Elviandri

Backpacking to Sawarna (Part 2) : Di Batas Cakrawala



Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga.
 (HR. Muslim).

16.00
Elf melaju dengan cepatnya. Jalanan menuju Bayah cukup berkelok dan tajam. Mungkin itulah mengapa tidak ada angkot disini, karena jalur yang tidak biasa. Hampir sama dengan jalur menuju Cisurupan-Pameungpuk di Garut. Akan tetapi menurut saya perjalanan ke Bayah ini jauh lebih ekstrim. 
Satu persatu penumpang turun di jalan. Dan menyisakan 4 orang bapak-bapak beserta kami di dalam elf. Kiri dan kanan jalan adalah tebing yang cukup terjal. Pohon-pohon berbagai jenis menyatu dengan beberapa tanaman di antara bukit kecil yang mirip dengan bukit teletubies. Ternyata ada keuntungan juga perjalanan memutar ini. Kami mendapat cerita dari seorang bapak yang asli Bayah bahwasanya pantai Bayah sudah mulai tercemar. Bisa terlihat dari warna pinggir pantai yang tak lagi biru. Berbeda jauh dengan pantai Pelabuhan Ratu yang masih cukup asri. 

Pembangunan proyek se*** terbesar di Asia Tenggara akan difokuskan disini. Cukup strategis memang, karena jalur transportasi laut memudahkan untuk ekspor impor. Namun yang disayangkan adalah proyek tersebut bukan seutuhnya milik Indonesia. Saham sebagian besar malah dipegang oleh pihak asing. Lagi-lagi ya harus mengelus dada, begitulah faktanya. Masyarakat lokal tidak mendapatkan keuntungan yang banyak dari proyek ini, malahan karena adanya pembangunan proyek jalur transportasi menuju Bayah harus memutar.

#Pelajaran8: Usahakan untuk banyak mengobrol dengan banyak orang ketika dalam perjalanan, karena akan memperkaya pengetahuan. Jangan hanya Tidur.

17.10
Deburan ombak serasa dekat memanggil kami. Hingga akhirnya sampailah di Sawarna. Di Jembatan Gantung penuh cinta yang sering dibicarakan oleh para Blogger. Jembatan gantung ini satu-satunya cara menuju dusun Cikaung Sawarna tempat banyak objek wisata.Sebelumnya kami membeli persiapan logistik di Alfa***t yang ada di sebelah jembatan. Nah jadi, bagi kalian yang tidak membawa persiapan yang cukup tidak usah khawatir karena sudah cukup lengkap fasilitas disini.

                                                                         Aura Homestay
Berjalan menyusuri homestay penduduk desa. Rata-rata homestay disini harganya sama. Dan lagi-lagi yang penting seberapa lihai kamu dalam menawar. Sebelumnya saya sudah menghubungi banyak homestay, membandingkan harga dan fasilitas. Hingga terpilihlah homestay Aura sebagai tempat menginap kami. Aa andri menjemput kami di jembatan gantung . Sangat direkomendasikan disini, karena selain tempatnya yang nyaman, di depan homestay ada saung yang menghadap langsung ke persawahan juga yang paling dekat dengan pantai Ciantir. Hanya perlu jalan atau ngesot selama 5 menit maka sudah sampai di pantai berpasir putih ini.

                                                                           Pantai Ciantir
Sebuah ruangan dua kamar, cukuplah buat kami berlima. Hanya dengan 60.000 permalam tanpa makan. Seharusnya bisa lebih murah lagi jika lebih banyak. 

#Pelajaran9: Kemampuan negosiasi sangat diperlukan. Karena homestay disini sangat banyak, jadi jangan takut kehabisan. Maka betindak sok jual mahal masih sangat diperlukan.

17.35
Sebenarnya, rencana awal kami adalah ingin mendirikan tenda di samping pantai. Namun karena banyak pertimbangan, akhirnya gagallah untuk tidur  beralaskan pasir beratapkan langit. Homestay cukup ideal bagi yang telah melakukan perjalanan jauh.

Setelah shalat ashar,kami bergegas menuju pantai Ciantir. Deburan ombak sudah terdengar dari homestay. Dan ternyata wajar saja, gelombangnya cukup besar. Sangat pas lah jika untuk surfing. Pantai ini serasa milik kami berlima saja. sangat-sangat sepi. Hanya ada 5-6 orang lain yang sedang bermain di pantai dan berburu matahari.
                                               Tiga zainudin sedang menunggu hayati haha 

Sangat sesuai dengan jenis ekowisata perairan yang saya pelajari di semester ini. Tenang. Damai. Private sekali.

