Elviandri

Menemukan Tuhan Dalam Perjalanan : Kita dan Cita


Kita dan Cita

Ketika SD saya bercita-cita menjadi seorang guru geografi. Sebuah profesi yang mungkin sangat wajar bagi kami yang hidup dan tumbuh berkembang di lembah bukit barisan. Sebuah profesi yang sangat diidamkan oleh banyak orangtua untuk anak-anaknya. Banyak anggapan yang berkata bahwa jika telah menjadi seorang guru atau setidaknya PNS lain, maka sudah pasti hidupnya akan bahagia. Dalam artian sudah berkecukupan secara materi dan ada pegangan hidup. Hmm tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya saya berpikir demikian. Yang pasti saat itu saya hanya ingin menjadi guru.

Lantas mengapa Guru Geografi? saya pun tidak dapat mendefinisikan diri sebagai orang yang tekun atau mendalami fasih suatu ilmu seperti matematika, kimia, fisika atau lainnya. Yang saya tahu, saya akan sangat mempelajari suatu hal yang saya suka, dan salah satunya adalah geografi. Saya tidak terlalu memahami teori-teori berbelit penuh angka yang membuat emosi sering meledak, akan tetapi saya senang dengan pelajaran-pelajaran yang sederhana. Sederhana namun bermakna. Oleh karna itulah saya menyukai pelajaran geografi, karna geografi mempelajari alam sekitar kita dengan segala "kesederhanaannya"

                                     Jalanan setiap pagi dan sore yang saya tempuh menuju rumah

Lantas ketika SMA, alhamdulillah nya saya diterima di salah satu sekolah yang cukup favorit di Kota. Yang berjarak 5 KM dari rumah. Saya menikmati setiap perjalanan pagi hari berangkat ke sekolah ini dengan suka cita. Dengan rekan seperjalanan yang tercinta. Ruang terbuka yang sangat lapang. Membebaskan pikiran. Jalanan aspal yang tidak terlalu mulus dengan beberapa lobang kecil menghiasinya. Dikedua sisinya adalah bukit-bukit yang saling menunggu kepulangan. Udara segar dipagi hari yang kini tak bisa saya temukan di kota ini yang dahulu sangat asri katanya. Tak ada bising angkot, atau jalanan sempit yang menghalang. Langit yang biru membiru, sawah yang menghijau. Ah, sempurna sekali kehidupan ini. Sesempurna jalan panjang ini.

                                         

Hidup itu dinamis. Pun juga dengan saya. Ketika telah sampai SMA ini, saya sudah mengalami puluhan kali pergantian cita-cita. Tadi pagi, saya membuka buku kenangan lama ketika SMA saya. Dan karena buku inilah terbit tulisan ini. Hmm, mungkin inilah sebenarnya alasan mengapa orang banyak menulis diari, ya diari. Sebuah catatan yang bagi sebagian orang identik dengan perempuan. Tapi hal itu tidak berlaku pada saya dan mungkin juga pada rekan sepermainan saya. Toh apakah dia berjenis kelamin?Teman-teman bisa menjawab sendiri.Kesalahan persepsi nomor 2 di dunia setelah anggapan bahwa warna merah muda itu adalah milik perempuan.

Salah satu keuntungan mencatat kegiatan harian dalam buku ini adalah bisa mengenang memoar kenangan lama, menjadikan refleksi hidup dan bahan evaluasi diri terhadap capaian-capaian selama perjalanan hidup. Atau semacam curhat pribadi yang tidak bisa kita lakukan pada banyak orang. Dan buku adalah teman yang paling romantis untuk berbagi cerita. Dia memang hanya bisa mendengar, tapi tak bisa berkomentar. Dan karena itulah kita bisa sejujur-jujurnya dalam mengungkapkan apa yang hendak disampaikan.

