Elviandri

Backpacking to Sawarna (Part 1) : Mengejar Matahari


23 Januari 2014


Kehidupan kita merupakan suatu perjalanan yang terus berlanjut dan kita harus belajar dan terus berkembang di setiap belokan yang kita tempuh, kadang-kadang tersandung, tetapi terus bergerak maju menuju yang terbaik di dalam diri kita.
Gerrald L. Coffee
 


4.00
Pagi masih terlihat sendu. Sendu sekali. Hujan Bogor nampaknya awet sekali bulan ini, seolah ingin mengukuhkan kembali identitas dirinya sebagai kota hujan. Dan seperti biasa, jika akan melakukan sebuah perjalanan maka hampir bisa dipastikan bahwa saya tidak akan telat bangun ketika subuh. Apalagi saat ini adalah saat-saat yang dinantikan setelah solo travelling Tour Jawa-Sulawesi pada januari 2012 lalu.Walau faktanya aura pagi dan kenyamanan  yang diberikan kamar ini tetap memaksa saya untuk tetap terlelap dalam mimpi indah. Dalam nyanyian hujan yang mengharu biru.Akan tetapi Seolah-olah ada bom atom yang akan segera meledak dan harus segera dilepaskan. Tak bisa tertahan.  #Pelajaran 1. Sebuah perjalanan akan memaksamu untuk lebih disiplin minimal terhadap diri sendiri.

5.10
Setelah beres –beres barang yang hendak dibawa, segeralah membangunkan 4 personel lainnya. Yang semuanya minta dibangunkan pagi ini karena takut telat. Oh ya perkenalkan lah rekan seperjalanan saya kali ini. Adalah 
                                                                  Aulia Citra Utami

                                                                  Bagus Dwi Utama

                                                                 Fikriyatul Falashifah
                                                                  Abdul Hafizh Al-hakim
Dan tak ketinggalan ada, aa Yoni ^^


                                                                         Yoni Elviandri

Jangan tanya bagaimana ceritanya sehingga kami bisa dipertemukan menjadi sebuah team. Karena sejarah nya cukup panjang ^^ . Telah mengalami banyak sekali bongkar pasang anggota selama jangka waktu 2 minggu rencana. Dan hingga terkahir jadilah kiranya kami berlima ini yang tetap istiqomah untuk melakukan perjalanan . hehe Yang pasti, kesamaannya adalah kami sama-sama mahasiswa tingkat akhir yang sedang butuh suatu hiburan untuk refreshing dan mengasingkan diri dari gemerlap kampus dan tugas dunia. Sebut saja, Rihlah Tafakur alam. ^^  

6.00
Bersiap menuju BNI Darmaga, meeting point untuk keberangkatan. Dan langitpun seolah masih tak terlalu ikhlas untuk melepaskan kepergian kami, rintik-rintiknya menebarkan bau basah khas yang tertanam di muka tanah. Baru saja melangkahkan kaki di pintu kosan, datanglah pesan singkat dari Hafizh yang mengabarkan kalau dia terlambat bangun karena kesiangan, dan sekarang masih berada di Depok. Dan taraaa alhasil perjalanan ditunda satu jam menjadi jam 7.00. 

Bagus, Aul, dan Fiki ternyata sudah siap siaga di depan jalan raya, nampaknya mereka sedang merasakan aura romantisme dengan sengaja membiarkan dirinya diguyur hujan ^^. Sembari menunggu Hafizh,  akhirnya kami mengisi perbekalan perut dengan lontong mamang di depan BNI. #Pelajaran2 : Usahakan jangan bergadang jika esok harinya akan melakukan perjalanan, karena istirahat yang cukup adalah kunci ideal agar stamina tetap terjaga, dan juga biar tidak telat bangun ^^

7.34
Perjalanan menuju Baranangsiang dihiasi dengan macet yang cukup panjang. Angkot biru-hijau terlihat meliuk-liuk memenuhi jalanan yang telah basah. Di dalam angkot, saya rasa tak perlu lagi diadakan sesi perkenalan, karena nampaknya mereka sudah kenal satu sama lain, secara gitu aktivis kampus semua beroo. Kece-kece pula, hehe. Segala topik pembicaraan pun masuk, termasuk ketika ngegosipin orang, wah ini nih yang paling keren semuanya. ^^
                                            @Laladon, menunggu 03 yang tak kunjung datang

Oh ya, kali ini saya bertindak sebagai penunjuk arah perjalanan (bahasa kerennya sih) , walaupun sebenarnya saya pun belum pernah sama sekali melakukan perjalanan rute ini. Namun inilah nikmatnya backpacker, banyak berjalan, banyak yang dilihat, banyak dirasakan, banyak falsafah ilmu kehidupan yang dapat kita ambil juga darinya.

