Elviandri

Winter in Japan

Seminggu ini, saya serasa terpenjara dalam kebebasan. Malam ini  Ingin sedikit membebaskannya, lepas. mengangkasa, semoga saja.

7 Februari 2013 
Jarang, bahkan tak terlampau sering ku impikan. Namun Allah memberiku kesempatan untuk melihat dan mengenal nya lebih dalam, bukan tentang mekar nya sakura yang menjadi bayangan. Bahkan bukan musim dingin ini yang kunantikan, bukan juga karena Fujiyama yang membuat ku riang. Namun kumulai semuanya dari hari ini, mengayuh langkah kecil dari sebuah kota yang dahulunya bahkan tak pernah ku impikan. Tak pernah ada dalam bayangan.

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-rahmaan 13)

8 Februari 2013
09.00
Tak seperti euforia layaknya di Incheon Airport kala itu. Hari ini, semua terasa seperti biasa saja. Semoga saja, bukan pertanda bahwa perjalanan ini akan berakhir dengan sia-sia. Tujuh jam sudah menerjang malam. Hingga sampailah kami di salah satu bandara paling sibuk di dunia, Narita Airport. Tak niat ingin membandingkan, namun semuanya memang berbeda. Dari ketinggian ratusan kaki tak terlihat atap seng yang padat merayap di bawah mata. Namun digantikan oleh beberapa hutan kota yang masih tampak gugur meranggas.

Untuk manusia yang biasanya hidup di antara suhu yang berkisar antara 25-30 derajat celcius, bukanlah suatu mainan yang teramat pantas untuk menguji kekebalan diri di suhu 2 derajat celcius. Dinginnya menusuk tulang, menembus pori paling dalam. Kurasakan hentakan-hentakan kecil di kepala ikut menemani perjalanan ini. Hentakan angin kecil bersiul menari-nari menjadi gelombang. Menjadi suatu ritmik melodi yang saling berpadu satu sama lain. Menerbangkan apa saja yang tak terlalu kuat untuk bertahan.

02.40
Usai melepas penat, bukan berarti bisa berleha-leha dengan tenangnya. Bahkan inilah awal dari perjalanan yang akan baru dimulai. Kita tak kan berlama-lama disini, karena memang Narita bukanlah tempat kediaman yang dituju. Tak kurang dari 2 jam lagi kami akan terbang menuju pulau di utara Jepang. Hokkaido. Disanalah awal kehidupan akan bermulai.

4.00
Para backpaker asal Amerika telah bersiap dengan segala peralatan penaklukan salju yang akan dilakukan. Jangan kau tanya seberapa besar dan tinggi badan kami terhadap mereka, karena itu hanya akan membuat kamu selalu ingin bertanya kepada tuhan karenanya. Kedatangan kami bertepatan dengan festival Yuki Matsuri yang akan dilaksanakan di Sapporo, yang menjadi tujuan wisata turis dari seluruh dunia.
                                                                       ****
19.20
Setelah tiga jam terpontang-panting di udara, dengan helaan nafas panjang kami akhirnya bisa mendarat diatas gundukan salju ini, putih. Lembut sekali. Shin Citose Airport  Hokkaido menyambut kami dengan begitu hangatnya walaupun suhu malam ini berkisar antara -4 sampai -7 derajat Celcius. Dinginnya tak usah kau tanyakan lagi, berlapis-lapis kain yang melilit tubuh namun tetap saja malam ini masih terasa tak normal. Padahal baru 2 malam kemarin rasanya seperti berada di atas tapal putih yang sangat nyaman. Bogor yang ditinggalkan dengan segala cerita yang menantiku untuk pulang.

Perjalanan ini teramat sangat menguras emosi. Bagaimana tidak, badai salju ini hampir saja membuat kami tak akan pernah melihat Hokkaido sepersekian detik pun. Keterlambatan dua jam untuk mendarat menggagalkan rencana untuk melihat seringai senja di langit Jepang untuk pertama kalinya. Keberanian mengambil resiko begitulah sang pilot ini. Miss you pilot, ente sangat hebattt...^-^
Welcome to Hokkaido !

10.20
Tak ingin mati konyol karena kedinginan, kami bergegas menuju Sapporo station. Butiran-butiran putih beterbangan diantara pohon-pohon dengan ranting merana. Melewati sekian banyak stasiun yang berhenti silih berganti. Kagum ? tentu saja, antrian menaiki kereta tak sama dengan di KRL Jakarta-Bogor. Semua serba teratur, disiplin . Pohon-pohon itu berdiri rapi kering merontang, mungkin saja telah membeku karena salju. Hanya sebagian saja yang memiliki daun.Sementara butiran kecil itu terus Meliuk-liuk diantara dingin yang bersenandung lirih merisau, dari balik kaca aku hanya dapat merangkai kata.