Selain pernah bercita-cita menjadi seorang Psikolog, juga pernah terlintas untuk menjadi seorang Astronot, seorang arsitek, penyair bahkan Menteri Pertanian hehe. Mungkin itulah yang membawa saya hari ini bisa sampai di kampus pertanian ini. Dan Taufiq Ismail, adalah guru dalam dunia maya cita-cita saya tersebut. Sampai saat tulisan ini dipublish, resolusi mimpi nomor 29 yang pernah saya tuliskan ketika tingkat pertama berada di IPB belum juga terwujud yaitu bertemu dengan bapak Taufik Ismail. Ya mungkin suatu saat nanti. Nanti.


                                                          Yoni Elviandri in Action:P

Waktu semakin berlalu, hingga dipertengahan perjalanan ini dipertemukanlah saya dengan Ibnu Batuta, Marcopolo,Alexander Agung dll dalam buku-buku yang entah saya baca dari mana. Sosok-sosok pejalan ini telah menghantui sekaligus menjelma dalam diri. mengisi hari-hari saya semakin berwarna. Sehingga membuat saya semakin mendekati titik ekstrim yang banyak dikatakan orang pada abad 21 ini adalah sebuah capaian yang mustahil. Menjadi seorang Penulis perjalanan. Yang mungkin tidak harus mendapat gelar sarjana pertanian karena semua orang mampu melakukannya toh? Namun ada satu yang lebih dari itu kawan. Itulah proses yang mendewasakan. Saya entah akan menjadi apa dihari ini ini jika tidak dipertemukan dengan rekan seperjalanan sampai sejauh ini.

Sebuah Perjalanan
Hingga baru tadi pagi ketika selesai ujian, saya menyempatkan diri berkunjung ke fakultas tetangga yang lumayan jauh dengan bus kampus. Lalu menyelinap sebagai orang asing. Melakukan sedikit perjalanan.
Sebuah perjalanan singkat.

Banyak orang yang melakukan perjalanan. Akan tetapi sedikit sekali yang memaknai perjalanan itu sebagai sebuah tujuan untuk mendekatkan diri pada tuhan. Mungkin termasuk juga saya. 
 Perjalanan yang saya maksudkan, disini tidak hanya sebatas berjarak waktu yang sangat lama. Akan tetapi semua jenis tipe perjalanan, seperti naik gunung, pulang kampung atau bahkan seperti yang saya lakukan tadi pagi. dan diperjalanan yang singkat tadi, saya menemukan banyak ilham diantara nya bahwa setiap perjalanan yang akan dilakukan harus lah mempunyai tujuan tertentu. 

Mungkin saat ini saya sudah tidak layak mengatakan diri sebagai aktivis kampus,karena sudah lama ditinggalkan dan memang ingin saya tinggalkan. Bukan juga penggiat HAM. Akan tetapi sebagai mahasiswa yang insyaAllah sebentara lagi akan lulus. (Amin ya rabb). Melakukan sebuah perjalanan bukanlah hanya semata untuk menghibur diri, tetapi jelas tujuannya. Mungkin salah satunya adalah menemukan tuhan? Tuhan dalam perjalanan. Yang tak akan kita dapatkan jika hanya duduk manis di kamar kosan.

Tentang cita-cita. Maka marilah menulis sebagai kebermanfaatan. Kelak jikapun kita mati dalam rangka belum bertemu tuhan, ada sesuatu yang bisa kita sampaikan dan tinggalkan untuk anak cucu kita. Seperti yang dikatakan Heru susetyo Perjalanan pada hakikatnya harus memiliki nilai. Entah nilai yang bersifat transenden ataupun idealis, sehingga ia tak sebatas menikmati sebuah pelesiran. Perjalanan yang tak memiliki nilai sama artinya dengan menafikan keberadaan manusia sebagai makhluk yang membawa sifat-sifat keilahian.

Mari hidup. Mari berjalan di bumi tuhan.

Salam
-Menjelang Zuhur di Pondok Nova-