8.40
Sampai di Baranangsiang. Dan prediksipun benar bahwa kami akan terlambat. Sangat jauh  dari rundown yang telah dibuat. Oh ya, untuk menuju Sawarna, rute yang harus ditempuh adalah Bogor-Pelabuhan Ratu-Sawarna. Jadi kita bisa memulai dari segala arah. Sebenarnya pilihan kami jatuh kepada Stasiun Bogor Paledang,  dengan menaiki KA Pangrango akan menyusuri kota hingga berhenti di Stasiun Cibadak, lalu dilanjutkan dengan menaiki bus menuju Pelabuhan ratu. Akan tetapi nasib berkata lain, tiket kereta telah habis, jadilah alternatif kedua melalui Baranangsiang-Pelabuhan Ratu.

#Pelajaran3 : Rencanakan perjalanan dari jauh hari. Karena persiapan yang matang adalah ciri sebuah perjalanan yang baik.
Pilihan ketiga,  bisa dengan menggunakan kendaraan pribadi. Akan tetapi kami lupakan opsi ini, karena niatnya adalah untuk mencari pengalaman, bertemu dengan banyak orang dan  merasakan sensasi diberbagai tempat sebagai seorang pejalan. 

9.33
Akhirnya bus ekonomi putra bahari ini berangkat juga, dengan 30.000 dan AC alami. Tujuan awal adalah naik MGI, namun kata si abang-abang kernek MGI telah lama berlalu, jadi harus menunggu lebih lama lagi. Dan ternyata jengg...jengg....jenggg tepat didepan mata MGI berlalu lebih dahulu, dan ketahuan sudah jika si abag bohong. Okelah tak apa. Anggap saja berbagi rezeki. #Pelajaran4: Jangan gampang percaya sama kernek bus. Jual mahal dikit ndak masalah lah broo.

Hujan Bogor kian menjadi, menjadi penggiring perjalanan kami. Berpadu dengan mesin bergerak ini yang nampaknya sudah cukup tua. Kutatap satu persatu rekan seperjalanan, ah nampaknya mereka sudah terlelap dibuai hujan dengan gaya masing-masing. Ada yang meluk carier seolah memeluk seseorang #eheem, ada yang ngangguk-ngangguk, bersenderan ada juga yang manis sekali seolah minta di foto ketika tidur. :P

             Ini yang biki telat, ngetemnya super lama, tapi tak masalah, belajar jadi orang sabar ^^

                                                                        Berpose dulu ya

10.30
Macet diperjalanan antara Bogor-Sukabumi. Panjangnya melebihi macet laladon- baranangsiang tadi. Aku teringat kata bang Heru Susetyo, penulis buku Muslim Traveller bahwa hakikatnya sebuah perjalanan itu harus memiliki nilai. Entah nilai yang bersifat transenden ataupun idealis, sehingga ia tak sebatas menikmati sebuah pelesiran. Pun jua dengan perjalanan kami kali ini, secara rinci saya tidak mengetahui persis yang mendasari tujuan dan motivasi perjalanan teman-teman. Yang pasti, salah satu tujuan saya adalah mengejar matahari. Berburu dengan ombak samudera Hindia, membidiknya dengan lensa kamera. Lalu mendamaikan jiwa bersama kilauan pedaran nya.
Mengejar matahari. Ya, itu !

11.00
Macet ternyata membawa berkah, mungkin inilah salah satu cara tuhan untuk membagikan rezeki ke tiap hambanya. Macet menjadikan peluang pedagang asongan masuk kedalam bus lebih banyak. Berusaha mencari rezeki di sebuah waktu yang bagi orang kebanyakan bahwa macet ini menyebalkan !
Disinilah kita dapat belajar tentang hidup dan menghargai materi yang dipunya untuk tidak di hambur-hamburkan. Bahwasanya mencari sekeping receh 500 perak itu tidaklah mudah. Alangkah indahnya negeri ini jika yang kaya mau sedikit berbagi, dan yang sedang membutuhkan mau sedikit ikhlas menerima dengan lapang. Ah, saya jadi teringat kelakuan para koruptor sialan yang banyak di negeri ini untuk memperkaya diri sendiri. Secara konsep hidup, mereka yang menjadi pedagang asongan jauh ini lebih mulia daripada koruptor-koruptor itu ! 

