Elviandri

"MENJADI INDONESIA 2013 # HARI KE-1


Gerimis cukup syahdu menari-nari di langit Bogor. Suara takbir sudah menggema sedari tadi pagi di seantero  Dramaga dan sekitarnya.

 Selepas shalat Idul Adha di kampus, bergegas packing barang-barang yang akan dibawa selama mengikuti KEM 2013. Ini bukan yang pertama hari lebaran namun tidak mencicipi rendang, dendeng batokok dan semua aroma masakan kampung halaman, sungguh bukan yang pertama. Namun akan menjadi yang paling pertama ketika hari ini aku tidak berada di kampus malah pergi ke Jakarta dan tidak merasakan aura Idul Adha kampus untuk pertama kalinya.

Berangkat dengan satu buah tas carrier dan tas jinjing yang sebelumnya tak kurencanakan. Planning semula hanya hendak membawa satu tas saja biar tak repot ternyata harus nambah jinjingan karena barang yang ternyata bertumpah ruang. Ah, rencana yang gagal.

Hari-hari sebelumnya tak terpikirkan untuk packing, karena disibukkan dengan mencari biji kopi asli Bogor sebagai salah satu persyaratan yang harus dibawa. Sudah mengelilingi kebun kopi kampus tak ada yang berbuah, keliling pasar tradisional di Bogor juga tak bersua. Alhasil ujung-ujungnya ke Mall dan beres sudah. Walaupun nggak asli-asli amat :D

Seharusnya hari ini saya berangkat bersama Ihsan, salah satu peserta yang berhasil mewakili Unhas yang entah mengapa kami bisa dipertemukan di kompetisi ini. Kalau di sinetronkan mungkin bisa diberi judul “ Teman lama yang bertemu kembali” :D Dia sudah datang dari Makassar tadi malam, namun membatalkan keikutsertaan karena suatu kompetisi lain. Entahlah ini suatu kebetulan, untungnya pesanan kopi Toraja saya berhasil ia bawa, sehingga saya tak perlu membawa kopi lebih banyak lagi. :D 

Berangkat mencari angkot Kampus Dalam dan 02 menuju Stasiun. Dan perjalananpun dimulai..
...
Dalam perjalanan,sudah berkali-kali kuyakinkan diri, bahwa ini adalah keputusan yang paling baik yang aku pilih. Dilema. Tentu. Aku telah memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi karena mengikuti KEM. Durasi selama 2 minggu dan itu aku harus meninggalkan bangku perkuliahan dengan tugas dan segala praktikum yang menggunung. Belum lagi status mahasiswa tingkat akhir yang sudah ditangan menambah segala perhitungan baik buruk dalam hati. Masalah perizinan, tugas yang pasti semuanya akan sulit. Namun yang pasti, bukankah kesempatan tidak datang dua kali? Mungkin saja datang, tapi apakah aku masih siap waktu itu? Hmm sudah dua tahun menunggu, dan kali ini berhasil lolos menjadi 32 besar apakah harus kusiasiakan? Tentu bukan sebuah keputusan yang mudah. 

Hingga seperti yang kukatakan tadi, menjadi Indonesia bukan hanya sekedar kompetisi esai, tapi kompetisi mengalahkan segala ketakutan dan kompetisi untuk menentukan pilihan. Dan yang pasti, jika saat itu kuputuskan untuk tidak mengikuti KEM. Yang pasti tidak akan ada kisah dan tulisan ini :D :D
Sebenarnya, bisa saja aku tak harus ke Jakarta, karena tempat pelatihan juga akan dilaksanakan di Puncak, Bogor. Tapi tak afdhol rasanya jika tak mengikuti dari awal. Hingga sampailah aku di Stasiun Gondangdia. Tempat pemberhentian kereta dari Bogor. Sempat bingung sejenak, pernah ke Gambir dengan jalan kaki, namun ternyata cukup jauh juga, hingga akhirnya memutuskan untuk naik taxi, karena waktu sudah pukul 11.00 WIB. Cari aman saja.