Elviandri

Sawarna (Part 3) : Sebesar Gelombang Ini, Sedalam Cinta Kita


“Maka, jika kau mampu, jadilah hujan dan bandang, dengan airnya kau gerus semua kebathilan dan kemunkaran. Maka jadilah badai dan gelombang, yang akan kau gunakan kekuatannya untuk memerangi keburukan. Tapi jika tak mampu, tak mengapa. Kau jadi saja setetes embun di ujung-ujung daun. Menyegarkan mata yang memandang, dan menghapuskan dahaga rumput-rumput yang meski liar, tetap memerlukan sentuhan. Jadilah setitik air yang melampangkan harapan serta kehidupan.”-Herri Nurdi-


                                               Perjalanan menuju Tanjung Layar

5.30
Deburan ombak membangunkan kami di pagi yang masih semu ini. Suaranya terdengar parau, mengaung memanggil kami untuk segera menghampirinya lagi. 

Semua terbangun, dan taraa.... kita kehilangan matahari (lagi) yang dicari. Sunrise telah meninggalkan kami dengan hanya meninggalkan jejak kilau peraknya di ufuk timur. Rencana tadi malam untuk menyusuri pantai di pagi hari mengejar sunrise gagal. Ah, mungkin ini pertanda agar suatu saat nanti kami bisa mengejar dan menyaksikannnya lagi disini. Amin.

Akhirnya, kami pun duduk leha-leha sejenak, di saung depan homestay disaksikan balutan simfoni pagi antara hijau nya sawah yang terbentang dengan merdu burung yang berkicau. Menyatu riang. Dan kami pun hanyut dalam lamunan masing-masing. Imajinasiku kembali liar, membayangkan suatu saat nanti akan duduk lagi disini, bersama keluarga tercinta. Memandang pagi bersama secangkir kopi hangat bersama dua orang buah hati dan istri tercinta. Terlalu indah untuk dibayangkan teman. #tsahaa haha ^^
                                                              Ciwi-ciwi lagi berpose
6.30
Kami bergerak menyusuri pantai. Menyaksikan ombak-ombak yang saling berkejaran. Jejak kami terukir di pasir putih ini, bersama angin pagi yang membelai begitu mesra.
Pantai Ciantir masih terlihat lengang dari peradaban manusia.  hanya ada kami, ya kami. Dan lagi-lagi terasa begitu indah nian karunia tuhan ini untuk tidak disyukuri.
Mentari pagi masih terlihat sayu di pelupuk mata,memamerkan senyum sumringah, picing. 

7.15
Perjalanan dilanjutkan menuju Tanjung Layar. Satu dua kali kami bertemu dengan beberapa orang yang sedang memancing. Yang menjadi penunjuk arah kami. Oh ya, perjalanan kali ini kami tidak menggunakan guide seperti yang banyak dilakukan banyak orang. Namanya juga backpacker, selain kocek pas-pasan ala mahasiswa, kami ingin lebih liar menyatu dengan alam. Sebuah perjalanan yang nyasar sekalipun akan terasa menjadi indah seperti ini karena kami lalui bersama. #Sosweetkan^^. 


Bagi yang takut nyasar, kalian bisa menyewa guide yang biasanya ada disetiap homestay. Sewanya bergantung pada keahlian tawar menawar dan saling nego. Biasanya berkisar antara 70-100 ribu tergantung banyak spot yang akan didatangi. Bagi yang tidak suka jalan kaki, bisa menyewa ojek yang tentunya jauh lebih mahal, ke pantai Lagoon Pari saja bisa sampai 50.000. Wajar, karena yang akan dilalui juga tidak mudah, naik turun bukit untuk mencapainya. 

#Pelajaran12 : Merasa ngga enakan itu perlu, namun sesuaikan dengan kondisi. Dalam perjalanan yang selalu memunculkan banyak kemungkinam seperti ini, hemat dan nyaman adalah dua faktor utama yang harus jadi pertimbangan

8.20
Kami sampai di Karang Bereum yang tadinya kami anggap sebagai Karang Taraje. Air terjun tercipta dari gelombang-gelombang besar yang pecah terhantam karang. Lalu meliuk-liuk menari, fantastis. Mungkin ini yang dikatakan liu eng, salah satu teman saya dari Beijing yang pernah berkunjung ke Sawarna bahwa gelombang pantai selatan memang sangat memukau. Mungkin sang ratu sedang menyambut kedatangan kami seraya berkata : “Welcome to the life”.

Pesona Karang Bereum ini tak kalah dengan Karang Taraje, gemericik airnya yang khas membuat kitapun tak sungkan untuk berlama-lama. Apalagi ditambah dengan kepiting-kepiting nakal yang sering dijumpai di karang bersama gelombang.

