Elviandri

Mengapa Harus Keliling Dunia ? #Part 1

Mengapa harus keliling dunia?
Sebuah pertanyaan besar yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri. Ketika hendak memasuki alam mimpi tidur saya. Ketika hendak menulis cerita perjalanan. Pada teman rekan seperjalanan. Juga pada mimpi-mimpi saya yang berserakan di dinding kamar.

Bagi sebagian orang, keliling dunia adalah suatu hal yang mungkin saja mustahil dilakukan. Ya, mustahil, karena saat ini bukan lagi zamannya Marcopolo atau Ibnu Batuta yang bisa  melakukan pelayaran sekehendak hati. Keliling dunia atau melakukan sebuah perjalanan adalah suatu hal yang mubazir, buang-buang uang untuk sekedar melihat keindahan lalu pulang dan selesai.
 
Keliling dunia adalah sebuah pekerjaan tidak nasionalis yang begitu mengagumi tempat atau negara lain sementara negeri sendiri saja belum terjejaki.  Sering saya dengar selintingan dari teman-teman saya bahwa ngapain repot-repot keliling dunia? tidak bangga jadi orang Indonesia? lihatlah dulu Indonesia yang kaya raya dari Sabang hingga Merauke. 
Yakin kaya raya?
Jika ia mengapa banyak TKI harus bekerja menyambung hidup menjadi pekerja di negeri orang?
Jika ia mengapa si kaya malah tidak dapat mensejahterakan rakyatnya?
 
Waw berbagai alasan yang mungkin teman-teman bisa menambahkannya.

Percaya atau tidak, dahulu saya adalah orang yang sangat membenci kaum hedonis terutama yang sering melakukan jalan-jalan, travelling atau apalah namanya itu. Bagaimana tidak benci, bagi kami orang-orang yang tidak hidup dalam gelimang harta jangankan untuk melakukan travelling, untuk makan sehari-hari saja harus bekerja mati-matian.
Tidak percaya? silakan buang kartu atm dan semua harta yang anda miliki sejenak lalu cobalah untuk bekerja mencari uang. Untuk bisa makan enak sehari saja. Dengan itu, kita bisa merasakan bahwa untuk hidup itu tidaklah mudah. Tak cukup hanya duduk berdoa di dalam mesjid. Tidak.

Akan tetapi, hari demi hari. Saya sadar bahwasanya banyak orang dimuka bumi ini melakukan sebuah perjalanan malahan untuk bisa hidup. wah kok bisa? ya pasti bisa.  Travelling adalah salah satu pekerjaan yang sangat asyik untuk dilakukan di muka bumi ini. Lebih tepatnya menjadi travel writer. Dengan melakukan perjalanan kamu  bia menulis pengalaman mengunjungi suatu tempat tersebut, dipublish dalam sebuah majalah, atau koran lalu dapat uang toh? Tapi yang lebih dari itu, perjalanan mu itu bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Gampang sih tapi tidak semudah itu juga.
Akan banyak tantangan yang didapatkan salah satunya ya dicibir banyak orang. Jadi bahan gunjingan atau bahkan juga hinaan.
Ah, tapi itu hanya sekedar gunjingan kan? ya sudah lupakan saja toh, pasti nanti dia juga bakal pusing sendiri jika tidak ditanggapi :D

Orang yang sering keluar negeri adalah yang tidak betah atau tidak mencintai Indonesia?
Atau tidak nasionalis?
Hmm bisa jadi karena tidak dianggap di negeri sendiri?
Saya hanya seyum-senyum saja ketika mendengar banyak ucapan seperti itu. Toh bagi saya, dengan mengunjungi tempat lain, malah lebih membuat saya semakin mencintai Indonesia. Semakin memahami perbedaan mengapa yang katanya si kaya ini nggak kaya-kaya.   Mau tau ? cobalah teman-teman merasakan sendiri.

Mengapa harus keliling dunia?
Dalam hal ini, mungkin saya tidak sependapat dengan Gita Gutawa dengan lagunya "Tak perlu keliling dunia"
Dalam berbagai konteks apapun. Walaupun salah satu fansnya Gita #Ciee haha
Akan tetapi lebih dari sekedar itu, bahwasanya melakukan sebuah perjalanan adalah perintah Allah swt. Dan mungkin saja salah satu adalah keliling dunia.

"Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas di bumi itu " -Nuh: 19-20-

Bagi teman-teman yang pernah singgah ke kosan saya, pasti akan menemukan ayat Al-qur'an tersebut bertebaran di dinding kamar. Ayat itulah yang menjadi dasar disetiap perjalanan, disetiap mimpi yang saya punya. Yang menjadi dasar saya mengapa saya harus bermimpi untuk mengunjungi banyak tepat di dunia ini, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Bahwasanya banyak hal di dunia ini yang tidak akan kita dapatkan di bangku perkuliahan, di sekolah formal. Toh bukankah di sekolah kehidupan lah pengalaman hidup sebenarnya yang akan membentuk kita menjadi manusia seutuhnya?
Hmm Karena itulah saya tidak pernah merasa rugi meninggalkan beberapa hari waktu selama perkuliahan untuk melakukan ini. Toh setiap hal ada konsekuensinya bukan?

Bagi seorang muslim. Walaupun saya tidak ahli kitab, namun yang saya tahu banyak sekali perintah dalam Al-qur'an untuk melakukan perjalanan di muka bumi ini, mungkin teman-teman sudah cukup sering membaca ayat-ayat dibawah ini

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" QS. 67:15

"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku lalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku lalim kepada diri sendiri." Qs. 30:9

"Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Qs. 29:20

"Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa." Qs. 27:69

"berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." Qs. 16:36 diulang dalam Qs. 3:137, Qs. 6:11

 Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." Qs. 40:82


Ayat-ayat diatas secara nyata dijelaskan bukan? Banyak mengadakan perjalanan tentunya akan membangkitkan gairah hidup yang luar biasa . Banyak ibroh yang bisa kita petik di dalamnya. Akan ada banyak hal yang bisa kita contoh disetiap perjalanan lalu kita ceritakan nanti ke anak cucu kita.

Bagi seseorang yang kuliah di jurusan Arsitektur Lanskap seperti saya ini, banyak melakukan travelling atau perjalanan adalah salah satu sunnah hukumnya. Bagaimana tidak, lanskap itu adalah alam. Dan bagaimanapun tentunya harus tahu karakteristik nya secara nyata bukan ?

Saya pernah menertawakan diri sendiri, karena ingin bercita-cita seperti Ibnu Batuta atau Marcopolo, ingin menyamai perjalanan mereka. Lah tapi bagaimana bisa? bukankalah mereka sudah mati? haha
Ia mati secara fisik, tapi cerita perjalanan mereka tetap hidup hingga kini. Dan itulah salah satu mimpi terbesar saya. Jikalau tak dapat bermanfaat banyak bagi orang dimuka bumi ini, tapi semoga setiap tulisan perjalanan mengelilingi muka bumi tetap tertanam di hati.


                                                               Panthenon, Roma 
                                                                    Batu Cave, Malaysia
                                                                           Tokyo

                                                                          Batam

Di maghrib yang sendu
#Bersambung