Elviandri

Salam Dari Borneo ( Part 2 ): Balikpapan-Samarinda-Melak



5 Agustus 2013

2.30
Sahur di Balikpapan ternyata secepat ini, udara pagi masih menyergap kelabu. Mata nampaknya masih cukup lelah dengan kantung besar yang masih terlihat. Tak ada kentongan pagi dari anak-anak kecil yang biasanya akan ramai disekitar kosan di Bogor untuk membangunkan sahur. Tak ada. Sepi. Sunyi senyap.
Mungkin karena disini waktu memang banyak untuk bekerja. Kebanyakan penghuni Balikpapan juga bukan penduduk lokal. Inilah tanah baru tempat kehidupan bernyawa bagi mereka yang sedang berjuang mencari ridho tuhan.

5.30
Udara pagi masih sangat mendukung untuk bermalas-malasan, namun kata orang pamali jika tidur setelah subuh. Rezeki akan dipatok ayam. Entah benar atau tidak, namun ada baiknya mendengar petuah tetua ini.
Langit mulai membiru,gagah mengudara. Pagi ini, perjalanan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Semoga tuhan memberkati perjalanan kami ini. perjalanan di bulan Ramadhan memang memberikan warna tersendiri. Karena banyak hal yang harus dijaga, mata, telinga dan semua hal yang menimbulkan dosa. Terlebih, perjalanan ini bukanlah untuk liburan. Tapi untuk melihat sisi kehidupan lain di bumi Indonesia. Di garis kahatulistiwa. 

Perjalanan ini juga membawa misi tersendiri bagi saya. Buku perdana yang tak kunjung jadi terbit memaksa saya harus banyak melakukan perjalanan. Ya, inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dengan travelling. Setelah antologi ke-empat tahun lalu, tahun 2013 tidak terlalu produktif menulis. Maka ini adalah saat-saat yang dinantikan, lari dari kehidupan kampus dan belajar langsung dari alam. Di tempat yang tidak akan pernah ada dalam diktat dan slide pekuliahan yang menjemukan.


                                                   Terminal Batu Ampar, Balikpapan
9.30
Kami sampai di Terminal Batu Ampar, Balikpapan. Hanya 30 menit waktu yang ditempuh dari Manggar menuju Batu Ampar. Kami berpamitan dengan Mba Elis dan keluarga, juga pada si kecil Nola yang imut.^^ Cantik sekali.

Terminal terlihat sepi, bahkan jauh lebih sepi dari Terminal Pasar Sungai Penuh di Kerinci. Jangan harap akan sama dengan terminal Laladon dimana manusia akan diperebutkan layaknya emas. Disini berjalan, dan cari sendiri kemana tujuan kita. Yang saya suka adalah keramahan orang-orang yang ditanya, menjawab dengan senyum. Dan jawabannya pun tidak menyesatkan seperti yang banyak saya temui ketika naik bus di Jakarta.
Bus berjejer rapi, lanskap terminal nya juga lumayan tertata rapi dan bersih, tanpa sampah plastik dan asap rokok . lumayanlah, untuk kota sekelas Balikpapan yang cukup maju ini. 


10.03
Perjalanan menuju Samarinda cukup berwarna. Jalanan beraspal dengan kanan kirinya berupa pohon yang menjulang. Khas daerah kalimantan. Atau mungkin lebih tepatnya sama sperti jalan menuju Kerinci, mata tidak akan pernah lelah memandang, namun bedanya jalanan disini jauh lebih mulus ketimbang jalan  raya yang menghubungkan Kerinci-Jambi yang bertahun-tahun belum juga selesai diperbaiki. Disini juga ternyata tak banyak seniman jalanan yang menaiki bus (Pengamen: red). Nampaknya mereka sudah tahu aturan bahwa harus menaiki bus di spot-sopot tertentu saja, tidak bergiliran. Dan pak supir pun sengaja tidak menyalakan lagu apapun dari bus nya, mungkin agar penumpangnya bisa khusyu dalam perjalanan. Mungkin. Karena segala kemungkinan inilah yang menjadikan perjalanan ini berasa berarti. ^^