12.50
Detik demi detik pun berlalu. Hingga tak terasa kami sampai di stasiun paling akhir tempat kami akan bersandar diri. Gundukan salju terhampar dengan jelas di depan mata, mengering bak granit yang sangat runcing. Tak perlu kulkas untuk menjadikannya sebagai es, disini para penjual minuman bisa dengan enaknya membuat es serut atau apalah namanya dengan menggunakan es. Setelah berjalan kian kemari, hingga akhirnya sampailah kami ke pintu keluar, tak perlu repot penjaga kereta api untuk menunggu di pintu. Cukup dengan memasukan tiket ke dalam mesin maka ia akan terbuka dengan sendirinya. Selayaknya film dua petualangan seorang arsitek dan teman nya gadis Thailand ( lupa judulnya) di Perancis, ingin kucoba tanpa tiket seraya menyelinap dengan orang depan, namun tentu saja itu ide gila yang tak akan pernah kulakukan. *krikk krikk
                                                                          ***
9 februari 2013
 Sang surya agaknya malu-malu untuk datang menghampiri kami pagi ini. Ada, namun tak terlihat rupa. Aku dan teman satu team berangkat menuju Hokkaido University, yang jaraknya hampir sama dengan Bara 2 menuju kampus IPB lewat bank B*I. Menyusuri serpihan salju dijalanan yang telah membuatku terjatuh beberapa kali. Tak ada samanea saman disini, namun pagi ini cukup sayu untuk  menaungi kami melangkah. Sama halnya dengan negeri Doraemon si kartun favorit yang sering kutonton di hari minggu, bangunan yang sangat rapi, tersusun persegi dengan arah jalan yang jelas serta tidak tak ada gang tikus yang bisa dijadikan tempat sembunyi. Bedanya , semua hamparan jalan tertutup salju, bahkan beberapa mobilpun terlihat ikhlas membenamkan diri didalamnya. Agaknya disini peran Arsitek lanskap memang sangat dibutuhkan untuk suatu perencanaan tata kota yang aman, nyaman serta tertib lalu lintas.

7.30
Selepas registrasi, sembari menunggu team IPB lainnya tak lupa mengabadikan diri di tempat yang mungkin entah kapan lagi akan bisa ku kunjungi. Kebetulan sekali, home stay kediaman kami tak sama, malam tadi kami berpisah menuju penginapan masing-masing. Kami, hmm jangan ditanya bagaimana bentuknya. Yang pasti beruntung sekali mendapatkan kediaman yang nyaman serta pemilik rumah yang ramah ini.

Diluar sana, serpihan putih itu masih meliuk liuk indah disekitar halaman, menggoda kami untuk bersamanya kembali, namun teramat maaf harus kukatakan, jemari ini sudah teramat beku . Satu persatu rombongan kami datang, dengan berbagai ekspresi ada yang terlihat masih mengantuk, ada pula yang sudah sangat heboh loncat sana sini dengan berbagai pose. Bagaimana pun ekspresi kalian, mari kita habiskan hari ini teman. Ini adalah hari pertama sekaligus hari terakhir untuk menikmati Hokkaido, karena esok hari petualangan yang dinanti akan dimulai.

8.30
Ruangan sudah penuh sesak, setelah pembukaan kami pun akan digiring ke ruangan masing-masing untuk mempresentasikan hasil karya serta ide penelitian kami. Satu.. dua... tiga. Dan saatnya giliran kami. Nervous, tentunya pasti karena para panelis adalah pakar di masing-masing bidang. Namun hal itu akan pernah menyurutkan semangat kami untuk memberikan yang terbaik. Bagaimanapun nanti hasilnya. Walau tak dihadiri oleh team yang lengkap,  namun semua ini kami persembahkan untukmu teman yang mengiringi langkah kami,

Setelah coffea break, terlibat perbincangan hangat dengan seorang teman team dari UGM dan juga mahasiswa S2 dari Swedia yang aku bahkan tak sempat berkenalan, namun perbincangan itu mengalir bak air yang hendak bermuara. Waktu memaksa kami untuk kembali ke ruangan untuk menyaksikan presentator lain.

17.00
Acara hari ini selesai, agenda terakhir adalah fieldtrip ke Sapporo Snow Festival yang berada tak jauh dari sini. Kami dibagi menjadi beberapa team kecil dengan seorang guide, karena festival yang seramai ini tak akan mungkin jika harus dalam rombongan besar. Menyusuri malam dengan memperhatikan setiap langkah yang akan dialui karena resiko terjatuh akan berkali-kali menghantui. Konon katanya, jika kamu terpeleset dari jalanan beralaskan salju ini, kamu sudah sah dianggap sebagai warga Hokkaido, wawwh. Dan seorang teman bahkan telah menggaet gelar ratu kepeleset karena semakin seringnya ia menghempaskan diri di atas salju. #Peacee yaa. Hehe.