9.10
Tak terasa satu jam lebih bermain dengan gelombang Karang  Bereum dan akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah warung yang terletak persis di depan pantai. Warung sederhana seperti kebanyakan di pesisir pantai beratapkan seng dengan kayu sebagai penopangnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya hidup keluarga kecil ini. Silih berganti bisa menyaksikan keindahan ciptaan tuhan dengan mudah. Bagi mereka mungkin sudah bosan. Namun tidak bagi kita dan khususnya orang-orang yang berkutat di perkotaan tentunya hal semacam ini ibarat surga dunia yang jangan pernah dilewatkan.
                                                           Menerjang badai @Karang Bereum
Dan pengisi perut pagi ini adalah mie goreng dicampur kuah masakan si ibu warung. Nah dari sini pula saya mendapatkan resep makan mie gaya baru, dan tentu saja yang mengenalkan nya adalah Fiki dan Aul. ^^  Nah ini juga kali pertama dan semoga bukan yang terakhir di tahun ini, menyeduh mie goreng ini dengan hati yang damai, tentram. Rasanya separo jiwa saya telah tenggelam bersama derasnya gelombang. #Halah hehe ^^

10.05
Setelah pamit kepada ibu warung dan meminta tolong di foto bersama, kami pun segera bergegas menuju pantai Lagoon Pari. Letaknya tak terlalu jauh, perjalanannya pun tak akan begitu lama. Tentunya dengan pengecualian kalau tidak banyak berhenti untuk foto-foto. Hehe. Tapi rasanya ya sayang sekali jika momen indah seperti ini dibiarkan berlalu begitu saja.  

                                           Ini di depan warung ibu.Fotografernya langsung si Ibu 
Jika dikanan kami adalah hamparan karang yang cukup luas, maka di sisi kiri kami adalah pepohonan yang cukup banyak melambai-lambai diterpa angin. Vegetasi hijau dipadu dengan biru nya laut menciptakan suatu harmonisasi yang sempurna.

Hingga sesampainya kami di Lagoon Pari, saya, bagus, dan Hafizh tak kuasa menahan hasrat untuk tidak menceburkan diri laut selatan ini. Gelombangnya cukup besar, karena langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, namun masih bisa dipakai untuk berenang dan surfing. Dan lagi-lagi sayapun jadi teringat film Life of pi yang berlayar mengarungi samudera seorang diri hingga terdampar di pantai Mexico. Nah apakah kami akan bernasib sama dan terbawa hingga ke Australia? Wah jangan. Belum saatnya.hehe 
                                               Berkejaran dengan gelombang Lagoon Pari
10.35
Sebelum pulang, tak lupa kami memesan kelapa muda segar yang nikmatnya luar biasa. Hanya 5000 rupiah per porsi. Dan kelapa ini pun special karena baru saja di petik langsung dari pohon nya. Ah, akhirnya bisa merasakan sejenak hidup sebagai anak pantai. Setelah penelitian saya berubah dari lanskap pesisir ke lanskap sejarah hehe.Berbicara tentang lanskap pesisir maka mau tidak mau harus teringat ke mangrove, ekowisata dll yang menemani petualangan mimpi saya selama 2 tahun terakhir sekaligus membawa saya di tahun lalu ke 3 musim pergantian waktu yang sebenarnya sudah disiapkan untuk menjadi skripsi, hehe. Ah hanya sebatas perkara waktu.
                                                   Laskar putih-putih di Lagoon Pari
11.15
Akhirnya kami pulang. Meninggalkan Lagoon pari dengan segala keeksotisannya. Persis sama kayak Ninja hatori, mendaki gunung melewati lembah. Dengan rute yang berbeda, karena sudah tidak mungkin menyisiri pantai karena matahari kian meninggi. 

Lanskap yang tertata cukup indah, bukit dan laut adalah dua komponen yang seolah menyatu dengan apiknya. Sawah terasering terlihat rapi bertumpuk satu sama lain. Nah sebagai anak pertanian, haram hukumnya jika selama perjalanan ngga belajar langsung dari alam. Toh anggap saja sedang berada di lapang.

Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al jami)

Sebuah hadist shohih diatas menjadi dasar perjalanan kami bahwa perjalanan ini tak sebatas perjalanan liburan semata. Ya bukan. Tetapi lebih dari sekedar itu, perjalanan mencari ilmu yang tidak kita dapatkan di bangku perkuliahan. ^^

11.36.
Tak terasa, perjalanan ini sudah berakhir. 6 jam di pagi hari yang mengesankan. Bermodalkan nekad dan semangat lillahita’ala. Melewati jembatan gantung dan menyusuri jalan raya, hingga sampailah kami di homestay. Duduk seraya istirahat sejenak, lalu makan siang bersama ala kadarnya. Aaaaa merindukan sekali mome-momen ini . ^^
                                                                         @Tanjung Layar
#Pelajaran13: Teman yang asyik di ajak travelling adalah salah satu ciri teman yang akan jauh lebih asyik di ajak menua bersama. #tsaaahhh ^^ #


Ini bagi yang berniat menyaksikan catatan perjalanan kami =>>
http://www.youtube.com/watch?v=R08lhc12tog 

 #Bersambung...