Kulihat dikursi sebelah, Randi sudah tertidur pulas. Menikmati perjalanan mungkin. Sedangkan saya sendiri masih belum bisa memejamkan mata. Seperti biasa, disebuah perjalanan yang jarang sekali dilakukan ini, saya teringat akan salah satu petuah dosen tercinta saya yang membuat gairah gemar travelling selalu membludak. Kata beliau, ketika sedang menaiki bus, sedang didalam kereta atau dimanapun itu ketika melakukan perjalanan, maka manfaatkalah waktu dengan melihat keadaan disekitar kita. Bukalah jendela dan rasakan makna kehidupan. Ilmu jangan kan dicari, ia pun terkadang bisa datang sendiri. Banyak memandang, akan banyak arti kehidupan yang bisa diambil darinya.

Benar sekali kata dosen saya ini, secara tidak sengaja, walaupun tidak terlalu jago, saya selalu teringat pelajaran KBT ketika jalanan raya agak sedikit miring. Menghitung Ramp. Juga mengingat-ingat jenis pohon layaknya mata kuliah TDL. Mencari spesifikasi tajuk dan lebar pohon serta nama latin yang hingga saat ini hanya Aracis pintoi yang paling mudah di ingat. Belum lagi jika bertemu dengan bangunan-bangunan bersejarah disepanjang jalan, teringatlah bagaimana implementasi mata kuliah PLSB untuk menciptakan jalur interpretasi yang layak serta rencana pengelolaannya. Belum lagi jika angin-angin nakal ini memaksa saya untuk menghirupnya, merasakan feel of the land layanya analisis tapak. 

Ah, hidup itu tentang belajar bukan. Dan saat ini, kita pun sedang belajar. Langsung berguru pada alam.


12.05
Akhirnya kami sampai di Terminal Sungai Kunjang, Samarinda. Kota berjuluk kota tepian ini memang memberi warna yang berbeda. Sungai Mahakam nampak gagah terbentang. Birunya berpadu dengan warna langit. Kilau mentari pun nampak memendar indah di riak gelombang. Indah sekali. 

Sebelumnya kami naik angkot hijau 01, karena bus hanya berhenti hingga di simpang jalan. Bus tidak bisa masuk ke terminal karena jalanan yang rusak parah. Itupun berkat bertanya pada ibu-ibu yang baru pulang dari ladangnya. Lima orang ibu-ibu itu nampaknya tahu jika kami adalah anak sesat dalam perjalanan. Hehe. Sehingga memanggil kami untuk ikut berteduh bersamanya di bawah pohon Samanea Saman. Saya pun heran, dimana letak ladang di tengah kota seperti ini. jangki yang dibawa berisi beberapa piring dan sayuran yang nampaknya menjadi perbekalan mereka. 

Disini, sayapun baru tahu, jika kota sekelas Samarinda yang saya bayangkan sangat gemerlap dengan segala fasilitasnya, namun hampir sama dengan kebanyakan daerah lain yang pernah saya kunjungi. Transportasi adalah masalah utama dimana-mana. 

13.05
Bus Inkara dengan AC alami berangkat menuju Melak, Kutai Barat. Sebelumnya tujuan pertama kami adalah menuju Tanggarong menuju Melak namun karena medan yang terlalu ekstrim akhirnya kami batalkan. Dan tujuan kedua adalah menuju Banjarmasin lalu melanjutkan perjalanan  ke Murung Raya , dan opsi kedua juga tidak terpakai. Namun akhirnya kami memilih opsi ketiga, objek yang dicari pun berganti dengan Mahakam. Karakteristik yang hampir sama membuat kami tak terlalu bingung akan pilihan. Untungnya saya ditemani seorang teman yang pengertian.


                                                          Terminal sungai kunjang
 Saya yang cukup riweuh karena bertugas mengatur perjalanan, untungnya rekan seperjalanan saya ini cukup selow. Mungkin inilah hikmah perjalanan yang banyak dikatakan orang, kita bisa mengenal karakter teman kita setelah melakukan perjalanan bersama, makan bersama dan seatap bersama. Karena perjalanan akan membuat karakter asli mau tidak mau harus keluar.