Ibarat pasar malam yang sering diadakan di pusat kota Sungai Penuh di kerinci, pertunjukan aksi-aksi yang menantang adrenalin pun banyak tersaji, penuh tentu saja. namun yang pasti tak akan kami lewatkan malam ini hanya dengan berdiam diri disini,

20.00
Kuperhatikan setiap celah sudut kota ini, namun tak terlihat patung es doraemon sama sekali. kecewa ?? pasti.

20.38
Kecewa itu sedikit lenyap, setelah akhirnya melihat pahatan karya team dari Indonesia meraih gelar ke-tiga dalam festival yuki matsuri ini. Sementara yang pertama diraih oleh team dari Tahiland dengan patung gajah nya. Pahatan batu es dari Indonesia itu menggambarkan seorang penari asal bali yang berada di depan pura. Indah dan cantik sekali. seperti cintaku pada bumi pertiwi, Indonesia.

22.16
Dinginnya semakin menjadi, menggetarkan setiap langkah yang akan terayun. Namun tentu saja perjalanan ini tak akan beakhir sampai disini, karena masih ada satu tempat yang harus dikunjungi, mau tau?? Tak usahlah. :P

10 Februari 2013
5.00
Dinner hasil tangan sendiri itu memang lezat luar biasa, terbukti hingga membuat kami terlelap dengan nyenyaknya. Namun fakta ini pun harus dilalui, karena pagi ini kami harus bersiap untuk meninggalkan Hokkaido kembali. Baru sepersekian detik rasanya namun apalah hendak dikata. Tokyo sudah menanti dengan berjuta cerita.

Telat sebentar saja, maka dipastikan harus menunggu kereta selanjutnya untuk menuju bandara san chitose. Ketepatan waktu dan kedisiplinan inilah yang benar-benar harus ditiru dari orang sini.

7.40
A*r Asia pun melaju, menembus gugusan putih yang terbentang luas. Aku teringat kembali negeri diatas awannya doraemon yang sangat indah. Terbentuk dari sekumpulan awan yang entah aku tak tahu apa namanya. Berjejer dengan indah, rapi sekali. kuabadikan ia dalam satu jepretan. Untuk membedakan ia dengan langit Korea dan Thaiwan yang pernah diberikan seorang kakak kelas untukku.

11.40
Kami mendarat di Narita Airport. Dan inilah petualangan yang akan dimulai. Karena disini, kami tak akan ditunggu oleh panitia yang siap mengantarkan kami kemana saja, namun harus mencari semua informasi itu seorang diri. Untunglah ada seorang teman yang akan kami tuju di tokyo nanti. Namun untuk menuju kesana, harus dijalani dengan seikhlas hati.

Setelah kesana kemari, pilihannya ada dua. Menggunakan bus kota dengan resiko agak mahal, atau dengan kereta yang akan memakan waktu lebih lama. Setelah syuro sejenak *ciyehh bahasanya :D. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih perjalanan dengan kereta.

Tujuan pertama adalah Stasiun Nippori, dan untuk menuju nya kami harus melewati 33 stasiun sebelumnya. Cukup lama memang, namun itu terbayar dengan alam jepang yang menyejukkan mata. Hamparan rumput liar di sekitar sungai, juga rumah-rumah khas dengan gaya arsitektur nya yang sering ku pelajari di dalam kelas. Bentang alam yang sangat indah, lanskap ciptaan tuhan yang tiada tara. Sempat dan pernah kubayangkan sebelumnya, dan kini Ah, aku bisa melihatnya secara nyata. Namun sayang, sakura tidak akan terlihat dalam angan, karena musim dingin ini telah mengubah segalanya.

Seorang turis asal rusia terlihat melongo-longo ke arah kami. Pemandangan yang jarang memang, karena ada segerombolan wanita dengan penutup kepala berwarna merah sama (Baca; Jilbab) berderet dengan koper besar didepannya. Hampir mirip dengan gadis korek api. Hehe
Nigashi hikayama telah terlampaui, aku pernah membaca sebuah novel yang membahas tentang daerah ini, namun mengunjunginya dengan cara loncat keluar dari kereta bukanlah sebuah pilihan yang baik. :D

2.45
Sampai di Shinjuku, menunggu seorang teman yang akan mengantar kami ke penginapan. Sebelumnya kami telah melewati stasiun Shibuya dimana ada patung Hachiko disana, namun harus ditunda sejenak untuk esok hari.