#Pelajaran5: Banyak cara untuk berbagi, salah satunya adalah dengan melakukan perjalanan seperti ini.^^

11.36
Kami baru sampai di terminal Cibadak Sukabumi. Dan akhirnya tepat diatas kami, matahari berkilau sangat cerah di langit Sukabumi. Hati riang, tentu. Dan semoga matahri ini bertahan hingga sampai di Sawarna nanti.
Salah satu yang saya suka dari Sukabumi adalah warna angkotnya yang berwarna-warni. Kayak lolipop. Imut dan cantik. Beda trayek beda warna, aww sebuah konsep yang bagus karena manusia tipe saya lebih peka dengan warna daripada angka. Warna ungu, putih, merah muda, hijau, dan warna lainnya, rasanya mau dijejerkan dan dikoleksi satu-satu.

#Pelajaran6. Ini bukan hanya tentang warna. Tapi tentang gairah hidup. Yang tidak disemua tempat dapat kita temui.

14.00
Sampailah kami di Terminal Pelabuhan ratu. Sesuai prediksi, kami telah terlambat sangat lama, Elf menuju sawarna yang ada satu-satunya itu telah berangkat. Kini mau tidak mau harus menggunakan jasa angkot carteran atau naik elf menuju Bayah dengan tarif 40,000 per orang.
Oh ya, agar tidak senasib dengan kami. Ada baiknya, sampai di pelabuhan ratu sebelum jam 11. Karena Cuma ada satu elf yang langsung menuju Sawarna, letaknya biasanya di pojok pinggir warna hitam.  Karena terlambat, saya mencoba menelepon aa Cinang, penduduk stempat  namun beliau tidak mengangkat, ya sudah akhirnya kami putuskan untuk carter elf dari Pelabuha ratu-Bayah-Sawarna. Memutar dan pastinya akan jauh lebih lama.

Jika tidak mau memutar, kita tetap bisa menaiki elf jurusan bayah dengan tarif 25.000 lalu berhenti di pertigaan Ciawi, nah darisana bisa naik ojek sekitar 35.000 an. Namun karena kami adalah para backpacker jadi harus mengatur strategi agar semurah mungkin. Yang penting harus jago nawar dan menarik hati. Taktik Sok Kenal Sok Dekat atau bahkan Sok tau memang harus dipergunakan dalam keadaan kepepet seperti ini, karena sejatinya Backpacker juga melatih diri agar terbiasa dengan tekanan seperti kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi.
#Pelajaran7 : Harus menyiapkan banyak rencana serta antisipasi kemungkinan agar perjalanan tetap bisa lancar jaya.

14.25
Terminal Pelabuhan Ratu cukup lengang sore itu. Namun jangan salah, akan sangat ramai jika orang-orang seperti kami datang. Kita akan diperebutkan, bak berada di lautan, maka kami adalah permatanya. nah disinilah harus pintar berkilah, dan belajar “menolak” dengan cara halus agar orang lain tidak tersinggung.
Ah terminal. Sudah lama sekali tidak merasakan aura petualangan seperti ini, mengendap-endap diantara bus dan angkot, berbaur dengan pasar tradisional yang aduhai, serta merasakan bau terminal yang bagi sebagian orang menjijikan. 
                                                            Sebelum menuju Bayah

Dan perjalanan ini semakin indah karena faktanya hari ini, saya tidak melakukan petualangan seorang diri seperti dua tahun lalu. Ada empat orang mahkluk kece yang harus di jaga dan disayangi hehe lebih tepatnya saling menjaga. Sehingga perjalanan singkat ini terasa sangat bermakna.

Hidup bukanlah suatu tujuan. Hidup adalah suatu perjalanan. Kita semua menemui tikungan dan belokan yang tak terduga, puncak gunung serta lembah. Semua yang terjadi pada kita membentuk diri kita sekarang. Dan dalam petualangan setiap hari, kita menemukan kualitas terbaik di dalam kita.
*Bersambung..