Elviandri

Dinding Duniaku

"Ketika aku mulai merasa bahwa menyerah adalah sebuah pilihan, aku selalu tersadar bahwasanya aku telah banyak mengukir janji di dinding kamar, disebuah benda mati yang terasa bernyawa. Karena di dinding kamar inilah kulihat dunia terbentang luas di depan mata"
-Perjalanan menuju Roma, April 2013-

Aku sering tersipu malu. Pada dinding kamar yang selalu marah padaku ketika terlalu lama bersantai di meja belajar. Aku sering menangis tersedu, ketika sering terlontar kata darinya bahwa aku manusia cupu yang cengeng. Tapi aku sangat bersyukur padanya, karena dialah yang selalu menyambut kedatanganku dengan senyum sumringah ketika pulang ke kosan. Dialah yang paling tabah mendengarkan segala celotehan harapan dan impian ku. Dialah yang paling ikhlas membiarkan tubuhnya yang berwarna tertutupi impian bukan miliknya. Ketika dunia semakin tak layak untuk dihuni, ketika kurasa langkah ini sudah cukup sampai disini, dia selalu berkata bahwa "jangan lupakan aku. Selesaikan apa yang telah kau mulai.dan jangan biarkan bebanku percuma untuk menopang harapanmu"

Ah, aku tersadar. Aku banyak menaruh harapan padanya. Terimakasih sobat ku. Terimakasih dinding kamarku

#Dialog