Elviandri

Ketika “Kubaca Firman Persaudaraan”

ketika kubaca firman-Nya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu di risaukan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman
aku ingat pertemuan pertama kita

dalam dua detik, dua detik saja

aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat,

kubaca lagi firman-Nya, “Sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan
karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
mungkin dua – duanya, mungkin kau saja
tentulah terlebih sering, imankulah yang compang – camping
kubaca firman persaudaraan
dan aku makin tahu, mengapa di kala lain diancamkan;

‘para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain…
kecuali orang – orang yang bertaqwa”

(Salim A. Fillah, dalam buku “Dalam Dekapan ukhuwah”)

#Desember #MonevDiri

Ah, aku merindukan mereka. Mereka yang dulu mengingatkanku ketika salah, menguatkan ku kala lemah, dan disampingku ketika tak tahu arah.
Ah, sudahlah.
 Pupuk saja rindumu semoga ia bisa tumbuh mekar.
Hingga nanti.
Hingga ada masa nya nanti.
Kita bisa saling bertemu kembali duhai kawan.
(
                                            (Dari ki-ka) Akmal-Ka umay-sudar-alan-riki