4.50
Kami berpisah, rombongan putri akan menginap di daerah Asakusa, sedangkan kami para pria akan melalui malam di Sakura hotel Ikebukoro.

7.50
Terlampau tak masuk akal jika malam harus dilalui langsung dengan tidur atau bahkan online di penginapan. Maka dari itu, bersama tiga orang teman kami berjalan menyusuri sudut kota yang sangat asing ini. Dengan mengandalkan insting dan peta, menyusuri beberapa sudut kota yang mulai lengang. Hingga akhirnya sampailah kami di sebuah toko takoyaki untuk mengisi perut sejenak. Tak puas, dinnerpun dilalui disekitar jalan raya. Layaknya orang asli sumatera kebanyakan, yang seperti ini bukanlah makan namanya, hanya sebatas snack pencuci mulut dengan nasi yang bahkan tak sebesar  gepalan tangan. Namun bersyukur tentunya adalah hal yang mutlak untuk dilakukan.

Penginapan kami kebetulan berada tidak jauh dari jalan raya, dan namun pada malam hari ini hanya sedikit saja kendaraan yang lalu lalang melintas. Hanya ada beberapa  pria berkostum serba hitam yang berdiri di pinggir jalan terntu. Konon katanya, disini mereka iu adalah salah satu tempat markas para Ya**za .  wowh

11 Februari 2013
6.00
 Hari teakhir untuk menikmati Tokyo dan segala seluk beluknya. Dan hari ini lengkap sudah, kami akan bergegas menuju Asakusa dan melewati malam disana. Banyak sekali cerita hari ini, mulai dari perjalanan menuju Sky tree juga melewati sungai yang sangat bersih di seberang kota.

16.30
Perjalanan menuju Shibuya untuk bertemu dengan patung Hachiko sampai larut malam, lalu dijamu dengan sushi yang juga berukuran sangat mini :D
Mbah goggle ternyata sangat benar dengan menempatkan Tokyo sebagai kota dengan biaya hidup termahal di dunia , pantas saja. lembaran sisa kertas di dompet ini tak berarti apa-apa.

22.13
Sampai di Asakusa kembali

12 Februari 2013
9.30
Sampai di Narita, dan sebentar lagi kami akan kembali ke tanah air, dengan membawa  nilai kehidupan yang telah didapat selama di sini. pulang dengan membawa segudang asa dan mimpi untuk Indonesia yang lebih baik kedepannya.
Banyak yang telah kami lalui. Dua belas anak manusia ini, ternyata sampai juga disebuah negeri yang baru kami rancang angan angan tempo hari. Bengkel Lanskap mungkin akan menjadi saksi bisu disetiap pertemuan kami. Jalanan Thamrin juga mungkin akan selalu bersemayam di dalam hati. Dan yang pasti stasiun Gondangdia juga akan selalu kami kenang, karena dari sanalah semua nya berawal. Perjalanan ini sungguh tak akan berarti jika hanya dilalui seorang diri. Tawa, tangis mungkin akan menjadi suatu mozaik sendiri yang akan terangkai dengan indah. Menjadi sebuah kisah, bahwa mimpi memang bukan sekedar asa.

Alhamdulillah, terimakasih Allah atas segala karunia yang telah diberi. Atas semua perjalanan indah selama musim dingin ini. Tak dapat diukur apalagi dihitung dengan angka. Belajar langsung dari alam, memaknai falsafah kehidupan.

Banyak hal yang tak akan bisa terungkap melalui kata dan yang pasti Inilah alasan mengapa perlulah aku keliling dunia, agar bisa  melihat lebih dekat, bisa menyentuh dan merasakan sisi pesona kehidupan lain dan insyaAllah aku akan mengerti (DDS)

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu". (QR Nuh 19-20) 

Special Tag:
Sabaidee team : Rizky, Cena, Dimas, Salman, Lohot, Fia, Ka Nadya, Ka Sherly, Yeni, Mey, Bertha.  Terujar dalam do’a, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali di tanah dan langit yang berbeda.
Superteam Luar biasa :Bagus, Tian, Dessi, Semi, Ifa Superteam Luar biasa..
Inspiring : Ka Huda, Mba Desty, Ka Potter.
 Ninis, Ari, Wisnu,Iji,Dencong, Jeki,Nisa, ka Dody, Azizah, dan semua yang tak bersebut nama, Makasi banyak bantuannya.

                                                                                                            Di bawah rahmat Allah
                                                                                                       Narita, 11.40 12 February 2013

 yoni elviandri