14.10
Ini adalah perjalanan 12 jam yang sangat menguras tenaga, emosi dan jiwa. Jalanan menuju pedalaman Kalimantan ini sangatlah tidak manusiawi. Sudah tak terhitung berapa kali jumlahnya, melambung-lambung karena hentakan bus yang menghadapi lubang di jalanan yang sangat besar dan banyak. Tidak satu atau dua kali, namun berpuluh-puluh kali. Lebih parah dari perjalanan menuju Kerinci. Jalanan aspal hanya bisa ditemui di beberapa titik saja, selebihnya, jalanan tanah berbatu yang terjal. Pantaslah perjalanan ini terasa lama. Kursinya pun tidak terlalu empuk.  Kayu yang diduduki sangat terasa menusuk tulang. Apalagi untuk ukuran manusia kurus seperti saya ini, badan terasa remuk.  


Bus 1/3 ini juga sangat sempit. Barang bawaan penumpang lain mengambil hak kaki saya untuk sedikit selonjor. Disebelah saya ada seorang ibu-ibu yang juga terlihat telah muntah karena tak tahan akan hentakan ini, sedangkan pak supir nampaknya tak mau terlalu peduli. Namun bagusnya bus sederhana ini adalah dalam disipilin waktu dan kinerjanya. Nampaknya ini yang harus ditiru oleh bus-bus lain ditanah Jawa, jadwal keberangkatan sesuai dengan yang telah ditentukan. Tak peduli penuh atau tidak. Jika tidak penuh maka itu suatu keuntungan yang berarti bisa sedikit lebih lega ^^.

17.35
Berhenti di sebuah Rumah Makan Padang di pinggir jalan. Mencapai kesini, jalanan sudah lumayan bagus. Dan lagi-lagi jalanan ini mengingatkan saya pada tanah kelahiran tercinta Kerinci. Jalanan beraspal mulai bisa ditemui lagi, bagus di akhir namun rusak parah diawal. Mungkin pertanda akan segera masuk kota. ^^
Saya sangat terkagum-kagum dengan Rumah Makan Padang, nampaknya bangga juga karena ada darah minang mengalir di tubuh saya, ternyata ada juga RM Padang ditengah hutan seperti ini. Entah benar atau tidak, kata orang selera minang adalah selera makanan orang Indonesia sehingga ia bisa ditemui dimana saja. Walaupun rasanya sudah jauh berbeda.


Karena berpuasa, maka kami hanya menyempatkan waktu untuk berkeliling sebentar melihat pemandangan. Disekitar nya hutan lebat, namun dibelakang rumah makan ini terlihat hamparan sawah yang sangat luas. Padi yang menguning bersatu padu dengan dedaunan hijau yang asri. Asoy !


                                                       Baru sadar kalau baju kebalik hehe
20.00
Tak  ada lampu di bus ini. Maka suasana temaram sangatlah romantis. Namuan sayangnya tak ada pujaan hati disini. Hehe ^^. Penumpang juga banyak yang telah turun, hanya tinggal beberapa orang yang masih tersisa ke perjalanan akhir. Namun setelah ditanya ke pak supir, ternyata perjalanan masih panjang. Saya pun tertidur lelap, seharian ini belum memejamkan mata sedikitpun. Bersama mimpi, bersama suasana malam dalam bus yang mendayu-dayu. Ah perjalanan ini belum berakhir. Kelam. Pekat.

00.05
“Bos, sudah sampai di Monita”. Abang supir membangunkan kami. Sebelumnya memang sudah diberitahu bahwa akan berhenti disini. Sebelumnya kami berencana ingin menginap lesehan ala Bacpacker di pelabuhan melak. Namun sesuai pesan dari Mba Elis, tidur di hotel saja mengingat cuaca yang tak menentu, apalagi ini bukan Jawa yang dengan mudah mencari A*famart atau mesjid untuk berteduh, tranportasi pun sangat jarang. Maka disinilah kami malam ini. Monita Hotel. 


Memanjakan diri sesekali, kapan lagi dalam perjalanan backpacker seumur hidup saya bisa menginap di hotel kece kan. ^^ Kami pun istirahat, sebelumnya mandi air panas yang sangat segar sekali.


#Bersambung