Elviandri

Salam Dari Borneo (Part 1) : Selamat Datang di Balikpapan


4 Agustus 2013

6.00
Bogor diselimuti kabut. Tak kurang dari seminggu Idul Fitri akan datang memanggil. Takbir akan berkumandang dimana-mana  namun tampaknya ini kali ke-dua tidak berlebaran dirumah. Sudahlah. Merantau lebih indah.
                                                                        Depan rumah mba Elis

Dan hari ini, memulai perjalanan dengan telat bangun. Hujan yang mengguyur Bogor nampaknya membuat kami sangat terlelap dalam buaiannya.  Hari ini di kosan Cuma ada saya, Randi dan Nafar. Sementara yang lain sudah pulang kampung lebih dahulu. 

Tanpa berlama-lama kami segera packing dadakan dan bersiap menuju Bandara. Angkot melaju kencang, bersama deru angin yang cukup romantis pagi ini. Bersama rinai hujan Bogor yang masih terlihat sendu.

9.02
Akhirnya, sampai Soetta dengan selamat sejahtera. Kemungkinan terburuk yang sudah kami siapkan jika telat ternyata tak terpakai. Alhamdulillah. Jalanan Bogor berpihak pada kami hari ini, tak ada macet, tak ada angkot yang ngetem.

Sembari menunggu check in, memanfaatkan waktu dengan searching-searching. Oh ya, perkenalkan rekan seperjalanan saya kali ini adalah Randi. Namanya cukup singkat. Sesederhana orangnya. 

12.00
Tepat pukul tengah hari, mesin terbang ini berangkat. Ini adalah perjalanan pertama ke Kalimantan. Dan tujuan utama adalah Balikpapan. Ke sebuah surga tersembunyi di tanah Borneo.
Welcome to Borneo.

15.00
Menyesuaikan waktu dengan jam Balikpapan. Dan Bandara Balikpapan ini cukup indah menurut saya, apalagi saat ini sedang ada pembangunan berupa penambahan terminal. Wah wajar saja, kaya. Berharap dalam hati, semoga Bandara Depati Parbo Kerinci bisa menyusul secepatnya, agar jika pulang tidak harus selalu singgah ke Jambi. Semoga.

Kami menyusuri jalanan aspal berkelok yang tak kami kenal ini. Berjalan ke atas mencari masjid, suasana baru tapi panasnya ini yang membuat saya tak tahan berlama-lama. Akhirnya dengan gaya backpacker, menghentikan angkot 07 warna hijau putih menuju Manggar. Menuju kediaman Mba Elis kakanya Randi. Tempat kami bermalam di Balikpapan.


16.30
Sampai di rumahnya Mba Elis. Suasananya begitu tenang. Di depannya ada padang ilalang yang telah siap menari-nari indah menyambut kedatangan kami. Tepat di belakang rumah Mba Elis adalah pantai yang menghadap langsung ke Selat Makassar. Wah mungkin jika hanyut bisa sampai di pantai Punaga mungkin ya, tempatnya Irsak, Ihsan dkk. Punaga, sebuah pantai di Takalar yang dijadikan tempat syuting Tenggelamnya Kapal Van Derwijk  di awal film. Cerita tentang Makassar menyusul yak. ^^


17.30
Menghabiskan waktu sore dengan berjalan menyusuri perumahan sekitar. Mencari tempat Taraweh malam ini. dan ketemu ibu-ibu di warung ternyata orang Solo. Ngobrol lah kami, panjang lebar, hingga akhirnya waktu jualah yang memisahkan. Melanjutkan langkah mencari perbekalan untuk buka puasa. Dan satu kelebihan berada disini adalah waktu buka puasa yang lebih cepat dari Bogor. Nikmat kan .

21.00
Sepulangnya dari Taraweh kami duduk di beranda rumah.Merasakan semerbak angin pantai yang mengaung-ngaung. Menderu-deru berkejaran dengan dedaunan yang banyak terjatuh kemuka tanah. Ditemani gemerlap bintang yang mengangkasa. Disini, kami bercerita tentang cita-cita berdo’a penuh harap agar perantau dari Sulawesi dan Sumatera ini tidak sia-sia datang kesini.

23.00
Mba Elis pulang. Si kecil Nola telah tertidur pulas. Ditemani secangkir kopi, masih melanjutkan banyak cerita disini. Tentang perjalanan Mba Elis hingga sampai di Kalimantan, tentang karir dan juga tentang banyak hal.  Dan tiba-tiba imaji ini pun melayang lagi, teringatlah tentang dia, tentang Selat Sunda dan tentang jarak yang memisahkan. Ah, cinta. Tunggu aku pulang.
#Bersambung.