Elviandri

Salam Dari Borneo (Part 3) : Kemilau Senja di Langit Mahakam


6 Agustus 2013

4.00
Pagi sekali. Terdengar suara ketokan pintu yang membangunkan kami. Kasur yang sangat empuk ini nampaknya benar-benar ingin kami berlama-lama dengannya. Office masuk mengantarkan sahur, dengan ramahnya mempersilahkan kami menyantap hidangan nasi dan ayam bakarnya di pagi buta. Ini kelas berat namanya.

7.30
Siap-siap berangkat berpetualang menuju tambang batu bara pagi ini. Segala kemungkinan telah dipersiapkan. Termasuk jika harus jalan kaki. Maka tali sepatu pun sudah diikat kencang. Nah taktik SKSD harus banyak diterapkan disituasi seperti ini, bertanya ke banyak orang sehingga orang tersebut bosan juga salah satu yang harus dilakukan hehe.


Di pangkalan ojek kami bertemu dengan Pak Nunung dan seorang bapak yang sedang mencari pekerjaan disini. Katanya, dia berasal dari Tanjung Periuk Jakarta. Wow, mengadu nasib ke Kalimantan demi hidup anak dan istrinya di Jakarta. Ya beginilah hidup. Harus berjuang untuk memperoleh kebahagiaan.
Singkat cerita, setelah lama berbincang dengan segala topik, kami memperoleh satu kesimpulan bahwa ternyata tak ada angkot disini, transportasi biasanya dengan ojek. Dan dari tadi, di sepanjangn jalan raya ini juga sepi. Hanya bus-bus besar yang banyak terlihat. Bak sebuah kehidupan kota di tengah Hutan.


9.30
Akhirnya kami sepakat untuk menyewa Pak Nunung sebagai Guide sekaligus ojek tumpangannya. Karena untuk menuju lokasi tambang, akan terlalu beresiko jika harus jalan kaki. Jauh brooo, tengah hutan. Dan waktu kami disinipun tidak lama, hanya dua hari. Jadi harus mengefisienkan waktu dengan baik.

Perjalanan terasa cukup berat, jalanan tanah dan beberapa alat sedang memperbaiki tanah untuk didatarkan. Babi dan monyet tak tahu malu seenaknya melintas menyebrangi jalan. Ini baru kali pertama menyaksikan babi secara dekat. Dan tak hanya satu dua ekor. Tapi banyak bertebaran di sepanjang jalan. Perjalanan menuju Muara Bunyut sebuah desa yang terletak di pinggiran sungai Mahakam dihiasi dengan rerimbunan hutan yang sangat lebat. Dari kejauhan terlihat Sungai Mahakam cantik sekali meliuk-liuk mengikuti arus yang membawanya mengalir hingga selat Makassar.  Anak sungaipun banyak kami temui selama diperjalanan. Masih terlihat asri dan sepi.




Oh ya, perjalanan ini bersama Pak Nunung dan Mas Dolly, Randi bersama Pak Nunung sedangkan saya bersama Mas Dolly adik iparnya. Masuk kedalam hutan, Mas Dolly bercerita tentang lokalisasi yang kami lalui disepanjang jalanan ini. “Kalau mas Yoni mau nyoba, boleh nanti malam saya anter” kata nya. Waw, saya hanya tertawa lirih sambil menjawab Wah emang mau ngapain disana mas?  Jawabku pura-pura polos tak mengerti apa-apa. Haha

10.30
Kami sampai di perkampungan dayak penihing, hidup mereka sangat sederhana, hanya berupa rumah kayu sebagi tempat kediaman.Bekas-bekas kebakaran masih terlihat utuh di depan mata, kata mas Dolly, kebakaran terjadi dua hari yang lalu karena sumber api kompor di salah satu rumah warga. Di depan rumah terdapat patung-patung khas Kalimantan. Enthalah saya lupa namanya apa, yang pasti patung ini banyak terdapat di rumah panjang tradisionalnya mereka.
Walau mayoritas penduduk adalah Kristen, namun saya juga menemukan sebuah masjid yang berada persis di depan Sungai Mahakam. Gereja dan Masjid saling bersebelahan, sebuah bentuk kerukunan beragama yang semoga saja tetap bertahan hingga nanti.


11.00
Kami sampai di PT Trubaindo coalmining. Karena tidak dapat izin masuk,kami mengambil jalan pintas. Pak Nunung tampaknya tak ingin kami kecewa, sehingga beliau mencari banyak jalan. Kami lupa mengurusi surat izin, karena menjelang lebaran seperti ini, siapa yang paling rajin ke kampus? Saya pun tidak mau. ^^ 


Melewati jalur belakang hutan, motor Pak Nunung dan Mas Dolly nampaknya cukup tangguh keluar masuk hutan, kami menyusuri pinggiran Mahakam dan dengan sembunyi-sembunyi dapat melihat secara langsung proses pengangkutan batu bara hingga ke sungai. Terlihatlah, kemilau hitam batu bara butir-butirnya masuk ke kapal pengangkut yang telah menanti di pinggir sungai. 

