

Lantas??

Saya tidak ingin menjadi mahasiswa yang setiap harinya harus berkemelut dengan kehidupan “semu” dalam kampus. Pengejaran kesempurnaan nilai tanpa esensi, IPK tertinggi. Atau lulus cume laude. Karena tidak sedikit mahasiswa pada akhirnya memutuskan kuliah-pulang, kuliah-nongkrong, kuliah-mojok, hanya karena keapatisan mereka terhadap bagaimana cara mengoptimalisasikan diri sebagai mahasiswa.
Padahal, mahasiswa mengemban amanah besar dipundaknya. Apalagi untuk saya yang harus hidup dari "beasiswa" yang dituntut untuk menjadi mahasiswa berprestasi denga standar IPK tertentu. Apakah IPK adalah dasar segala-galanya? Jawab sendiri dengan persepsi anda. :D

Dan bagi saya, menjadi mahasiswa berprestasi itu relatif menurut takaran dan standar masing-masing kita. Semua hanya tergantung persepsi dan bagaimana cara kita menghargai anugerah yang Allah telah berikan kepada kita. Semua makhluk diberikan potensi ruh, jasad, dan pikiran yang sama. Pada akhirnya, yang membedakan hasil pencapaian orang yang satu dengan orang yang lain adalah usahanya. Ingatlah  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu suatu kaum, sehingga kaum tersebut mengubahnya sendiri” (QS. Ar Ra’du [13] : 11).
Apakah menjadi mahasiswa berprestasi itu harus mendapat IPK 4,00? Cumlaude? CV bertumpuk? Piala menggunung? sertifikat membludak?
entahlah, setiap orang punya standar masing-masing. Namun menurut saya, bisa mengerjakan yang saya suka dan orang-orang menyukainya saja sudah menjadi Mahasiswa Berprestasi, minimal untuk diri sendiri.
Terus bermanfaat saja dengan karya-karya yang yang berguna untuk orang banyak. InsyaAllah. Label Mahasiswa Paling Bermanfaat tak akan kau dapatkan di dunia, tapi di Surga.
Tetap lah berprestasi sesuai standar dan potensi kita.
*Maaf jika tulisan agak ngalorr ngidul, sudah ngantuk beraaat, baru saja turu dari danau gunung tujuh. #curhat. 

-Senja temaram-