Warna emas kemerahan memantul indah diantara riak gelombang yang cukup  lihai menari-nari. Walau tak terlalu sempurna, tapi sungguh, ia sangat memposana. Terlebih bagi orang yang berasal dari kawasan pegunungan seperti saya ini, melihat matahari dari sudut yang berbeda itu sesuatu sekali.

18.01
Duduk sejenak. Di antara perahu nelayan yang bersiap melayar malam nanti. Uniknya, benderanya adalah bendera partai-partai tertentu hehe. Merah, biru, kuning, ah cukup meriah.


Kuambil posisi yang pas untuk merenungkan diri. Katakanlah muhasabah di kala senja. Dan itu luar biasa sekali nikmatnya. Menyaksikan betapa indahnya karunia tuhan. Membiarkan angin menghembuskan tubuh kurus kering ini. Merasakan halusnya pasir Sawarna.

Masing-masing kami telah terbius dalam diam. Liar seperti gelombang senja ini. Terjebak dalam imaji dan segala pengharapan. Ah, semoga saja sebelum lulus nanti kita masih bisa melakukan perjalanan seperti ini kawan.

#Pelajaran10 : Jangan lupa membawa kamera. Momen indah ada disetiap saat. Ngga narsis hukumnya haram. ^^

18.20
Senja benar-benar telah tenggelam. Berganti gelap dengan cahaya temaram. Remang-remangdi bibir pantai, hanya ada satu atau dua warung yang masih buka dan disini baru pula menyadari bahwa ternyata mati listrik adalah sesuatu yang biasa.

19.15
Perut nampaknya sudah tak bisa di ajak kompromi. Dan akhirnya memutuskan untuk makan dengan cumi dan ikan bakar. Karena Fiki nampaknya sudah ngidam sekali dengan ikan Bakar. Dan dari sini baru pula saya mengetahui bahwa Fiki dan Aul itu doyan sekali makan, hehe #peace

                                                   Ini Dinner paling special di bulan Januari 

Wisata kuliner salah satu hal wajib yang harus dilakukan dalam bacpackeran, untuk mencoba hal-hal baru seperti ini tak perlu dengan biaya mahal. 100 ribu untuk berlima, dan kenyangnya luar biasa. Kalau bahasa alaynya, sampe tumpeh-tumpeh rasanya, ^^  dan Ikan disini, dagingnya lembut sekali tanpa tulang.

Ah indahnya malam ini, dalam suatu fase, kita memang harus memanjakan diri sekali-kali. Setelah bermalam-malam sebelumnya nyeduh mie instan dan telor ceplok, maka ada saatnya hak diri kita harus dipenuhi.

#Pelajaran11: Konsep Backpacker mengajarkan kita untuk hidup sederhana, untuk menjadi manusia yang merancang hidup dengan baik. Untuk memperoleh sesuatu yang nikmat seperti malam ini, maka harus menabung terlebih dahulu toh hari-hari sebelumnya. Maka sangat salah jika ada yang beranggapan bahwa yang hobi travelling itu adalah mereka yang punya uang banyak, tapi yang bisa memanagemen diri dengan baik.

20.14
Malam semakin gelap dan gerimis hujan pun memaksa kita untuk pulang  ke homestay Aura. Perjalanan pulang pun dielingi dengan derai tawa yang tak berkesudahan . Ah, malam, indah sekali rupamu menjelma.

21.00
Saatnya ngobrol ngalor ngidul dan membicarakan kegiatan esok hari.Juga menyiapkan berbagai kemungkinan bahwa besok elf dari sawarna hanya berangkat jam 6 pagi. Sehingga harus mencari alternatif jalan pulang. Kukenalkanlah aa cinang dan aa djarot. Namun kedua aa ini tidak bisa dihubungi , mungkin mereka lelah. #gayanyaBagus

22.40
Selesai nonton TV, semua tertidur, menyiapkan esok pagi untuk kembali berburu matahari lagi di pantai Lagoon Pari. Yang letaknya cukup jauh dari pantai Ciantir. Suara kodok, jangkrik, angin, dan debur ombak menyatu menciptakan suatu simfoni suara yang sangat enak didengar. Khas perdesaan. Damai. Menentramkan.
Malam ini, kami bahagia, akhirnya matahari yang dicari bisa ditemui walaupun bersembunyi malu sore tadi.

“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(Bukhari)