11.30
Kami akhirnya sampai di Muara Bunyut, awalnya pura-pura mencari kepala desa, lalu duduk sejenak, dan langsng ngobrol-ngobrol dengan suku Dayak yang hidup disini. Mereka sangat ramah menyambut kami.lalu mulailah menggali lebih jauh beberapa pertanyaan tentang dampak batu bara terhadap kelangsungan hidup masyarakat sekitar.



Dari hasil survei ini, banyak yang kami dapatkan tentang kehidupan sosial mereka, tapi nampaknya tak bisa di publish disini (Data penelitian rahasian men) hehe. Setelah pamit dan meminta foto bareng, kami melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Melak. Rencana awal kami akan bermalam satu malam lagi di Hotel Monita, namun rencana itu kami ubah, setelah merasa data yang diperlukan sudah cukup maka kami berencana pulang menuju kota Samarinda. Salah satu alasan lain adalah Idul Fitri akan segera datang, mau melewatkan ditengah hutan? Semoga tahun depan bisa ya. ^^

13.10
Belum ada kapal di pelabuhan berarti itu pertanda belum bisa membeli tiket. Lalu kami memutuskan untuk ke hotel dan bersiap-siap pulang. Dan setengah jam kemudian, sampailah kami di Pelabuhan lagi. saatnya berpisah dengan Pak Nunung dan Mas Dolly. Bagi yang akan ke Melak dan melakukan perjalanan seperti kami, pak Nunung bisa menjadi salah satu referensi guide. Beliau sangat ramah, selain itu memberikan informasi lebih dari apa yang kita inginkan. Say juga banyak belajar dari mas Dolly, walaupun lebih banyak bercerita tentang “wanita” maklum lah , anak muda hehe. Mungkin umur beliau dua tahun diatas kami. Namun sudah menikah dan punya satu orang anak bayi yang imut sekali. Menginspirasi bukan? Hehe




13.45
Kami turun dari kapal, berkeliling pelabuhan sejenak. Dermaga yang sederhana ini terasa dekat. Tak begitu asing. Entahlah, walau baru pertama ini menginjakkak kaki disini. Kami berburu bekal berbuka dan sahur dipasar musiman yang hanya ada di Bulan Ramadhan ini. Ada beraneka ragam makanan khas kalimantan yang berjejer disepanjang pelabuhan di tepian Mahakam. Mba-mba yang kami temui ramah sekali, kami membeli dua potong ayam bakar dan ikan yang ukurannnya masyaAllah besar sekali. Seraya bercanda, mba, tahun depan tunggu kami lagi disini ya. :D hehe. Semoga. Semoga Allah mengabulkan.

14.30
Kapal pun berlayar, menyusuri sungai Mahakam yang berarus cukup besar. Namun perjalanan menuju Samarinda ini lebih mudah karena kami tidak melawan arus. Orang sini menyebutnya teksi air. Dari Melak ada banyak pilihan menuju Samarinda, tetapi hanya sampai pukul 6 sore. Rata-rata kapal dipelabuhan Melak berasal dari Long Apari, hulu sungai Mahakam. Namun penumpang terbanyak ada di Melak.
Banyak cerita dikapal ini. Bertemu dengan banyak orang, bercerita tentang banyak hal. Dan disinilah akhirnya bertemu dan berkenalan dengan bang Fachrudin, seorang anggota Backpacker Dunia juga. Beliau tahu saya member dari kaos yang saya kenakan. Wah kenalan baru. Jadilah kami di kapal bercerita tentang pengalaman masing-masing. Berisi, mendewasakan diri.


18.06
Senja mulai datang, kilaunya memecah kebuntuan sore hari. Pedarnya begitu memikat. Dengan ikan goreng pedas yang cukup besar, kami menyantap karunia tuhan di buka puasa hari ini. Ah, ramadhan kali sungguh berwarna. Ini juga kali pertama saya menaiki teksi air, dengan makanan ikan asli Mahakam. 

19.20
Berkenalan dengan orang disebelah saya yang ternyata adalah suku dayak Asli dari Long Apari.  Bercerita tentang long apari membuatku berjanji dalam hati bahwa suatu saat nanti harus kembali kesini. Bercerita tentang pesut mahakam yang mulai punah, juga tentang kondisi pendidikan ditempatnya yang cukup  memprihatinkan. Oh ya, namanya Rio hampir seumuran dengan saya, dan dia ke Samarinda untuk melanjutkan kuliah. Sama seperti kami, saat ini liburan, namun katanya ada tugas kampus yang memaksanya harus segera kembali ke Samarinda.

Kuperhatikan sejenak, penghuni kapal sedang sibuk dengan dirinya sendiri. Kami berada di dek dua, ada tempat tidur dengan kasur dan colokan listrik di atasnya. Rekomendasi sekalilah untuk yang berniat mencari pengalaman menyusuri mahakam di malam hari. Rumah-rumah pinggiran sungai hanya menyisakan cahaya-cahaya kecil pertanda kehidupan. Syahdu.

22.00
Penumpang lain sudah banyak yang terlelap.lampu pun dimatikan satu persatu, kami pun berangsur memejamkan mata.
Selamat malam Mahakam. Mari kita bermimpi sejenak.
  
#Bersambung