Elviandri

Hak dan Kewajiban dalam "Sepotong surat" di pagi sabtu

Setelah gathering bersama teman-teman Paguyuban Bidikmisi angkatan 47 pagi ini, rasanya ada sesuatu yang kembali muncul. Sudah lama sekali rasanya tak melingkar dalam lingkaran kecil ini untuk berbicara "sesuatu". Tentang hak dan kewajiban. Bertemu dengan mereka yang telah lama tak bersua :P Aden,Faisal, Agus, Rici,Kurdi, Yadi, Suwar, Lia,Sarifah, Laras dan Ahda. Sudah hampir 7 bulan, tak lagi aktif di berbagai organisasi dan kegiatan kampus, hanya laskar Saung Peradaban saja yang saat ini masih aktif dan insyaAllah juga akan berakhir di November nanti. Yang menemani hari-hari dikala senggang.

Ah, tak terkira, sekarang sudah semester 7. Semester 7 kawan. Yang kita bicarakan pun pada penelitian dan sebuah proposal serta segudang waktu agar bisa bertemu dengan dosen pembimbing tercinta. Padahal baru kemarin rasanya melakukan perjalanan naik bus Kerinci-Bogor dengan kakek tercinta. Masuk kamar asrama dengan sedikit menyedihkan, ketika teman selorong yang lain diantar oleh mungkin segerombol keluarga untuk memulai kehidupan baru di tanah perjuangan. Sedangkan aku hanya ditemani oleh seorang kakek  dan keponakan yang baru berumur  10 tahun kala itu, dan kakek yang dalam usia rentanya masih sangat muda dan sangat bersemangat mengantar cucu pertamanya untuk meraih gelar sarjana pertama di keluarga besar ini. Pertama kawan, bukan kedua atau ketiga.

Aih, tak akan ada habisnya jika kita bernostalgia kawan, tentunya hal ini akan menjadikan cambuk lebih besar untuk tetap berkarya agar mereka yang jauh disana tak percuma memikirkan kita.

Berbicara tentang hak dan kewajiban. Setelah gathering singkat pagi ini. Datanglah sebuah surat yang telah sedari lama kutunggu, bukan dari yang terkasih :P tapi dari sebuah instansi yang semoga saja mengasihi kita.

"Kepada sdr  Yoni...
Terimakasih atas partisipasi  anda,......"

Itulah secuil saja mungkin isi surat, akan sangat panjang jika diketik ulang hehe. Saya pun masih agak janggal, dijaman yang serba modern ini ternyata surat menyurat masih sangat berlaku. Ini adalah kali pertama saya mendapat sebuah keputusan melalui selembar surat, biasanya pihak acara akan dengan mudah mengirim saja melalui email, namun mungkin inilah kejutan di pagi sabtu.

Yang intinya pada pagi ini saya harus belajar lagi tentang lapang dada. Dan menerima semua hal ikhlas apa adanya. Baru tadi malam rasanya cukup berbahagia mengabarkan pada ibu dan ayah jika oktober nanti saya akan off dulu dari perkuliahan untuk suatu urusan. Dan pagi ini saya harus memberi kabar lagi pada mereka bahwasanya ada sesuatu yang tertunda. Bukan belum berhasil. Mungkin belum waktunya. empat bulan yang lalu kegagalan ini juga saya terima, dan pagi ini saya pun telah mengalaminya.

Tak perlu kuberitahu tentang kegagalan apakah itu, yang jelas sepotong surat di pagi ini memang mengajarkan kita tentang hak dan kewajiban. Mungkin kita merasa berhak untuk mendapatkan ini itu, namun apakah kita telah melaksanakan kewajiban? terkadang itu yang sering kita lalaikan. Kewajiban utama seperti berbuat baik pada sesama dan juga beribadah pada Allah mungkin sudah sangat terabaikan hingga hak itu pun harus direvisi ulang, apakah kamu sudah melaksanakan kewajiban? minimal mengingatnya dengan khusuk dikala sujud malam atau berzikir di pagi hari? Mungkin facebook dan twitter lebih mendapat banyak perhatian, sedang yang menciptakan segala-galanya sudah terlampau sering kita lupakan.

"Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan"
sebuah pepatah yang mengajarkan kita bahwa dari pada terus menyalahkan kegagalan alangkah lebih baiknya kita memperbaiki ia untuk merebut kesuksesan.
Tiada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki, dan tak ada lautan yang terlalu luas untuk ditaklukkan . Selama masih banyak harapan yang kita miliki, selama itu pula kesempatan sukses masih sangat terbuka lebar.

Bukankah orang yang sudah sering mengalami kegagalan akan sangat siap menerima kesuksesan?
Mari tunaikan kewajiban dan terimalah hak dengan bersyukur tanpa henti.

Selamat pagi sabtu, selamat bermanfaat di muka bumi Allah.

Bogor, 21 september 2013
Dipagi sabtu yang akan kurindu