Elviandri

Salam Dari Borneo (Part 4) : Ketupat Lebaran Balikpapan


7 Agustus 2013

3.00

Kami terbangun untuk menyantap sahur, masih dengan menu yang sama walaupun tidak sesegar waktu berbuka tadi. Aih, nikmati sekali. Merasakan jadi perantau yang melintasi dua pulau minggu ini. Langit masih terlihat kelam. Pun juga dengan teksi air ini yang berjalan pelan. Riak Mahakam masih bersenandung lirih, kubuka jendela kapal perlahan, menikmati sentuhan lembut angin pagi yang semerbak mendamaikan. Dikapal ini juga terdapat mushola di bagian belakangnya. Kubasuh muka, mengahdap tuhan sang pencipta. Lirih dalam do’a, kusampaikan salam teruntuk keluarga tercinta di kampung halaman. Besok tepat Idul Fitri, dan tahun ini masih belum berkesempatan untuk kembali pulang. Suara adzan samar-samar terdengar. Perih , menyayat hati.

7.30
Duduk di luar dek, menikmati angin pagi Mahakam. Kapal tongkang terlihat banyak berlayar, pelan, membawa batu bara menuju Selat Makassar, melintasi laut Jawa atau bahkan melintasi Samudera.
Semilir angin pagi ini syahdu sekali, rumah-rumah terapung kian banyak terlihat. Memasuki wilayah Tenggarong, beberapa kali kapal berhenti, naik dan menurunkan penumpangnya. Banyak yang mandi di sungai, berenang, memancing ikan, inilah kehidupan di pinggiran Mahakam.Disaat seperti ini, pujangga mana yang tak betah untuk tidak menulis berlama-lama. Sajak demi sajak pun tercipta. Bait demi bait kata pun terangkai.



11.30
Tak lama berselang, hujan pun membasahi Mahakam. Samarinda telah nampak dari kejauhan. Dan kami pun sampai di Dermaga Samarinda. Aih, selamat tinggal Mahakam. Akan ada banyak cerita yang akan ku kenang.

Diguyur hujan, kami segera menuju mesjid Islamic Center. Perjalanan yang letih ini pun terbayar dengan kemegahan mesjid ini. Halaman yang luas, sedang dipersiapkan untuk shalat ied pagi besok, mungkin jika kami tidak pulang kemarin, besok kami masih berada di teksi air, mendengar takbir disana. “Oh, untung sudah pulang”, kata Randi. 

Di depan masjid ini, Mahakam terlihat begitu gagah dengan anginnya yang begitu dahsyat. Mungkin inilah sebabnya Samarinda disebut kota tepian.


Setelah shalat, kami bergegas pulang ke Balikpapan. Ingin rasanya berlama-lama disini, menentramkan hati, tetapi besok Idul Fitri, itu pertanda kami harus segera pulang.


7 agustus 2013
Berlebaran lah kami disini. di bawah sinar langit Balikpapa.
 
Dan tepat tanggal 10 Agustus 2013, kami meninggalkan Manggar, meninggalkan Balikpapan. Kota yang ramah bagi pendatang, ini juga kota satu-satunya yang sangat aman bagi pejalan kaki menurut saya. Disetiap jalan raya selalu ada gerbang penyeberangan dimana setiap yang menyebrang disana dilindungi undang-undang, Keren. Diantar oleh Mba elis, om dan Nola, menuju Bandara Sepinggan. Ingin rasanya berlama-lama. Namun masih banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan. Selamat tinggal mahakam, selamat tinggal Borneo, suatu hari nanti kami akan datang kembali.

Terimakasih untuk rekan seperjalanan Randi, Mba elis dan keluarga, serta team kece lainnya Putri dan Jaka.