Elviandri

Setetes Kasih Dalam Selembar Dunia Dari Ayah : Radar Bogor 15 Januari 2014

Selamat pagi minggu !

Baiklah, atas desakan berbagai pihak, ini ada sebuah cerpen yang saya tulis ketika tahun 2012. Dan Alhamdulillah sudah di publikasikan di harian radar bogor edisi 15 Januari 2014 kemarin.

Ini tulisan lama, dan tidak saya ubah sedikitpun walaupun sempat tertawa ketika membaca ulang.hehe Akan tetapi inilah proses dari tahun ketahun menulis sehingga nanti terlihat perkembangannya kan.
Selamat membaca. Semoga bermanfaat.



SETETES KASIH DALAM SELEMBAR DUNIA DARI AYAH
Oleh: Yoni Elviandri
          Hujan menyelimuti langit kota Bogor. Kabut pekat beregerak menjujung langit berarak mesra mengepung senja. Kubuka tirai jendela kamar, semerbak angin sore menerpaku manja. Menggeliatkan tubuhnya menari-nari indah bersama daun samanea saman yang berdiri kokoh di halaman rumah.

          Aku seolah tak percaya, saat ini sebuah tiket pesawat dengan segala berkas lainnya sedang berada di genggaman ku. Esok hari mungkin akan menjadi sejarah yang paling indah dalam hidupku. Untuk pertama kali nya aku akan menginjakan kaki di negeri saba Yaman. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkemuka disana. Aku hanya bisa menghela nafas panjang, ini memang sebuah mimpi, dan sekarang aku bisa meraihnya. 

        Ku alihkan pandanganku pada selembar kertas di sudut kamar, sebuah kertas tua berukuran A2 itu telah sangat lusuh. Bekas tempelan solatip dan lem terlihat di hampir setiap bagiannya. Itu adalah sebuah peta dunia. Yang telah terlumuri tinta-tinta hasil coretanku. Selembar kertas yang menjadi saksi bisu semua harapanku, selembar kertas yang menjadi bukti bahwa mimpi bukanlah hanya menjadi angan belaka. Dan pada selembar kertas itulah tempatku mengadu akan rinduku. Rindu  pada seseorang yang mengenalkanku pada dunia, rindu pada seseorang yang siangnya tak pernah ada kata lelah demi menyekolahkan anaknya, rindu pada seseorang yang kini hanya bisa kukenang wajahnya. Itu rinduku, rindu yang teramat dalam untuk ayahku.


          Dari ayah aku mengenal semuanya, dari ayah aku berani bermimpi menjelajah dunia. Dan dari ayah aku masih bisa berdiri tegak di negeri yang dulu hanya ada dalam angan. Masih ku ingat waktu itu, ketika panas terik menerjang kampungku, ayah dengan senyum lembutnya menemaniku ke sekolah. Melewati jalanan berbatu tajam sejauh 5 km. Kampungku termasuk yang paling pelosok di pesisir sumatra. Jangankan mobil, listrik di desaku pun seperti halilintar yang tak menemukan tuannya, kadang ia bisa menyala cukup lama namun kadang lagi ia akan terpejam dalam waktu yang lama pula. Karena itu, bisa memiliki sebuah sepeda termasuk kebahagiaan yang tak terkira.

          Hari itu adalah pembagian raport kenaikan kelas, seperti biasa orang tua murid harus datang untuk melihat hasil kemajuan pendidikan anaknya. Dan ayahku selalu yang akan setia untuk itu, karena semenjak SD kelas 1 ibuku telah merantau dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita di Arab Saudi. Maka tak heran jika aku dan ayah memiliki kontak batin yang teramat dekat yang mungkin melampaui ibuku. 

          Ayah datang dengan pakaian kumalnya. Namun aku tak pernah benci akan hal itu, bagiku, ia adalah raja yang bahkan mengalahkan keperkasaan pangeran williams sekalipun. Ia datang dengan sepeda ontel tuanya. Memasuki kelas, lantas mengambil tempat duduk paling belakang. Pengumuman hasil kenaikan kelas pun diumumkan. Bersama dengan itu juga diumumkan tiga orang murid dengan hasil prestasi terbaik. Semester lalu, aku tergeser menjadi peringkat ke-dua di kelas. Dan pada ujian ini aku memang tidak terlalu berharap banyak. Semoga apapun hasilnya dapat membuat ayahku bangga. Satu persatu nama siswa mulai dipanggil. Dan kecewa tentunya akan menghampiriku karena ternyata posisi peringkat ke-dua dan ketiga tidak menjadi milikku. Aku pasrah, namun diluar dugaan , pak Yasmin wali kelas ku memanggil namaku.
“Dan peringkat satu adalah. Andri, silakan naik ke atas panggung bersama orang tua atau wali murid” kata beliau.
          Tepuk tangan menggelegar di ruangan kelas yang usang ini. Dengan langkah tegap kulihat ayah berjalan dari tempat duduk paling belakang untuk menaiki panggung. Kulihat matanya agak sedu, semoga itu menandakan bahwa ia bangga pikirku. Namun tetap saja, ketika itu aku merasa dunia belum kumiliki seutuhnya. Karena tak ada ibu layaknya  siswa lain yang turut mendampingi. Selepas pembagian raport dan foto bersama, aku langsung pulang bersama ayahku. Sesampainya di halaman rumah, beliau lalu mengambil sebuah gulungan kertas yang dibalut kertas kado dari dalam tasnya. Lipatannya memang tak sebatas kado-kado di pesta ulang tahun atau perkawinan, namun bagiku itu adalah kado paling indah yang pernah kuterima.
“Ini untukmu nak, ambillah. Nanti tempel di dinding kamarmu dan suatu saat kemanapun engkau pergi bawalah, dan jelajahi setiap sudut dunia yang engkau mimpikan” katanya singkat. 

         Kata-katanya singkat, namun padat dan syarat penuh makna, setelah itu beliau langsung pergi lagi mengayuh sepedanya untuk mencari uang. Meninggalkan aku sendiri yang termangu dalam sepi sembari membuka kado dari ayah. Kubuka bungkusan itu. Dan ternyata isinya adalah sebuah peta dunia. Ku lingkari tiap bagian bumi Allah yang hendak ku jejaki, melewati rute-rute perjalanan dari berbagai negeri yang hendak kusinggahi. Dan sekarang tepat ketika usia ku telah mencapai 21 tahun, kulihat kembali kertas di lingkaran itu dan Yaman ternyata negeri pertama yang bisa kukunjungi . Dalam sepi aku merindu ayah yang telah tenang di jannahNya, juga ibu yang kuharap bisa bersua suatu hari nanti.

          Ayah do’akan aku. Kan kuwujudkan mimpimu, kan kujelajahi tiap sudut dunia yang ingin kau tempuh. Jangan kau ragu ayah, aku akan berusaha untuk itu. Secarik kertas sederhana inilah yang akan kubawa menembus cakrawala dunia. Dunia mu, dunia kita.
“Karena dari sini kujelajah dunia, hingga batas cakrawala”
                                                                                              Bogor, 7 November 2012
                                                                                                        Yoni Elviandri


Miss my dad !